Senin, 07 Agustus 2017

GKJW Jemaat Wonorejo

Sewaktu diajak ibu-ibu Kader Kepanjen bepergian ke Pantai Batu Bengkung, tanpa sengaja melintasi sebuah bangunan gereja tua yang memiliki arsitektur yang khas yang berdiri di tepi jalan raya menuju pantai Balekambang. Gereja tua itu bernama Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Wonorejo.  Gereja ini terletak di Jalan Wonokerto-Bantur, Desa Wonorejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Gereja ini berada di sebelah timur Mushola Al Hikmah, atau sebelah utara Balai Desa Wonorejo ± 300 m.
GKJW  Jemaat Wonorejo merupakan salah satu gereja pribumi yang tersebar di wilayah Jawa Timur, dan bersifat sinodal. Munculnya jemaat di desa ini tidak lepas dari berdirinya Desa Wonoreja sebagai sebuah Desa Kristen yang berada di wilayah Malang Selatan. Para penduduk bumiputra pada awal kehadiran Kristen di Malang memiliki peran yang tidak kecil terutama sebagai pembuka desa. Di Malang Selatan, ketika dilakukan pembukaan desa-desa baru, biasanya dipimpin oleh seorang bumiputra Kristen. Mereka membuka desa baru dengan membuka hutan belantara yang tidak dihuni dan memenuhi syarat untuk dittinggali. Ini terjadi pada pembukaan hutan yang kemudian menjadi Desa Kristen Wonorejo. Wolterbeek (dikutip dari Shinta Dwi Prasasti, 2012: 36) menyebutkan “nalika taoen 1884 wonten tijang ingkang sami wiwit mbabad wana wonten ing Wonoredjo prenahipun ing tenggeran sakidoelipoen Swaroe, tjelak doesoen onderdistrict Bantoer”.


Dalam sejarah Desa Wonorejo dijelaskan bahwa orang yang berperan dalam melanjutkan babad alas ialah Kyai Trunasemita. Ia adalah putra kedua Ki Ibrahim Tunggul Wulung, tokoh bedhah krawang (babad alas) komunitas Wonorejo, asal dari Juwana, Pati, yang sempat bertapa di lereng Gunung Kelud, dan memeluk agama Kristen sejak dibaptiskan pada 6 Juli 1857 di bawah asuhan Pendeta J.E. Jellesma (Pasamuwan Mojowarno-Jombang).
Kyai Trunasemita bersama Jakubus Mangun dan Eprajim membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan permukiman di daerah Wonorejo. Ketiga orang itu merupakan pelopor penduduk bumiputra yang menjadi pembuka desa tersebut. Keberadaan perintis desa memiliki arti penting dalam kehidupan sosial budaya desa tersebut. Para perintis desa memang pada tahap selanjutnya juga bisa menjadi pemimpin desa, yang kemudian membawa desa itu menjadi desa Kristen yang memiliki basis ekonomi pertanian.


Langkah selanjutnya setelah pembukaan desa bagi jemaat Kristen adalah pengasuhan jemaat. Kurangnya jumlah pendeta Zending dan sikap antipasti zendeling pada bumiputra membuat salah seorang zendeling yaitu Jellesma tertarik untuk mendidik penduduk bumiputra menjadi pekabar Injil untuk masyarakat mereka. Pendidikan ini membuahkan hasil para guru Injil yang nantinya biasa memegang peran penting pada tiap jemaat Kristen yang baru terbentuk. Di desa-desa Kristen, penduduk bumiputra memiliki peran juga sebagai guru Injil. Begitu juga dengan Wonorejo, menurut Wolterbeek (dikutip dari Shinta Dwi Prasasti, 2012: 38) “Ingkang dados panoentoen kawitan ing ngrikoe poenika goeroe Indjil Rasidin.”
Pada awal berdirinya desa Kristen posisi guru Injil memang kerap berhubungan dengan pembuka desa. Kedua posisi ini dipegang oleh dua orang yang berbeda. Namun posisi pemimpin desa setelah masa jabatannya habis bisa juga menjadi guru Injil pada desa yang sama.


Setelah komunitas Kristen mulai terbentuk di Desa Wonorejo, jemaat mulai memikirkan untuk mendirikan sebuah tempat ibadah atau gereja. Tempat ibadah merupakan salah satu sarana yang penting dalam proses penyebaran suatu agama. Begitu juga kehadiran desa Kristen di Wonorejo, juga diikuti dengan keberadaan tempat ibadah, sekalipun semula dalam kondisi keterbatasan dana dan bahan.
Awalnya, tempat ibadah komunitas Kristen di desa itu berada di rumah tetua jemaat. Kemudian gereja di Desa Wonorejo telah mengalami dua kali perpindahan lokasi hingga di lokasi yang sekarang ini. Sayangnya, pembangunan gereja seperti yang tampak sekarang ini tidak ada catatan resmi yang menjelaskan secara rinci. Diperkirakan pembangunannya dilakukan setelah pendirian terlebih dahulu gereja di Swaru (3 Desember 1912), karena di sejumlah literatur yang ada, perkembangan GKJW di daerah Malang diawali di Swaru (1857), Peniwen (1880) dan disusul Wonorejo-Bantur (1887).
Dilihat dari fasadnya, bangunan GKJW Jemaat Wonorejo memiliki gaya arsitektur bangunan gereja yang ada di Eropa pada umumnya. Beratap limasan dengan kemiringan. Hanya saja tidak ada porch ruang masuk pintu utama, yang ada porch di bagian belakang gereja.
Pintu utama terletak di bagian depan di sisi kiri dan kanan. Pintunya lumayan tinggi, dan di atasnya terdapat lengkungan. Sedangkan, letak  jendela berderet pada dinding sisi kiri dan kanan dari bangunan yang simetris ini. Perletakan jendela yang cukup tinggi ini mempunyai fungsi sebagai sirkulasi udara agar udara yang berada di dalam gereja tidak terlalu kering, sehingga kesejukan tetap terjaga.
Yang menarik lagi dari bangunan gereja ini, di bawah gevel terdapat tulisan dengan menggunakan aksara Jawa yang berbunyi: “Allah Ingkang Murbeng Wisesa Kaluhuran Aswata”, yang artinya Allah yang mempunyai kebijaksanaan dan hikmat adalah sumber kebaikan hidup. Maka, harapannya dengan berdirinya gereja itu, diharapkan jemaat Wonorejo memuliakan nama-Nya. *** [050817]

Kepustakaan:
Prasasti, Shinta Dwi. (2012). Peranan Penduduk Bumiputera Dalam Proses Penyebaran Agama Kristen di Malang Tahun 1857-1931. Bulletin Narasimha No. 5/V/2012, hal. 36-43
http://desawonorejo2.blogspot.co.id/2014/07/sejarah-desa-wonorejo.html
http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel044E0D9CB8C7E8E91C8F7B9F9C7747B0.pdf

0 komentar:

Posting Komentar