Senin, 19 Juni 2017

Toko Lautan Mas Jakarta

Toko Lautan Mas sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar mancing mania. Toko ini menyediakan semua peralatan dan perlengkapan yang menyangkut fishing, mulai dari alat pancing hingga peralatan menyelam. Toko ini terletak di Jalan Toko Tiga No. 24 RT. 03 RW. 01 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lokasi toko ini berada di sebelah selatan PT. Sinar Saudara Baru (Supplier Kertas) dan di sebelah utara PT. Embossindo Utara (Supplier Kertas).
Selain terkenal akan kelengkapannya, Toko Lautan Mas juga tetap mempertahankan bentuk bangunan aslinya. Bangunan lawas bergaya Tiongkok ini menyimpan ceritera masa lampau yang penuh haru biru. Bangunan Toko Lautan Mas ini dulunya merupakan bekas kediaman dan sekaligus tempat usaha tembakau Liutenant der Chinezen (Letnan Tionghoa) Oey Thoa yang berasal dari Pekalongan.
Benny Gatot Setiono dalam bukunya, Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2008: 223-226) menjelaskan, bahwa Oey Thoa adalah seorang saudagar tembakau yang kaya raya, anggota pengurus Kongkoan yang bertempat tinggal di daerah Toko Tiga, dekat Glodok, Jakarta sekitar 1837. Oey Thoa mempunyai sahabat karib Majoor der Chinezen (Mayor Tionghoa) Tan Eng Gan yang menjadi Ketua Dewan Tionghoa atau Kongkoan.
Walaupun Oey Thoa pendatang, tetapi karena berjiwa sosial dan sering memberikan pertolongan kepada orang-orang yang tidak mampu, namanya cukup dikenal. Setiap tanggal satu dan lima belas kalender Tionghoa, ratusan orang miskin telah menantinya di Klenteng Kim Tek Ie, tempat ia melakukan ibadahnya, untuk menantikan saat-saat ia membagikan bantuannya.


Oey Thoa mempunyai empat orang anak. Yang pertama seorang perempuan yang kemudian dipersunting oleh anak laki-laki Bupati Pekalongan kala itu. Yang kedua seorang anak laki-laki bernama Oey Holan, ketiga Oey Tambah dan yang keempat bernama Oey Mako.
Ketika Oey Thoa meninggal dunia, Oey Tambah Sia yang ganteng mengambil alih kendali perusahaan ayahnya. Kata ‘Sia’ dibelakang nama Oey Tambah, sebenarnya bukan merupakan bagian nama melainkan sebutan yang bisa digunakan dalam kalangan masyarakat Tionghoa peranakan di Jakarta zaman itu, untuk menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan anak seorang opsir Tionghoa.
Tapi, berbeda dengan ayahnya, Oey Tambah Sia ternyata mempunyai sifat yang sangat buruk. Kesukaannya selain bermain perempuan, berjudi, dan adu jago juga mengisap madat. Ia memelihara beberapa tukang pukul dan germo yang setiap saat siap mensuplai perempuan yang dibutuhkannya, baik yang berstatus gadis maupun istri orang.
Sikap Oey Tambah Sia sangat arogan dan memandang rendah para pemimpin Tionghoa yang menjadi sahabat ayahnya. Dengan mempergunakan kekayaannya, ia memelihara hubungan baik dengan para pembesar Hindia Belanda yang ternyata juga banyak yang korup dan bersedia menjadi pelindungnnya. Ia merasa dengan uangnya ia dapat memperoleh segala apa pun yang ia inginkan, tanpa menghiraukan kerugian yang ia timbulkan kepada orang lain.
Dengan bantuan para tukang pukulnya dan seorang germo, Oey Tambah Sia berhasil merayu Nyonya Khoe Tjin Yang. Nyonya Khoe Tjin Yang adalah istri pedagang kelontong di Tongkangan dan menyimpannya di bungalow Bintang Mas di daerah Ancol yang khusus dibangun untuk berfoya-foya. Suami perempuan tersebut akhirnya menjadi gila dan kemudian hilang, yang menurut dugaan dibunuh oleh tukang pukul Oey Tambah Sia. Selain Nyonya Khoe Tjin Yang, dengan mengandalkan uang dan ketampanannya di tempat tersebut hampir setiap hari ia berfoya-foya dengan perempuan lainnya tanpa peduli gadis baik-baik ataupun istri orang.
Para pemimpin masyarakat Tionghoa yang tergabung dalam Kongkoan telah berkali-kali mengadakan rapat dan mendesak Mayor Tan Eng Gan untuk bertindak menghentikan perbuatan Oey Tambah Sia yang merusak dan memalukan tersebut. Tapi, karena Oey Thoa semasa hidupnya sering memberikan bantuan keuangan kepada mayor Tan Eng Gan maka dengan berbagai alasan yang dicari-cari, Tan Eng Gan selalu meminta kepada anggota Dewan agar memberikan kesempatan kepada Oey Tambah Sia untuk memperbaiki diri.
Sikap Mayor Tan Eng Gan tersebut tidak memuaskan anggota Dewan dan mereka tetap mendesak agar diambil sikap yang tegas untuk menghentikan perbuatan Oey Tambah Sia. Tan Eng Gan akhirnya terdesak dan berjanji akan bertindak dan memberikan peringatan kepada Oey Tambah Sia agar menghentikan perbuatan dan tingkah lakunya yang buruk tersebut.
Namun, malah kemudian Oey Tambah Sia dengan rayuan dan uangnya, berhasil memboyong Mas Adjeng Gundjing. Ia adalah pesinden asal Pekalongan yang sangat terkenal, baik kecantikannya maupun kepandaiannya menyanyi dan menari. Mas Adjeng Gundjing kemudian disimpan di landhuis-nya di daerah Pasar Baru, Tangerang dan dijadikan gundiknya. Karena kesalahpahaman yang menimbulkan kecemberuan, yang mengira Sutedjo kakak kandung Mas Adjeng Gundjing sebagai kekasihnya, Oey Tambah Sia menyuruh Piun dan Sura, tukang pukulnya untuk membunuhnya.
Selanjutnya, karena ingin menfitnah Lim Soe Keng (menantu dari Mayor Tan Eng Gan), Oey Tambah Sia dengan tega meracuni Tjeng Kie pembantunya yang setia. Namun, tuduhannya terhadap Lim Soe Keng ternyat tidak terbukti. Dan, investigasi yang dilakukan oleh Mayor Tan Eng Gan dan Lim Soe Keng dengan dibantu para pemimpin masyarakat Tionghoa lainnya, berhasil membawa Oey Tambah Sia ke tahanan polisi.
Pengadilan (landraad) yang berlangsung dengan dihadiri ratusan penduduk Batavia dan sekitarnya, akhirnya menjatuhkan hukuman gantung sampai mati di muka umum kepada Oey Tambah Sia. Usaha keluarganya untuk aik banding ke pengadilan yang telah tinggi (raad van justitie) tidak berhasil. Demikian juga permohonan grasi kepada gubernur jenderal ditolak.
Demekianlah, pada 1851, Oey Tambah Sia harus menjalani hukuman gantung sampai mati yang dilaksanakan pada saat fajar. Eksekusi dilakukan di lapangan di muka Stadhuis atau balai kota yang sekarang bernama Taman Fatahillah.  *** [060516]

Kepustakaan:
Setiono, Benny G. (2008). Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Jakarta: TransMedia Pustaka

0 komentar:

Posting Komentar