Rabu, 29 Maret 2017

Sejarah Singkat Desa Dilem


Desa Dilem merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini rata-rata 2000 meter di atas permukaan air laut, sehingga memungkinkan berhawa sedang dengan suhu 20 - 35 Celcius dan memiliki permukaan tanah yang datar.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Dilem tahun 2014, jumlah penduduknya adalah 5.138 orang dengan jumlah 1.768 KK dengan luas wilayah 216,331 hektar. Desa Dilem terdiri atas dua dusun, yaitu Dusun Ngantru, dan Dusun Lemah Duwur. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam sektor pertanian yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, di samping ada juga yang bekerja pada sektor industri dan jasa mengingat di daerah Kecamatan Kepanjen merupakan ibu kota Kabupaten Malang.
Secara administratif, Desa Dilem dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Ngadilangkung. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Talangagung dan Desa Ngadilangkung. Di sisi selatan berbatasan dengan Kelurahan Kepanjen, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Ngadilangkung, Kelurahan Ardirejo, dan Kelurahan Kepanjen. Jarak tempuh Desa Dilem ke ibu kota Kecamatan Kecamatan yaitu sekitar 1,5 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Malang adalah sekitar 2,5 kilometer.
Dalam skripsinya yang berjudul ‘Pandangan Tokoh Masyarakat Terhadap Tradisi Perkawinan Kerubuhan Gunung, Studi Perkawinan di Desa Dilem Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang’ (2015), Lailatus Sumarlin menceriterakan bahwa ada dua ceritera dari penuturan sesepuh terdahulu di Desa Dilem.
Pertama, wilayah Desa Dilem ini dulunya merupakan kaputren, yaitu suatu tempat tinggal para wanita atau putri yang cantik jelita serta menjadi tempat tinggalnya dayang cantik dari Kerajaan Jenggolo Manik. Karena sangat cantiknya, banyak dipuji dari kerajaan atau wilayah lain. Kata ‘dipuji’ tersebut bila dialihbahasakan ke dalam bahasa Jawa, muncul kata ‘di elem’. Seiring perjalanan waktu, kata ‘di elem’ tersebut berubah menjadi Dilem. Hal ini diperkuat dengan banyaknya temuan berupa bebatuan dan sumber air besar di bawah pohon seruni yang umurnya telah mencapai ratusan tahun. Temuan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa wilayah ini dulunya memang benar-benar merupakan tempat para putri yang cantik jelita.
Sedangkan ceritera yang kedua, dituturkan bahwa pada zaman dahulu di desa ini banyak terdapat pohon perdu yang oleh masyarakat setempat menyebutnya dengan nama pohon dilem. Pohon ini dikenal sering mengeluarkan bau yang harum semerbak wanginya, sehingga pohon ini acapkali dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan minyak wangi. Namun, sekarang keberadaan pohon ini sudah tidak diketemukan di desa ini.
Meski kapan waktu nama Dilem disematkan pada desa ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi melihat dari kedua ceritera atau penuturan di atas, dapat dibayangkan bahwa Desa Dilem termasuk sebuah desa yang sudah tua keberadaannya. *** [290317]


0 komentar:

Posting Komentar