Senin, 03 Juli 2017

Stasiun Kereta Api Kalimenur

Stasiun Kereta Api Kalimenur (KLR) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kalimenur, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 35 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api kelas III yang sudah berhenti beroperasi sejak tahun 1974. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kalimenur, Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi stasiun ini berada sebelah barat daya SDN Kalimenur ± 500 m.
Bangunan Stasiun Kalimenur ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Yogyakarta-Maos yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1877 sebagai lanjutan dari proyek jalur Solobalapan-Yogyakarta. Jalur sepanjang 155 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Yogyakarta di sebelah timur menuju ke Maos di sebelah barat.
Dulu, Stasiun Kalimenur ini bersama dengan Stasiun Kedundang pernah menjadi dua stasiun terbesar di Kabupaten Kulon Progo. Stasiun Wates dan Stasiun Sentolo masih kalah besar dan kalah ramai dibandingkan dengan kedua stasiun ini.
Di Stasiun Kalimenur ini, dulunya dikenal dengan sebutan Stasiun Tahu karena kebanyak dari penggunan jasa kereta api uap adalah pengrajin tahu dari daerah Tuksono, Sentolo yang akan berjualan ke Yogyakarta dan Kutoarjo. Selain itu, para penumpang waktu itu juga para pedagang sayur maupun pelajar dari daerah Kulon Progo yang akan belajar ke Yogyakarta. Para pedagang sayur kala itu membawa hasil kebun atau hasil pertanian, seperti beras, kelapa, pisang, sayur, jagung dan ayam.
Stasiun ini memiliki 2 jalur, yang dulunya jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, menuju ke Stasiun Wates ke arah barat dan menuju ke Stasiun Sentolo ke arah timur. Stasiun ini telah berhenti beroperasi pada tahun 1974 dengan alasan berada di jalur tikungan dan lintasan berkecepatan tinggi.
Stasiun yang sudah mangkrak selama 43 tahun ini sebenarnya masih terlihat kokoh, hanya saja bangunan stasiunnya tampat kurang terawat. Kondisinya lusuh dan banyak coretan-coretan di dindingnya akibat vandalisme. Sungguh amat disayangkan sebenarnya, bila bangunan besejarah tersebut harus mangkrak begitu saja. Seandainya disentuh dengan ide kreatif sedikit oleh pihak yang berwenang, sebenarnya bangunan stasiun tersebut bisa disulap menjadi museum mini perkeretaapian di Kabupaten Kulon Progo. Di samping bangunannya terawat dengan baik, juga akan turut mengembangkan kepariwisataan di Kabupaten Kulon Progo. *** [030717]

0 komentar:

Posting Komentar