Selasa, 21 Februari 2017

Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta

Panti Wredha berasal dari gabungan dua kata, yaitu panti dan wredha. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), panti yang berasal dari bahasa Jawa tersebut, memiliki arti rumah, tempat atau kediaman. Sedangkan, wredha bermakna lanjut usia atau tua. Jadi, yang dimaksud dengan Panti Wredha adalah rumah atau tempat untuk mengurus dan merawat orang jompo yang terlantar.
Panti Wredha Dharma Bhakti merupakan tempat untuk mengurus dan merawat orang yang telah lanjut usia atau jompo. Panti Wredha ini terletak di Jalan Dr. Radjiman No. 620 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi panti ini berada di sebelah barat Pasar Jongke, atau tepatnya berada di samping SPBU Jongke.
Tak banyak warga Solo yang mengetahui riwayat dari bangunan Panti Wredha ini, padahal bangunan Panti Wredha ini sudah ada pada waktu Solo masih berbentuk kerajaan. Dulu, bangunan Panti Wredha ini dikenal dengan sebutan Griya Wangkung. Asal nama Wangkung tersebut berawal dari tafsiran di kalangan masyarakat sekitar, yang berasal dari kata wong terkungkung atau orang yang terkungkung atau terasing.
Tafsiran ini memang muncul karena ketika didirikan, bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat khusus untuk menampung penyandang masalah sosial. Mereka yang menyadang permasalahan kesejahteraan sosial atau pun bermasalah dalam kehidupan sosial, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah membuat tempat khusus untuk menampung mereka.


Kanjeng Raden Mas Haryo (K.R.M.H) Woerjaningrat dalam Pengetan Lelampahandalem K.R.A. Sosorodiningrat IV (1956) menyebutkan bahwa “Yasa griya miskin Wangkung, kangge ngopeni tiyang-tiyang ingkang papariman saha lare-lare ingkang mboten kopen; ing ngriku sami dipun sinau, sagedipun migunani kangge masyarakat” (Membuat Griya Miskin Wangkung, untuk memelihara orang-orang yang mengemis dan anak-anak yang tidak terurus; di situ mereka bisa belajar, agar supaya dapat berguna bagi masyarakat).
Griya Wangkung tersebut dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati (K.R.A.) Sosrodiningrat IV, atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X, pada Tahun Dal 1839 (tahun Jawa) atau 1910 Masehi. K.R.A. Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada masa bertahtanya PB IX dan PB X.
Setelah Indonesia merdeka, kewenangan pengelolaan dari Griya Wangkung dialihkan ke Pemerintah Kotamadia Dati II Surakarta, yang dalam hal ini Dinas Sosial. Setelah alih pengelolaan ini, bergantilah namanya menjadi Panti Karya Pamardi Karya (PKPK). PKPK mempunyai fungsi menjadi tempat menampung orang-orang gelandangan. Selanjutnya dengan dasar Surat Perintah Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah tertanggal 3 September 1977, dilakukan perubahan kembali baik nama maupun fungsinya. Panti ini dikhususkan untuk menampung orang-orang lanjut usia atau jompo yang terlantar, yang kemudian diberi nama Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.
Dalam perkembangannya, pada tahun 1993 keluarlah Keputusan Walikota Nomor 061.1/017/I/1993 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Setelah adanya Keputusan Walikota tersebut, pembangunan Panti Wredha ini semakin gencar dilakukan. Mengingat panti ini mulai dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta, yang dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Sosial meskipun dalam pendanaan Pemerintah Provinsi juga masih membantu.
Panti yang berdiri di atas lahan seluas 3.500 m² ini, sekarang tempat tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu untuk lanjut usia Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta, untuk penyandang tuna netra dan tuna rungu wicara Panti Bhakti Chandrasa, dan untuk wanita tuna susila Panti Karya Wanita Utama.
Bangunan Panti Wredha ini sesuai historisnya, ditetapkan oleh Pemkot Surakarta melalui Keputusan Kepala Dinas Tata Ruang Kota Nomor 646/40/I/2014 sebagai bangunan yang dianggap telah memenuhi kriteria sebagai cagar budaya sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tetang Cagar Budaya. *** [170217]

0 komentar:

Posting Komentar