Selasa, 06 Desember 2016

Sejarah Singkat Desa Sidorahayu

Desa Sidorahayu merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu antara 450 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan data BPS Kabupaten Malang tahun 2010, curah hujan rata-rata mencapai 217 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Sidorahayu tahun 2015, jumlah penduduknya adalah 8.802 orang dengan jumlah 2.605 KK dengan luas wilayah 441,678 hektar. Desa Sidorahayu terdiri atas lima dusun, yaitu Dusun Tulusayu, Dusun Niwen, Dusun Bunder, Dusun Losari, dan Dusun Bunton. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam sektor pertanian yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, di samping ada juga yang menjadi buruh pabrik rokok mengingat di daerah Kecamatan Wagir dan sekitarnya banyak berdiri perusahaan rokok.
Secara administratif, Desa Sidorahayu dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Jarak tempuh Desa Sidorahayu ke ibu kota Kecamatan Wagir yaitu sekitar 1 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Malang adalah sekitar 7 kilometer.
Dalam Profil Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang Tahun 2015, diceriterakan bahwa desa ini awalnya dikenal dengan Desa Banjar Rejo dengan lurahnya yang bernama Ki Demang Harum. Ki Demang Harum dikenal sebagai Kepala Desa yang baik budi lagi dermawan.
Kebaikan Ki Demang Harum tersebut cukup memiliki kharisma dan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya, sehingga sampai sekarang setiap bulan Syawal makamnya selalu ramai dikunjungi orang dalam acara bersih dusun mengingat jasa beliau sebagai seorang yang bedah krawang desa atau babat alas. Makam beliau berada di Dusun Niwen (krajan).
Menurut Suwardono, dosen Sejarah IKIP Budi Utomo Malang, Niwen dulunya merupakan desa kuno yang bernama Peniwen yang tercatat dalam prasasti Pamotoh yang dikeluarkan semasa Kerajaan Kediri. Prasasti ini diresmikan pada tanggal 6 bulan Posha (Desember-Januari) tahun 1120 Çaka atau bertepatan dengan tahun 1198 Masehi.
Sebagai desa induk Peniwen justru namanya diganti nama baru seperti Bakalan Krajan dan Sidorahayu, sedangkan Peniwen atau toponimi dari Niwen malah sekarang menjadi nama dusun bagian dari Desa Sidorahayu. Penggantian nama menjadi Desa Sidorahayu sendiri terjadi pada tahun 1928. Nama Sidorahayu disematkan menjadi nama desa dengan harapan semua masyarakat menjadikan desa ini menjadi desa yang rahayu atau selamat serta bagus. Adapun yang menjadi kepala desa yang pertama adalah Djojoarjo (1928-1947).  *** [211116]

Kepustakaan:
Peraturan Desa Sidorahayu Nomor 8 tentang RPJM-Des Tahun 2013-2018
http://malang-post.com/index.php?option=com_content&view=article&id=65593/peneliti-temukan-artefak-desa-kuno&catid=46:tribunngalam&Itemid=71

0 komentar:

Posting Komentar