The Story of Indonesian Heritage

Makam Marhum Pekan

Di sela-sela melaksanakan tugas penelitian Segmentasi dan Profil Pelanggan Agung Toyota di Provinsi Riau, saya diajak berkeliling Kota Pekanbaru oleh saudara yang bekerja di Balai Bahasa Provinsi Riau pada hari Ahad (30/09/2018). Ketika berjalan-jalan itulah, saya berkesempatan mengunjungi sebuah situs berupa makam lawas yang ada di sana, yaitu Makam Marhum Pekan. Makam ini terletak di Jalan Mesjid Raya, Kelurahan Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Lokasi makam ini berada di sebelah utara Masjid Raya Pekanbaru, atau sekitar 200 meter dari Pasar Bawah (Pasar Wisata).
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor: Kpts.1135/XII/2018 tentang Penetapan Status Cagar Budaya Peringkat Provinsi Tahun 2018, dideskripsikan secara historis bahwa Marhum Pekan merupakan gelar Sultan ke-5 dari Kerajaan Siak, yaitu Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah yang memerintah dari 1766 hingga 1779. Beliau anak dari Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1761-1766), Sultan ke-4 Kerajaan Siak.


Sultan Muhammad Ali meneruskan kekuasaan ayahnya dan tetap menjadikan Senapelan sebagai ibu kota Kerajaan Siak. Tatkala Sultan Ismail kembali berkuasa untuk kedua kalinya pada tahu 1779, Sultan Muhammad Ali menjadi Raja Muda dan tetap berkedudukan di Senapelan. Sultan Muhammad Ali bertindak mendampingi Sultan Ismail karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Sultan Ismail menjadikan Mempura kembali menjadi ibu kota Kerajaan Siak pada tahun 1783 dan membiarkan Raja Muda Muhammad Ali di Senapelan.
Eliza Netscher (1825-1880), seorang Sekretaris Jenderal Belanda di Batavia (1848) dan pernah menjabat sebagai Residen Wilayah Riau (1861-1870), dalam bukunya “De Nederlander in Djohor en Siak (1602-1865)”, menyebutkan bahwa di abad ke-16 nama Senapelan sudah dikenal sampai ke Malaka dan Johor dengan sebutan “Chinapalla” atau “Sungai Pelam”.


Pada masa itu, karena persoalan politik internal, kegiatan perdagangan mengalami kemunduran dibandingkan dengan masa Sultan Alamuddin. Pemerintah Sultan Ismail tidak berjalan lama. Pada tahun 1781, Sultan Ismail mangkat di Balai dan diberi gelar Marhum Mangkat di Balai. Sultan Ismail digantikan oleh putranya yang belum dewasa, yaitu Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah. Karena sultan belum dewasa, maka Raja Muda Muhammad Ali diangkat sebagai wali sultan (regen). Pemerintahan praktis dijalankan oleh Raja Muda Muhammad Ali dan tetap berkedudukan di Senapelan.
Pada tahun 1782 barulah resmi dipegang sepenuhnya oleh Sultan Yahya. Pada masa inilah, tepatnya tahun 1783, ibu kota Kerajaan Siak dipindahkan kembali ke Mempura. Sultan Yahya menyebutkan tempat kedudukannya dengan Siak Sri Indrapura Darussalam. Senapelan diserahkan penguasaannya kepada Datuk Syahbandar.


Pada tahun 1784, Raja Muda Muhammad Ali kembali ke Senapelan dan menetap. Beliau membawa serta keponakannya bernama Sayid Ali putra Sayid Usman Syahabuddin. Sayid Ali terkenal sebagai prajurit yang tangguh yang telah terbukti dalam berbagai peperangan. Raja Muda Muhammad Ali berusaha melanjutkan cita-cita ayahnya, Sultan Alamuddin gelar Marhum Bukit untuk menghidupkan dan membangun kembali pekan (pasar) di Senapelan. Ketika Raja Muda Muhammad Ali memilih menetap di Senapelan, keponakannya memilih kembali ke Mempura lalu ke Bukit Batu.
Berkat kegigihan Raja Muda Muhammad Ali, dibukalah pekan yang baru (bukan di lokasi pekan yang didirikan sebelumnya oleh ayahnya), yaitu di sekitar pelabuhan sekarang. Pekan yang baru ini resmi didirikan pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H atau bertepatan dengan 23 Juni 1784. Sejak saat itu, sebutan Senapelan ditinggalkan dan mulai popular dengan sebutan Pekan Baharoe (Pekanbaru). Tanggal itu kemudian ditetapkan menjadi Hari Jadi atau Hari Lahir Kota Pekanbaru.


Pekanbaru berkembang sebagaimana diharapkan oleh Raja Muda Muhammad Ali. Hubungan dengan daerah pedalaman Kampar dan Minangkabau menjadi semakin ramai. Ramainya Pekanbaru berbanding terbalik dengan Petapahan yang tidak lagi menjadi pintu perdagangan (yang sebelumnya ramai karena menjadi pintu perdagangan). Pelabuhan Pekanbaru menjadi semakin ramai yang membuat Datuk Syahbandar Pekanbaru menjadi sibuk.
Seiring dengan kesibukan yang meningkat di Pekanbaru, peranan Batin Senapelan di Pekanbaru semakin memudar. Kewibawaannya hanya tinggal di Tapan, Palsa dan Kuala Tepung hingga ke Bancah Kelubi. Di daerah ini, Batin dibolehkan memungut cukai atau pancung alas. Adapun cukai di Pekanbaru menjadi kewenangan Datuk Syahbandar yang dipungut untuk perbendaharaan Kerajaan Siak.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Sultan Muhammad Ali atau Raja Muda Muhammad Ali memiliki peran yang sangat penting bagi berdiri dan berkembangnya Kota Pekanbaru pada masa awal.


Muhammad Ali telah menjadi Sultan dan Raja Muda sejak Sultan Ismail, berlanjut ke Sultan Yahya sampai ke Sultan Sayid Ali, keponakannya, yang memiliki keturunan yang bercampur dara Arab. Raja Muda Muhammad Ali mangkat pada tahun 1789, sekitar 5 tahun setelah beliau mendirikan Pekanbaru, dan digelari Marhum Pekan.
Kompleks Makam Marhum Pekan merupakan pemakaman pembesar Kerajaan Siak beserta kerabatnya yang pernah memerintah di Senapelan. Selain makam Sultan Siak IV Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit) dan Sultan Siak V Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Marhum Pekan), di areal pemakaman ini terdapat empat makam lain yang merupakan keluarga dan pembesar Kerajaan Siak, yaitu makam:

Sayid Usman Syahabuddin
Sayid Usman Syahabuddin bin Abdurrahman Syahabuddin adalah menantu dari Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Raja Alam) sekaligus Panglima Perang Kerajaan Siak dan Ulama Kerajaan pada masa itu. Sayid Usman menikah dengan Tengku Embong Badariyah. Dari perkawinan inilah, para Sultan Siak dan Raja Pelalawan mewarisi garis keturunan Arab dari Sayidina Ali dan Fatimah yang bernasabkan kepada Rasulullah Muhammad SAW (Bani Hasyimiyyah).

Tengku Embong Badariyah
Tengku Embong Badariyah adalah putri Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Raja Alam/Marhum Bukit) yang menikah dengan Sayid Usman Syahabuddin.

Sultanah Khodijah atau Daeng Tijah
Sultanah Khodijah atau Daeng Tijah binti Daeng Parani adalah istri dari Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. Beliau merupakan keturunan Opu-Opu Bugis yang berkuasa di Kerajaan Riau Lingga. Selain sebagai istri seorang Sultan, beliau juga aktif dalam Kerajaan Siak sebagai pengganti Sultan apabila Sultan tidak ada di pemerintahan kerajaan. Sehingga beliau boleh memakai gelar Sultanah dan dalam Kerajaan Siak hanya ada dua permaisuri yang memakai gelar Sultanah.

Tengku Pangeran Kesuma Dilaga
Sayid Al Jufri bergelar Tengku Pangeran Kesuma Dilaga adalah cucu dari Sultan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah dari anak beliau yang bernama Tengku Hawi/Hawa yang menikah dengan Sayid Syekh Al Jufri. Pangeran Kesuma Dilaga merupakan Panglima Perang Kerajaan Siak pada masa Sultan Siak ke-7 dan 8.

Makam Marhum Pekan berada di dalam satu cungkup dengan makam ayahnya, yaitu Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit) yang berada di depan pintu masuk. Di dalam cungkup ini, terdapat enam buah makam yang merupakan keluarga dari Kerajaan Siak.
Jirat atu kijing makam Marhum Pekan berundak-undak yang dilapisi marmer warna merah maron. Nisannya terbuat dari batu batu andesit dan berbentuk gada. Pada bagian tengah dan atas nisan terdapat hiasan sulur-suluran. Nisan yang terpasang sekarang bukan nisan asli, tetapi duplikat nisan asli yang terbuat dari bahan kayu yang ditempatkan di Museum Negeri Pekanbaru.
Selain makam Marhum Pekan dan Marhum Bukit, di dalam cungkup terdapat empat makam lain, yaitu Sayid Usman Syahabuddin (Mahrum Barat), Tengku Embong Badariyah binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultanah Khodijah, dan Tengku Pangeran Kesuma Dilaga.
Di dalam makam-makam tersebut yang menjadi pembeda khasnya terletak pada corak nisannya. Makam pria, nisannya berbentuk gada, sedangkan untuk makam wanita, nisannya berbentuk pipih. Sehingga, di dalam cungkup makam bila diperhatikan dengan seksama, makam untuk Tengku Embong Badariyah dan Sultanah Khodijah memiliki nisan berbentuk pipih bukan gada.
Kompleks makam ini merupakan salah satu bukti sejarah Kota Pekanbaru dan memiliki nilai yang tinggi dan masih terawat hingga kini. Saat ini kompleks makam ini dijaga oleh seorang juru pelihara yang bekerja di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Kerja Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau yang berpusat di Batusangkar, Sumatera Barat. *** [300918]

Kepustakaan:
Artha, M.A., Nurhayati & Munandar, Aris. (2013). Kajian Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu Pada Lanskap Kota Pekanbaru, Riau. Jurnal Lanskap Indonesia Vol. 5 No. 2 p. 10. Diunduh dari https://journal.ipb.ac.id/index.php/jli/article/view/12668
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2019/03/SK-Keputusan-Gubernur-Riau-No-kpts-1135-Penetapan-CB-Riau.pdf
http://repository.uin-suska.ac.id/16683/9/9.%20BAB%20IV_2018401KOM.pdf
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami