Thursday, May 3, 2018

Stasiun Kereta Api Semarang Poncol

Stasiun Kereta Api Semarang Poncol (SMC) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Poncol, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang yang berada pada ketinggian + 3 m di atas permukaan lain. Stasiun Poncol terletak di Jalan Imam Bonjol No. 115, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara Puskesmas Poncol ± 90 meter.
Bangunan Stasiun Poncol ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur trem uap Semarang-Kaliwungu-Kendal sepanjang 30 kilometer. Pembangunan jalur tersebut dilakukan pada tahun 1897 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), dan kala itu stasiunnya masih berada di Pendrian (berupa halte) yang berjarak ± 1,5 kilometer dari Stasiun Poncol.



SCS merupakan salah satu perusahaan trem di Hindia Belanda yang mendapat konsensi dari tahun 1897 hingga 1914 untuk membangun jalur kereta api sejauh 388 kilometer yang menghubungkan Semarang dengan Cirebon sampai Kadhipaten di ujung barat. SCS tertarik untuk membangun jalur tersebut karena tergiur oleh prospek ekonomi yang telah dinikmati oleh perusahaan kereta api lainnya yang telah berkiprah lebih dahulu di Hindia Belanda, yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij/NIS (perusahaan kereta api swasta) dan Staatsspoorwegen/SS (perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda). Kedua perusahaan tersebut mampu meraih keuntungan dalam setiap proyeknya. Selain itu, jalur yang dibangun SCS ini merupakan suikerlijn (jalur gula) yang akan melayani banyak pabrik gula yang ada di Jawa Tengah bagian barat, dan sekaligus menghubungkan jalur milik NIS yang berada di sebelah timur serta jalur SS yang berada di bagian barat.



Pembangunan jalur trem yang dikerjakan oleh SCS itu dilakukan secara bertahap. Awalnya jalur Semarang-Kaliwungu-Kendal, kemudian dilanjutkan Kendal-Kalibodri-Weleri-Pekalongan sejauh 68 kilometer dan terus disambung ke arah barat hingga Cirebon maupun Kadhipaten.
Setelah jalur trem Semarang-Cirebon terhubung, transportasi trem dalam jalur tersebut meningkat pesat. Peningkatan ini menyebabkan arus barang dan penumpang turut kian berkembang. Akibat dari perkembangan ini, Halte Pendrian semakin tidak bisa menampung semua itu. Sehingga, SCS perlu mempertimbangkan mendirikan sebuah stasiun lagi yang lebih representatif seiring dengan perkembangan volume barang dan penumpang.
Akhirnya SCS memutuskan untuk membangun stasiun yang besar dan megah menyerupai stasiun-stasiun yang dibangun oleh NIS maupun SS. Dipilihlah lokasi yang berjarak 1,5 kilometer arah utara dari halte ini. Desain bangunan stasiun diserahkan kepada Ir. Henri Maclaine Pont. Ia adalah seorang arsitek Belanda kelahiran Misteer Cornelis (Jatinegara) pada 21 Juni 1884 sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Pieter Maclaine Pont, blasteran Skotlandia dan Spanyol, dan ibunya bernama Lucie Henriette Geertrude de Vogel yang berdarah Buru (Maluku).



Peletakan batu pertama dimulai pada tahun 1912 dan diresmikan pemakaiannya pada 6 Agustus 1914. Semula stasiun ini dikenal dengan Stasiun Semarang West (Station Semarang West van de Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij Pontjol te Semarang atau Railwaystation Semarang West (Pontjol) of the Semarang-Cheribon Steamtram Company in Semarang) karena dulu lokasi stasiun ini memang berada di daerah pinggiran Semarang bagian barat. Tapi semenjak kemerdekaan,  nama stasiun itu menjadi Stasiun Semarang Poncol.
Seiring berdirinya Stasiun Poncol, jalur ini ditingkatkan menjadi jalur yang mampu dilewati kereta api yang lebih besar. Dari konstruksi yang ringan menjadi konstruksi yang mampu menahan beban kereta api yang lebih besar dan berkecepatan tinggi. Kemudian pada 1936, jalur rel ini ditingkat lagi menjadi jalur kelas 1e (spoorweg 1e klasse), dan sejak itu jalur ini menjadi bagian yang penting  hubungan rel antara Batavia, Cirebon, dan Semarang.
Dilihat dari fasadnya, Stasiun Poncol menggunakan langgam Modern namun tetap mempertimbangkan kondisi tropis di Semarang. Stasiun Poncol merupakan warisan budaya arsitektur kolonial modern, dengan desain yang adaptif. Dengan struktur baja khas arsitektur modern memungkinan membentuk atap pelana, khas desain atap tropis pada bangunan bentang panjang.
Tuntutan kenyamanan pada bangunan berbentang besar di daerah tropis adalah keberhasilan menghadirkan penerangan alami semaksimal mungkin dan menghadirkan kualitas udara, membuat bangunan terhindar dari ketidaknyamanan karena kelembaban. Kualitas dan kuantitas penerangan alami tercipta di bangunan stasiun ini, karena desain pelubangan pada atap pelananya.
Stasiun Poncol ini tergolong sebagai stasiun kelas besar, yang memiliki 9 jalur dengan jalur 1 hingga 3 merupakan jalur persilangan atau persusulan kereta api bilal lalu lintas kereta api begitu padat. Jalur 4 dan 5 digunakan sebagai sepur lurus arah barat menuju ke Stasiun Jerakah, dan yang ke timur menuju ke Stasiun Tawang. Sedangkan jalur 6 sampai 9 digunakan sebagai parkir gerbong atau lokomotif. Aktivitas di stasiun ini didominasi oleh rangkaian kereta kelas ekonomi dan komuter serta kereta barang. *** [190418]

Fotografer: Nareisywari Yudha Kartika

0 comments:

Post a Comment