“Memory is the treasure house of the mind wherein the monuments thereof are kept and preserved.” -- Thomas Fuller
Sebuah tugu berdiri di tengah jalan, seperti sengaja menghadang siapa pun yang hendak melintas tanpa menoleh. Di tempat yang sepintas tampak biasa itu, lebih dari dua setengah abad silam, tanah Bayu pernah menjadi panggung perlawanan berdarah rakyat Blambangan terhadap VOC.
Usai menyambangi TPS Balak, saya terus diajak oleh enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Enviromental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung, Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., main ke Rowo Bayu. Namun dalam perjalanan, di sebuah sudut jalan, sebuah tugu yang dibelah dua ruas jalan menarik perhatian. Namanya Tetenger Perang Puputan Bayu. Letaknya di Dusun Bayurejo RT 01 RW 01, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.
Saya berhenti. Barangkali begitulah cara sebuah situs warisan bekerja. Ia tidak selalu memanggil dengan suara keras. Kadang cukup dengan sebuah tugu di persimpangan, lalu ingatan bergerak sendiri.
Di lokasi ini, saya jadi ingat tema Banyuwangi Ethno Carnival 2026 tentang “Perang Bayu – The Great War of Blambangan”. Banyuwangi memang sedang kembali membawa sejarah itu ke ruang publik. Sejarah yang dahulu berlangsung di lereng Gunung Raung itu dipindahkan ke atas catwalk dengan penampilan kostum, gerak, warna, dan tubuh para talent menjadi medium untuk menceritakan kembali heroisme rakyat Blambangan.
Tetapi sebelum menjadi parade, Perang Bayu adalah tragedi manusia. Pada mulanya, VOC memasuki Blambangan dengan kepentingan memperluas pengaruh dan jalur perdagangan. Perlawanan rakyat pun muncul.
Salah satu tokoh awalnya adalah Wong Agung Wilis. Setelah menghimpun kekuatan, ia melancarkan serangan pada 1767-1768, namun ia kemudian tertangkap VOC dan dibuang ke Banda. Estafet perlawanan kemudian diteruskan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati, buyut Prabu Tawang Alun, yang menjadikan Bayu sebagai basis pertahanan.
![]() |
| Tetenger Perang Puputan Bayu 18 Desember 1771 di Dusun Bayurejo RT 01 RW 01 Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi (Foto: Kamis, 03-09-2026) |
Pada 18 Desember 1771, perlawanan rakyat Blambangan mencapai titik paling sengit. Pasukan VOC terdesak oleh serangan mendadak. Mereka bahkan terjebak dalam sungga, jebakan berupa parit yang dipenuhi bambu atau benda runcing. Sersan Mayor Van Schaar, salah satu komandan VOC, tewas dalam pertempuran. Pangeran Jagapati sendiri mengalami luka parah dan gugur sehari kemudian.
Namun kemenangan dalam satu pertempuran tidak serta-merta mengakhiri perang. VOC kembali menghimpun kekuatan. Bayu dikepung dan pada 11 Oktober 1772 benteng pertahanan rakyat akhirnya direbut.
Dengan jatuhnya Bayu, perlawanan Blambangan mengalami pukulan besar. Perang yang panjang itu meninggalkan korban jiwa dan kehancuran yang demikian besar sehingga dalam berbagai catatan lokal dan historiografi Banyuwangi, Perang Bayu dikenang sebagai salah satu perlawanan paling keras terhadap VOC.
Dari perang itulah tanggal 18 Desember 1771 kemudian memperoleh tempat khusus dalam ingatan Banyuwangi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebutnya sebagai peristiwa sejarah tertua yang layak dijadikan tonggak Hari Jadi Banyuwangi. DPRD Banyuwangi kemudian menetapkan 18 Desember sebagai Hari Jadi pada 9 Mei 1995.
Karena itu, tetenger yang saya temui bukan sekadar penanda lokasi. Ia adalah pengingat bahwa sebuah daerah memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada jalan yang kini melintas di depannya.
Di kawasan Bayu dan sekitar Rowo Bayu, ingatan itu masih dirawat melalui doa, peringatan, dan napak tilas. Masyarakat bahkan secara turun-temurun menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang selamat maupun gugur dalam perang.
Thomas Fuller (1608-1661), sejarawan asal Inggris, pernah menulis:
“Ingatan adalah gudang harta pikiran, tempat berbagai monumennya disimpan dan dilestarikan.”
Kalimat itu terasa menemukan tempatnya di Bayu. Sebab monumen tidak hanya menyimpan nama dan tanggal. Ia menyimpan pertanyaan: apa yang terjadi di sini, siapa yang pernah berdiri di atas tanah ini, dan mengapa generasi setelahnya masih perlu mengingat?
Dari sebuah tugu di tepi jalan, saya akhirnya memahami bahwa “roh” Puputan Bayu bukan semata-mata tentang perang. Ia tentang ingatan yang diwariskan. Tentang keberanian yang dibaca ulang. Tentang kehilangan yang tidak dibiarkan hilang begitu saja.
Dan mungkin, itulah alasan sejarah Bayu terus menemukan bentuk baru - dari tetenger, napak tilas, doa bersama, hingga panggung Banyuwangi Ethno Carnival.
Dulu, Bayu menjadi medan pertempuran. Kini, ia menjadi ruang untuk mengingat. Sebab selama sebuah bangsa masih menjaga ingatannya, sebuah tugu tidak pernah benar-benar hanya menjadi tugu. *** [081026]








Tidak ada komentar:
Posting Komentar