Minggu, 22 Mei 2016

Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Sepulang dari menghadiri undangan paparan SMART Health di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (17/02), saya sempat mengunjungi Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat di daerah Lawang. Namun, pada waktu itu museumnya sudah tutup karena kesorean. Kemudian berencana hari Sabtunya mau berkunjung lagi tapi ternyata kalau hari Sabtu dan Minggu atau tanggal merah, museum ini juga tutup.
Kesempatan pun tersebut tertunda. Saya menganggapnya belum rezeki. Selang beberapa bulan, tiba-tiba saya mendapat undangan lagi untuk ke Malang. Akhirnya, moment ini yang saya jadikan waktu untuk mengunjungi museum ini lagi. Karena acara pertemuan pada siang hari, paginya saya berusaha meluncur ke sana, dan kesampaianlah berkunjung ke Museum Kesehatan Jiwa ini. Museum ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 1 Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di lingkungan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, atau tepat berada di samping Playgorup atau TK Dharma Wanita Persatuan RSJ Dr. Radjiman.


Sesuai namanya, keberadaan museum ini terkait dengan perjalanan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat yang berdiri pada 23 Juni 1902. Karena yang menggagas dan mendirikan museum ini adalah RSJ tersebut. Idenya berawal pada waktu RSJ memasuki usia satu abad, ketika RSJ mengadakan pameran perjalanan RSJ dengan berbagai koleksi yang dimilikinya di Pendopo RSJ. Dari situlah, jajaran direksi mempertimbangkan untuk mendirikan sebuah museum yang bisa menampung koleksi yang dimiliki RSJ. Karena selama koleksi-koleksi RSJ hanya ditempatkan di sebuah gudang saja, tanpa diketahui masyarakat umum dan menjadi kumuh.
Dengan menempati bangunan kuno yang berada di lingkungan RSJ ini, Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat diresmikan bertepatan dengan HUT RSJ Dr.Radjiman Wediodiningrat yang ke-107 (23 Juni 2009) oleh Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI, Dr. Farid Husein, MPH.
Pengumpulan benda-benda kuno ini sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama keluarga besar RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat dalam upaya mewujudkan cita-cita luhur merangkaikan kembali sejarah melalui media benda-benda kuno dan dokumen pendukung sebagai bukti perjalanan sejarah perkembangan kesehatan jiwa di Indonesia.
Tujuan dari pendirian museum ini adalah sebagai wahana bagi semua yang peduli untuk merangkaikan kembali berbagai kepingan kisah yang terserak, untuk merekatkan kembali berbagai serpihan artefak yang terkoyak, dan untuk tanpa henti memahami serta mensyukuri keberadaan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai bagian penting sejarah kesehatan jiwa di Indonesia yang panjang, unik, dan dinamis.

Koleksi Museum
Seperti pada umumnya, museum ini juga mempunyai ruangan untuk memajang atau memamerkan beberapa koleksi yang dimiliki oleh museum tersebut. Namun, nama-nama ruang pamer tersebut memiliki nama yang tidak lazim pada sebuah museum, seperti Ruang Tamu, Ruang Direktur, Ruang Preventif/Promotif, Ruang Kuratif, Ruang Penunjang, Ruang Pepustakaan, dan Ruang Rehabilitasi.
Penamaan ruang pamer tersebut mencerminkan tahapan-tahapan dalam aktivitas pada RSJ tersebut.

Ruang Tamu
Di dalam ruangan ini berisi documentary story board terpampang di dinding sebagai salah satu keping penting mozaik sejarah kesehatan mental di Indonesia, biografi Dr. Radjiman Wdiodiningrat, denah alur pengunjung museum, prasasti peresmian, dan banner berupa jam kunjung museum.
Selain itu, juga ada story line yang berceritera dari pengalaman RSJ tersebut, berbunyi: “ ... Ketidaktahuan akan gangguan jiwa di masa silam meninggalkan jejak kelam bagi penyandang dan keluarganya.”

Ruang Direktur
Ruang ini menampilkan seperangkat ruang kerja Direktur RSJ tersebut. Ada meja terbuat dari kayu jati pilihan yang dulu pernah digunakan oleh direktur RSJ, lengkap dengan kursinya. Di atasnya terdapat mesin ketik dan telepon zaman dulu, serta lonceng kecil yang digunakan untuk memanggil bawahannya.
Di ruangan ini juga terdapat beberapa Staatblad dan buku-buku lawas perihal kesehatan jiwa yang disusun rapi di dalam rak di samping meja sang direktur. Selain itu, juga terpampang 18 foto direktur yang pernah menjabat di RSJ ini, mulai dari orang Belanda sampai ke orang pribumi.


Ruang Preventif/Promotif
Pada ruangan ini terdapat koleksi tua nan unik berupa proyektor film yang berbahan plat besi dengan ukuran tinggi 160 cm, dan lebar 120 cm. Tahun pembuatan proyektor film ini adalah tahun 1950.
Proyektor adalah sebuah alat optik yang digunakan untuk menampilkan gambar di sebuah media layar atau permukaan yang serupa. Proyektor film ini berfungsi sebagai sarana rehabilitasi pasien, sekaligus sebagai sarana hiburan dan sosialisasi bagi pegawai dan masyarakat sekitar. Proyektor ini digunakan sejak mulai tahun 1950 hingga tahun 1970.
Selain itu, di dalam ruangan ini juga terdapat gamelan yang konon dimainkan di pendopo untuk fungsi rehabilitatif bagi pasiennya.

Ruang Kuratif
Di ruang kuratif ini ditampilkan sejumlah koleksi museum yang berhubungan dengan penanganan pasien sakit jiwa. Di situ terdapat replika pasung yang disertai story line yang menyentuh kalbu. Acapkali ketidaktahuan dan ketakutan, masyarakat kehabisan akal untuk menangani saudara-saudara kita, yang kebetulan menyandang gangguan jiwa.
Mereka harus merelakan kebebasannya dibatasi oleh balok kayu yang berat atau rantai besi yang kokoh, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dasar atau sekadar menikmati matahari sebagai manusia yang bebas. Cobalah psangkan pasung ini di kaki Anda barang 10 menit, dan rasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita tersebut. “Jiwa Terasing, Raga Terpasung.”
Selain itu, di ruangan ini juga terdapat janin yang diawetkan, alat merendam pasien, straight jacket, dan beberapa story line tokoh-tokoh psikiatri dunia. Sejarah mencatat penanganan pasien jiwa sebelum mengenal pengobatan modern, sudah ada cara-cara terapi yang dianggap bisa menenteramkan, misalnya dengan perendaman (permanete baden) dan dibungkus (straight jacket).


Ruang Penunjang
Ruangan ini memajang sejumlah peralatan yang pernah digunakan di RSJ Dr. RadjimanWediodiningrat ini yang pada umumnya peninggalan kolonial Belanda, seperti wastafel, seterika arang, mikroskop, timbangan badan, alat laksatif, alat sentirfugal, dan lain-lain.
Dari masing-masing alat perlengkapan yang ditampilkan, dilengkapi dengan story line. Sehingga, akan memudahkan pengunjung untuk mengetahuinya.

Ruang Perpustakaan
Sepintas, pembaca akan menebak apa yang dipajang dalam ruang perpustakaan ini. Pastilah berupa deretan buku, atau kepustakaan lainnya. Ternyata tidaklah seperti itu.
Di ruangan ini, terdapat pisau potong otak sebagai penanda aktivitas penelitian awal yang dilakukan di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat. Pada kurun waktu 1929-1940, pasien-pasien di RSJ ini, KOSD Sempu dan KOSD Suko ditangani oleh tujuh orang dokter dan satu orang profesor wanita yang khusus melakukan penelitian otak.
Di dalam ruangan ini, juga terdapat Human Skelatal yang berada di dalam almari kaca, berdampingan dengan lonceng besar yang dulu di pasang di menara sebagai penanda makan siang bagi pasien dengan dibunyikannya lonceng tersebut. Selain itu, ada juga teropong dan samurai yang ditempelkan di tembok.


Ruang Rahabilitasi
Ruangan ini menampilkan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan program rehabilitasi yang dilakukan oleh RSJ pada waktu itu. Semua orang memiliki bakat dan kemampuan, tak terkecuali penyandang gangguan jiwa. Membantu mereka agar mampu mempertahankan kemampuannya yang tersisa dan memanfaatkannya untuk kelangsungan hidup, adalah kewajiban kita semua.
Di ruangan ini terdapat alat perajang tembakau, alat tenun kain, alat pembuat dan pembuka tutup botol, meja biliard, dan sejumlah lukisan. Petugas museum menunjukkan kepada saya, sebuah lukisan berukuran 1,85 x 1,25 meter yang berbahan minyak cat dan tripleks. Lukisan Gatutkaca dan Pergiwa Pergiwati ini dilukis oleh seorang rehabilitan dengan meniru salah satu karya maestro Indonesia, Basuki Abdullah, dan pernah dipinjam oleh Museum Basuki Abdullah untuk pameran.
Melukis dan berbagai kegiatan lainny, seperti mendengarkan musik, memainkan alat musik, menulis, menenun, memasak bahkan mandi, merupakan salah satu metode terapi yang sangat dianjurkan kepada penderita gangguan jiwa.
Selain itu, di ruangan ini juga terdapat instalasi komunikasi yang berbahan kayu, logam, plastik dan kabel. Peralatan komunikasi ini terdiri dari pesawat telepon, panel telepon dan almari saluran telepon yang digunakan oleh seorang operator saat itu, antara tahun 1950 hingga tahun 1980-an, untuk mengatur kegiatan komunikasi, baik secara internal (dalam RSJ) maupun interlokal (keluar RSJ). Meskipun terkesan rumit, karena belum tersentuh oleh teknologi canggih, namun perannya sungguh tak dapat dipungkiri. *** [180516]

0 komentar:

Posting Komentar