Wednesday, September 20, 2017

Masjid Al Fatih Kepatihan Surakarta

Setelah mengekplorasi Dalem R, Ng. Nitisoewarno, peserta rombongan tur wisata sejarah kampung bergerak menuju ke Masjid Al Fatih Kepatihan. Masjid ini terletak di Jalan Kepatihan No. 5 RT. 06 RW. 01 Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di sebelah utara Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan, atau selatan Kantor Kejaksaan Negeri Surakarta.
Di masjid lawas nan bersejarah ini, peserta rombongan yang beragama Islam dipersilakan oleh panitia untuk menunaikan sholat Dhuhur, dan setelahnya langsung melakukan eksplorasi terhadap riwayat masjid tersebut.
Sesuai angka yang terdapat pada kaligrafi di atas pintu, masjid Al Fatih didirikan pada 1312 H atau 1891 M. Masjid ini dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, Pepatih Dalem (Rijksbestuurder van Soerakarta), atas perintah Sri Susuhunan Pakubuwono X. Konon, pembangunan masjid ini sebagai mahar lamaran Sri Susuhunan Pakubuwono X kepada salah satu istrinya.


Semula bangunan masjid tersebut hanyalah satu ruangan saja, yang sekarang menjadi ruang sholat utama. Di dalam ruang utama sholat ditopang oleh 4 soko guru (kolom terbuat dari kayu jati). Seperti pada Masjid Agung Surakarta, di kanan kiri mihrab masjid Al Fatih terdapat jendela yang besar terbuat dari kayu jati dan diberi tralis (jeruji besi).
Mimbar berukiran seni yang tinggi, diletakkan di dekat jendela sebelah utara yang berdekatan dengan pintu menuju ke pawestren. Di mimbar itu terdapat ukiran berbentuk buah srikaya. Filosofinya agar siapa pun yang memberikan khotbah hendaknya yang penuh isi atau kandungan materi yang disampaikan berisi penuh seperti apa yang telah dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW.


Pembangunan masjid ini tidak serta merta seperti bentuknya yang sekarang ini. Penambahan demi penambahan dilakukan sesuai kebutuhan yang ada. Dari hanya ruangan utama kemudian beberapa tahun kemudian ditambah ruangan di sebelah utara yang digunakan sebagai pawestren. Pawestren berasal dari kata “pawestri” yang artinya adalah wanita. Pawestren adalah salah satu ruangan yang dibuat khusus untuk para wanita.
Sedangkan, di sebelah selatan ruang utama juga terdapat ruangan yang mirip dengan pawestren, baik ukuran maupun bentuknya. Akan tetapi, ruangan yang berada di selatan tersebut tampaknya digunakan sebagai ruangan untuk menyimpan barang yang ringan-ringan saja. Jadi, seandanyai dibutuhkan karena jamaah membludak ketika ada acara keagamaan, ruangan tersebut bisa difungsikan.


Di antara halaman masjid dengan ruangan yang ada di dalam masjid itu, terdapat serambi. Serambi masjid (ruhbah) adalah bangunan yang disandarkan kepada masjid atau yang menempel masjid tapi di luarnya. Bangunan serambi masjid Al Fatih ini ditopang oleh 12 soko (kolom terbuat dari kayu jati)  berukuran lebih kecil dengan soko guru yang ada di dalam ruangan utama. Bangunan serambi ini berbentuk limasan terbuka, sehingga terasa sejuk bila berada di serambi ini.
Di serambi inilah, peserta rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota berkumpul di dekat sebuah bedug yang berumur tua, guna mendengarkan ceritera sejarah dari masjid ini. Tak hanya kisah pendirian masjid tersebut, peserta juga diantarkan untuk menyimak kaligrafi yang terdapat di atas pintu-pintu yang ada di antara serambi menuju ke ruangan utama masjid. Pintu tengah yang selurus dengan mihrab, memiliki kaligrafi yang berbunyi Allah dengan tambahan ornamen ukiran daun kecil-kecil. Di sebelah kanan dan kiri pintu utama terdapat pintu juga yang mempunyai kaligrafi bertuliskan Muhammad.


Lalu, pintu yang berada di sebelah utara dan selatan dari pintu itu masih ada pintu lagi. Kedua pintu itu juga di atasnya terdapat kaligrafi yang bertuliskan empat orang khalifah pertama agama Islam, yang dipercaya kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Empat orang yang dikenal dengan Khulafaur Rasyidin itu adalah Abu Bakar, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib.
Atap masjid Al Fatih tidak berbentuk kubah yang merupakan ciri bangunan Timur Tengah. Atapnya berbentuk tajug tumpang, seperti kebanyakan masjid tua yang berhubungan dengan kekuasaan kerajaan. Kemudian ada penambahan mustaka pada atap masjid, yang melambangkan ma’rifat. Ma’rifat itu sendiri adalah tingkat penyerahan diri kepada Allah secara berjenjang, secara tingkat demi setingkat sehingga sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat.
Masjid Al Fatih terakhir mengalami renovasi pada tahun 1992. Renovasi itu meliputi pemasangan keramik pada dinding masjid. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pemborosan. Sebelumnya, setiap tahun harus melakukan pengecatan. Lalu, pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2001, tempat wudhu diubah menghadap ke kiblat dari yang sebelumnya menghadap ke selatan. Setiap kran untuk wudhu dibuatkan keramik yang lebih pendek dengan keramik lainnya. Tujuannya agar lantai yang lainnya terjaga kesuciannya lantaran kaki yang keluar dari tempat wudhu tersebut sudah hilang kotorannya di bawah.  *** [030917]

0 comments:

Post a Comment