Saturday, May 5, 2018

Kantor Pos Besar Semarang

Jalan Pemuda merupakan salah satu jalan utama di Kota Semarang, yang membentang dari Jembatan Berok hingga Tugu Muda. Pada masa Hindia Belanda, jalan ini dikenal dengan Bodjongweg (Jalan Bodjong). Jalan ini termasuk dalam Jalan Raya Pos (de Grote Postweg) yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Dandels pada tahun 1808 sepanjang 1000 kilometer dari Anyer sampai Panarukan.
Sejarah panjang yang dimiliki oleh Jalan Pemuda, menyisakan banyak bangunan lawas di sepanjang jalan itu karena jalan itu pernah berkembang menjadi pusat perdagangan dan permukiman untuk orang-orang Eropa kalangan atas. Salah satu bangunan lawas yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang, di antaranya adalah Kantor Pos Besar Semarang. Kantor pos ini terletak di Jalan Pemuda No. 4 Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi kantor pos ini berada di sebelah barat Gedung Keuangan Negara, atau di sebelah timur laut STIE BPD Jateng ± 110 meter.
Kehadiran kantor pos di Semarang ini tidak terlepas dari peran Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-27, Gustaaf Willem Baron van Imhoff. Setelah Baron van Imhoff memerintahkan mendirikan kantor pos pertama di Batavia, selang empat tahun juga memerintahkan untuk mendirikan kantor pos di Semarang.


Kantor pos pertama di Hindia Belanda didirikan pada 26 Agustus 1746 di Batavia, dan alamatnya pada waktu itu berada di depan Museum Bahari, daerah Pasar Ikan Jakarta Utara (waktu masih berbentuk benteng). Menyusul kemudian kantor pos kedua di Hindia Belanda, didirikan di Semarang pada 1750.
Awalnya, layanan pengiriman pos dilakukan oleh kurir-kurir yang dipekerjakan oleh Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, yang dalam bahasa Belandanya dikenal dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Layanan pos yang dilakukan pada waktu itu masih sebatas layanan pos untuk kepentingan VOC dan warga yang ada di dalam benteng. Jadi, pengiriman pos dari Batavia ke Semarang, masih dilakukan lewat kapal dari benteng di Batavia menuju ke benteng di Semarang atau sebaliknya.
Jarak antar pos atau surat dari Batavia ke Semarang saat itu cukup panjang, bisa memakan waktu lebih dari sebulan karena tidak setiap hari ada kapal untuk pengiriman pos. Namun, setelah dibuat Jalan Raya Pos pada tahun 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, jarak tempuh layanan pos antar kedua wilayah itu menjadi pendek, yaitu sekitar enam hari, yang ditempuh melalui jalan darat dengan berkuda.
Porti dihitung berdasarkan berat dan jarak tempuh, biasanya antara 7,5 dan 15 sen. Pada 1813, tarif khusus ditetapkan untuk barang cetakan dan pengurangan tarif untuk surat kabar. Setelah situasi politik dan ekonomi Belanda di Hindia Belanda dirasakan aman dan mantap, pada tahun 1824, benteng dihancurkan dan menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Dalam wilayah bekas benteng tadi seperti pada kota-kota besar lainnya berkembang pusat kota dengan bentuk dan gaya kota-kota pada abad pertengahan. Bangunan-bangunan berdiri mengelompok membentuk kawasan, dengan bangunan-bangunan tanpa halaman depan dan terletak langsung di jalan raya. Daerah ini sekarang dikenal dengan sebutan Kota Lama Semarang.


Kemudian pada 1848 muncul kesepakatan tarif yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan Belanda untuk pengangkutan kiriman pos dari Belanda ke Hindia Belanda, atau sebaliknya. Pada waktu J.P. Theben Tervile menjabat sebagai inspektur layanan pos di Hindia Belanda (Inspekteur der posterijen in Nederlandsch-Indie) pada tahun 1862, muncul gagasan menentukan tarif pengiriman pos melalui monopoli pemerintah. Ini mulai awal layanan pos dilembagakan dengan adminstrasi yang lebih baik, baik untuk pengiriman dokumen, surat, maupun uang di mana kurir pos berasal dari rekrutan pemerintah Hindia Belanda. Kemudian menyusul diperkenalkan perangko untuk pertama kalinya pada tahun 1864.
Seiring itu pula terbersit gagasan untuk memindahkan kantor pos peninggalan VOC ke daerah lain yang masih memiliki lahan yang cukup untuk didirikan bangunan kantor pos yang lebih besar dan representatif.
Pada 1902 rancangan proyek bangunan kantor pos dan telegraf yang baru diusulkan kepada Direktur Kantor Pekerjaan Umum Sipil (directeur van der Burgelijke Openbare Werken). Usulan yang disajikan itu kemudian ditanggapi oleh pihak Burgelijke Openbare Werken (BOW) dengan disertai beberapa perubahan kecil. Hal ini kemudian direspon oleh Kepala Inspektur Layanan Pos dan Telegraf dengan meminta bantuan kepada Kepala Insinyur Legerstee untuk mengedit apa saja sesuai yang diinginkan oleh pihak BOW yang mewakili pemerintah Hindia Belanda.
Pada April 1903, otorisasi telah diberikan untuk pembangunan kantor pos dan telegraf baru di Kota Semarang, yang diperkirakan menelan biaya f 65243 atau 65.243 gulden. Kemudian pada 1904 rancangan yang telah disesuaikan oleh Kepala Insinyur (hoofdingenieur) Legerstee, mulai dibangun. Pembangunannya memerlukan lebih dari setahun, dan setelah selesai, bangunan tersebut dinamakan Kantor Pos Besar dan Telegraf (Hoofdpost-en Telegraafkantoor).
Dilihat dari fasadnya, bangunan kantor pos ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire, sebuah perpaduan desain The Empire Style yang dipopulerkan oleh Herman Willem Daendels dengan lingkungan setempat (indische). Arsitektur Indische Empire yang ditemui pada bangunan kantor pos ini bercirikan denah simetris dan gevel yang berada tepat di atas pintu utama dari bangunan tersebut.
Di kedua sisi dari tiga pintu utama, terdapat tiga jendela. Dari enam jendela tersebut, memberi pandangan akan suasana Jalan Pemuda. Sedangkan, gevel yang dimahkotai oleh cetakan yang indah dan besar dengan tulisan Kantor Pos dengan latar warna hitam dan oranye itu dulunya bertuliskan post- en telegraafkantoor. Selain itu, di atas tulisan berbentuk lingkaran itu dulunya tempat menempatkan jam sebagai penanda waktu bagi yang melintas di depan kantor pos maupun yang mengunjunginya.
Pada tahun 1979, bangunan gedung ini mengalami renovasi dan pemugaran, sekaligus penambahan ruangan di bagian belakang gedung. Namun, secara keseluruhan, renovasi itu tidak mengubah bentuk fisik luar gedung dan dipertahankan sesuai bentuk aslinya.
Kini, bangunan gedung ini hanya digunakan sebagai kantor pos saja. Kantor Telegraf yang dulu bergabung dengan kantor pos melebur ke Kantor Telkom. Kantor pos sendiri sekarang merupakan Pos Indonesia.
Pos Indonesia ini telah beberapa kali mengalami perubahan status, mulai dari Jawatan PTT (Pos, Telegraf dan Telepon). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).
Mengamati perkembangan zaman di mana sektor pos dan telekomunikasi berkembang pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pos dan Giro yang sejak itu ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giro pos, baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero). *** [190418]

Fotografer: Nareisywari Yudha Kartika
.
Kepustakaan:
Sumalyo, Yulianto. (1995). Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia: Mengetengahkan arsitek dan biro arsitek Maclaine Pont, Thomas Karsten, C.P. Wolf Schoemaker, W. Lemei, C.Citroen, Ed. Cuypers & Hulswit, Batavia Algemen Ingenieurs Architekten. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
______. (1867). Regerings-Almanak Voor Nederlandsch-Indie 1867. Batavia: Landsdrukkerij
https://www.indischeliterairewandelingen.nl/index.php/wandelingen/200-semarang-2-bodjong#Hoofdpost-en-Telegraafkantoor
http://repository.uin-suska.ac.id/2674/3/BAB%20II.pdf 

0 comments:

Post a Comment