The Story of Indonesian Heritage

Gedung Bakorwil Madiun

Berkesempatan berkeliling Kota Madiun memberi warna tersendiri bagi saya yang memiliki kegemaran melihat-lihat bangunan kuno di suatu daerah. Tak terbayangkan sebelumnya jika ternyata Kota Madiun menyimpan bangunan heritage yang lumayan banyak juga. Salah satu di antaranya yang berhasil saya kunjungi adalah Gedung Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Madiun. Gedung ini terletak di Jalan Pahlawan No. 31 Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di depan Taman Makam Pahlawan Madiun, atau sebelah utara Balai Kota Madiun ± 350 meter.
Awalnya, Gedung Bakorwil ini merupakan rumah dinas untuk kediaman Residen Madiun. Dibangun pada 1831 semasa kepemimpinan Residen pertama Madiun, yaitu Loudewijk Launij, yang menjabat dari tahun 1830 sampai dengan tahun 1838.



Rumah dinas sang residen kala itu merupakan bangunan yang paling megah dan luas di Madiun. Sehingga, jalan besar yang berada di depan rumah residen itu dikenal dengan Residentlaan. Kata residentlaan merupakan gabungan dua kata yang berasal dari bahasa Belanda, yaitu resident dan laan. Resident artinya residen, dan laan berarti jalan. Jadi, residentlaan berarti Jalan Residen (sekarang menjadi Jalan Pahlawan).
Residen sendiri mempunyai pengertian sebagai pegawai pamongpraja (ambtenaar) yang mengepalai daerah (bagian dari provinsi yang meliputi beberapa kabupaten). Sedangkan, daerah yang dikepalai oleh residen dikenal dengan karesidenan. Ketika masa Hindia Belanda, sebuah karesidenan (regentschappen) terdiri atas beberapa kabupaten (afdeeling). Tidak semua provinsi di Hindia Belanda memiliki karesidenan. Hanya di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, bali Lombok, dan Sulawesi. Di atas residen adalah gubernur jenderal yang memerintah atas nama Raja dan Ratu Belanda.



Karesidenan Madiun merupakan salah satu karesidenan yang ada di Jawa Timur, yang membawahi 5 kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, dan Kota Madiun. Model pembagian adminstratif semacam ini mulai diperkenalkan untuk pertama kalinya pada masa pemerintahaan Letnan Gubernur Hindia Belanda Sir Stamford Bingley Raflles (1811-1816).
Pada masa pendudukan Jepang, rumah ini tetap dipertahankan menjadi kediaman Residen Madiun. Hanya saja istilahnya diganti dengan bahasa Jepang, yaitu Syuco. Syu artinya karesidenan, sedangkan syuco berarti orang yang memimpin syu (residen). Dalam menjalankan pemerintahan, syuco dibantu oleh Cokan Kanbo (Majelis Permusyawaratan Cokan) yang terdiri dari tiga bu (bagian), yaitu Naisebu (bagian pemerintahan umum), Keizabu (bagian ekonomi), dan Keisatsubu (bagian kepolisian).



Setelah Indonesia merdeka, model pemerintahan karesidenan masih tetap berjalan. Karesidenan dihapus setelah keluar Peraturan Presiden No. 22 tahun 1963 tentang Penghapusan Karesidenan dan Kawedanan. Semenjak itu, hapuslah Karesidenan dalam jenjang birokrasi pemerintahan di Indonesia. Setelah dihapus, posisi Karesidenan di beberapa tempat diisi oleh pejabat yang disebut Pembantu Gubernur. Wilayah kerja meliputi wilayah eks karesidenan.
Kemudian dalam perjalanan selanjutnya, istilah Pembatu Gubernur berubah menjadi Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) sampai sekarang. Oleh karena itu, rumah dinas yang semula merupakan kediaman residen, kini otomatis berubah menjadi rumah dinas Bakorwil. Saking besarnya rumah dinas itu, maka dikenal dengan Gedung Bakorwil.
Bakorwil merupakan badan yang membantu gubernur dalam menyelenggarakan fungsi koordinasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah di wilayah kerjanya yang dipimpin oleh Kepala Bakorwil yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada gubernur melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi. Tugas yang diembannya dalah membantu gubernur dalam melakukan koordinasi, pembinaan, pengawasan, supervisi, monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan tugas pembantuan serta optimalisasi pengembangan potensi Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Bangunan rumah dinas atau Gedung Bakorwil ini memiliki langgam Indische Empire Style. Indische Empire Style adalah sebuah gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada abad ke-18 dan ke-19. Gaya arsitektur ini muncul akibat dari suatu kebudayaan yang disebut sebagai ‘Indische Culture’, yang berkembang di Hindia Belanda sampai akhir abad ke-19. Ciri langgam yang nampak jelas pada gedung ini, antara lain kesan bangunan yang monumental, serambi muka dan belakang terbuka dengan dilengkapi pilar bergaya Yunani, penggunaan atap perisai, dan terdapat koridor tengah yang menghubungkan antar serambi dan antar ruang lainnya.
Indische Empire Style sendiri sebenarnya merupakan perpaduan antara gaya Empire Style yang berasal dari Perancis dengan gaya rumah tradisional pribumi yang cocok dengan iklim tropis. Masuknya gaya Empire Style ini di bawa oleh Herman Willem Daendels ketika menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda atas nama Perancis. Perpaduan gaya Empire Style dengan keadaan setempat ini menghasilkan langgam Indische Empire Style. Langgam ini hampir mewarnai bangunan-bangunan yang digunakan sebagai rumah residen atau asisten residen yang ada di Hindia Belanda. Bangunan-bangunan itu kebanyakan dirancang oleh insinyur zeni.
Di alam kemerdekaan, Gedung Bakorwil mengalami sejumlah penambahan namun penambahan tersebut tidak mengubah bentuk asli bangunannya. Perubahan yang terjadi, yaitu adanya penambahan ruang pada sisi utara dan selatan bangunan, sehingga mengakibatkan denah bangunan menjadi tidak simetris seperti bentuk aslinya. Penambahan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang karena fungsi gedung ini selain sebagai rumah dinas namun juga untuk menerima tamu pejabat-pejabat penting yang singgah di Kota Madiun. *** [300617]

Fotografer: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Kepustakaan:
Sukarno, P.G., Antariksa, & Suryasari, N. (2014). Pelestarian bangunan Kolonial Belanda Rumah Dinas Bakorwil Kota Madiun. Arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014
http://www.bakorwilmadiun.jatimprov.go.id/tentang.php
https://www.kaskus.co.id/thread/54fe7157529a45766f8b456b/bangunan-bersejarah-keelokan-loji-indis-di-nusantara-pict/
http://www.markijar.com/2015/06/pendudukan-jepang.html
Share:

1 komentar:

  1. Pak.tetangga saya kerja di bakorwil. Tapi anehnya berangkat 7.00 pagi,pulang jam 8.00 pagi.baru nanti jam sekitar jam 3.30 berangkat pulangnya jam 04.00.jadi antara jam 8 sampai 3,ia dirumah alias nggak di kantor .gimana ini Pak...namanya, pak April.almt,jln,ranumenggalan.trim.

    BalasHapus

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami