The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Royal at Chinatown: Jejak Opera, Kenangan, dan Denyut Budaya di Jantung Singapura

Royal at Chinatown, Singapore, on Free Singapore Tour on Sunday (14/12/2025)

There are a few years when you make almost all of your important memories. And then you spend the next few decades reliving them.” -- Charles Yu, Interior Chinatown

Langkah saya sempat melambat ketika mengikuti Free Singapore Tour bersama Tim NIHR UB pada Ahad (14/12/2025) saat transit di Singapura sepulang dari menghadiri Third Annual Symposium NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Saya tertarik melihat sebuah bangunan tua berfasad unik di sudut pertemuan Jalan Trengganu dan Jalan Smith yang berada Chinatown, Singapura. Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata, bangunan itu seolah berdiri tenang yang menyimpan cerita panjang yang tak langsung terlihat. Namanya kini dikenal sebagai Royal at Chinatown.

Saat ini, Royal at Chinatown adalah bangunan konservasi tiga lantai yang telah bertransformasi mengikuti zaman. Lantai dasarnya diisi deretan toko ritel, lantai dua menjadi rumah bagi Yum Cha Restaurant yang populer, sementara lantai tiga menjelma hotel butik dengan 40 kamar yang dikelola oleh HOTEL 1888 COLLECTION. Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2019, memberi napas baru tanpa menghapus identitas lamanya.

Namun jauh sebelum menjadi hotel dan restoran, tempat ini pernah menjadi pusat denyut kebudayaan Tionghoa di Singapura.

Di sinilah, pada tahun 1887, berdiri Gedung Opera Lai Chun Yuen yang menghadirkan sebuah teater megah berkapasitas 834 kursi yang pada masanya dianggap sebagai “Broadway” atau “West End”-nya opera Kanton. 

Pada dekade 1910-an hingga 1920-an, gedung ini menjadi magnet hiburan utama bagi komunitas imigran Tionghoa. Bintang-bintang opera ternama dari Tiongkok dan Hong Kong silih berganti naik panggung, menarik penonton dari berbagai latar dialek dan kelas sosial.

Opera, bagi masyarakat Tionghoa kala itu, bukan sekadar hiburan. Pertunjukan dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada dewa dan roh. Karena itulah, orang-orang datang berbondong-bondong. Bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk menjalankan keyakinan. 

Gedung ini dulunya dimiliki oleh Lin Dingxing, kemudian Loh Ghim, dan dirancang oleh arsitek Alfred Bidwell dari firma Swan and Maclaren, yang dikenal piawai menyesuaikan desain dengan fungsi sosial bangunan.

Bentuknya menyerupai rumah teh tradisional Tiongkok bertingkat tiga, lengkap dengan balkon kayu. Penonton duduk di meja-meja kecil di lantai pertama, menyeruput teh dan camilan. Panggung berada di lantai dua, sementara pengunjung berada di bawah langit-langit tinggi yang dihiasi ornamen lukis dan lentera temaram. Penonton kaya bahkan memiliki bilik pribadi dengan layanan lebih eksklusif.

Pertunjukan digelar dua kali sehari sebagai tanda betapa populernya gedung ini. Smith Street pun hidup, bukan hanya sebagai pusat hiburan, tetapi juga kawasan ekonomi. Rumah-rumah toko tiga lantai di sekitarnya yang umumnya bergaya Barok dan Tionghoa itu menjadi tempat tinggal sekaligus ruang usaha. Teater membawa rezeki! Penonton berbelanja, makan, dan menginap di sekitar kawasan.

Namun kejayaan itu perlahan memudar. Akhir 1930-an, film bersuara mulai menggusur opera. Pada 1941, Lai Chun Yuen diubah menjadi bioskop, sebelum akhirnya tak bertahan melewati masa Pendudukan Jepang. Gedung ini rusak parah selama Perang Dunia II, lalu pascaperang beralih fungsi menjadi toko, bahkan gudang pedagang kaki lima.

Di balik kemegahannya, tempat ini juga menyimpan sisi gelap. Smith Street kala itu dikenal sebagai distrik lampu merah. Bilik-bilik pribadi di teater kerap digunakan untuk aktivitas rahasia, dan merokok opium adalah pemandangan lazim. Ironisnya, gedung opera ini juga pernah menjadi tempat penggalangan dana kemanusiaan, seperti untuk Dana Bantuan Banjir Canton, yang sukses berkat popularitas para pemain ternama.

Kini, saat rombongan Free Singapore Tour melintasi bangunan ini, yang terlihat adalah wajah baru Royal at Chinatown. Nama-nama usaha modern terpampang, termasuk Rest Chinatown Hotel. Di lantai bawah menghadap Jalan Trengganu, berdiri Toko Antik Fu Xing (福兴古玩), yang bahkan menawarkan konsultasi ramalan nasib, sebuah pengingat bahwa tradisi lama belum sepenuhnya pergi.

Opera Lai Chun Yuen memang telah lama sirna. Namun kisahnya masih berdenyut di balik dinding bangunan ini. Gedung opera Chinatown, terutama pada masa kejayaannya di tahun 1920-an, bukan sekadar ruang pertunjukan. Ia adalah sekolah budaya, ruang temu komunitas, dan rumah bagi kenangan kolektif para imigran Tionghoa yang membangun hidup dari nol di tanah baru.

Seperti yang ditulis Charles Yu, seorang penulis dan pengacara Amerika, dalam Interior Chinatown (2020):

“Ada beberapa tahun di mana Anda hampir menciptakan semua kenangan penting Anda. Dan kemudian Anda menghabiskan beberapa dekade berikutnya untuk menghidupkan kembali kenangan-kenangan itu.”

Royal at Chinatown adalah salah satu tempat di mana kenangan-kenangan itu pernah lahir, dan hingga kini, masih berusaha dihidupkan kembali, kendati hanya menyisakan bangunannya saja, di jantung Chinatown Singapura. *** [240126]


Kepustakaan:

Chinatown Singapore. (n.d.). Hotel Calmo (Former Lai Chun Yuen 旧梨春园). Chinatown Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://chinatown.sg/visit/former-lai-chun-yuen/

National Archives of Singapore. (n.d.). The building located at junction of Trengganu Street and …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/f5881c6c-1161-11e3-83d5-0050568939ad

National Archives of Singapore. (n.d.). The building in the centre was the famous “Lai Chun Yuen” …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/e6c678f3-1161-11e3-83d5-0050568939ad

Richard, L. (2019, October 24). Postingan Lee Richard dalam Grup 十里之外 Shí Lǐ zhī wài. Facebook. https://web.facebook.com/groups/265763383605892/posts/1264406923741528/?_rdc=1

Royal Group. (n.d.). Royal at Chinatown. Royal Group; Royal Group Investments Pte Ltd. Retrieved January 24, 2026, from https://royalgroup.sg/wp2019/royal-chinatown-retail-sg/



Share:

Sri Mariamman Temple: Jejak Dewi Hujan di Jantung Chinatown Singapura

Kuil Sri Mariamman (Sri Mariamman Temple) di 244 South Bridge Road, Chinatown, Singapura (Foto: Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A./14 Desember 2025)

Begitu bus wisata bandara melambat dan berhenti di jantung kawasan Chinatown, Singapura, suasana Ahad pagi (14/12/2025) terasa berbeda. Peserta Free Singapore Tour turun satu per satu, lalu berjalan kaki mengikuti pemandu menuju Chinatown Heritage Centre. Di tengah hiruk-pikuk persimpangan dan derap langkah wisatawan, sebuah bangunan penuh warna tiba-tiba menarik perhatian peserta.

Saat di persimpangan lampu lalu lintas, Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A. - atau akrab disapa Pak Nino, sosiolog Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) - mengangkat kamera. Bidikannya tertuju pada sebuah kuil yang berdiri anggun tak jauh dari Jamae (Chulia) Mosque. Di antara masjid dan ruko-ruko tua Chinatown, bangunan itu seolah menjadi penanda bisu tentang lapisan sejarah Singapura yang majemuk.

“Ini Sri Mariamman Temple,” ujar sang pemandu, perempuan paruh baya dengan suara mantap. “Kuil Hindu tertua di Singapura.”


Kuil Tertua dan Jejak Awal Singapura

Sri Mariamman Temple, atau dahulu dikenal sebagai Mariamman Kovil atau Kling Street Temple, didirikan pada tahun 1827. Usianya nyaris setua Singapura modern. Kuil ini dibangun sebagai tempat ibadah bagi para imigran India Selatan, khususnya dari distrik Nagapattinam dan Cuddalore, yang datang mencari penghidupan di pelabuhan baru ciptaan Stamford Raffles.

Awalnya, bangunan kuil hanyalah struktur sederhana dari kayu beratap jerami di South Bridge Road. Namun di sanalah sebuah patung kecil Dewi Mariamman - dikenal sebagai Sinna Amman - dipasang oleh pendirinya, Naraina Pillai. Menariknya, patung kecil tersebut masih tersimpan hingga kini di ruang suci utama kuil, menjadi penghubung nyata antara masa lalu dan masa kini.

Naraina Pillai sendiri adalah figur penting dalam sejarah awal Singapura. Ia tiba pada Mei 1819 bersama Sir Thomas Stamford Raffles, meninggalkan Penang karena terpikat visi besar tentang Singapura. Kariernya berliku, mulai dari kepala juru tulis pemeriksa koin di perbendaharaan kolonial, hingga akhirnya diberhentikan. Namun nasib membawanya menjadi kontraktor bangunan pertama di Singapura - dan namanya pun tercatat sebagai pendiri Kuil Sri Mariamman.


Dari Bangunan Sederhana ke Mahakarya Dravida

Seiring waktu, kuil ini berkembang. Pada 1843, bangunan dari plester dan batu bata didirikan. Lebih dari satu abad kemudian, tepatnya pada 1962, struktur kuil diperbarui secara menyeluruh dengan ukiran rumit yang mencerminkan arsitektur kuil India Selatan. Gopuram, yakni menara gerbang utama, yang semula polos dan dibangun pada akhir abad ke-19, direkonstruksi pada 1930-an dan diperkaya detail pahatan pada 1960-an.

Kini, gopuram lima lantai menjadi ciri paling mencolok. Setiap tingkatnya mengecil ke atas, menciptakan ilusi ketinggian yang megah. Relief dewa-dewi Hindu, binatang mitologis, dan tokoh budaya menghiasi permukaannya. Konon, seluruh pahatan itu dikerjakan oleh pengrajin terampil yang didatangkan langsung dari Nagapattinam dan Cuddalore - daerah asal komunitas Tamil yang membangun kuil ini.

Ungkapan arsitek modern berkebangsaan Jerman, Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969), terasa relevan di sini: “God is in the details.” Dewa memang hadir dalam rincian - dalam setiap pahatan, warna, dan proporsi yang menjadikan Sri Mariamman Temple bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan karya seni spiritual.


Pusat Ibadah, Perlindungan, dan Komunitas

Lebih dari fungsi religius, Kuil Sri Mariamman pernah menjadi tempat berlindung bagi para imigran baru di masa kolonial. Di sinilah mereka mencari dukungan sosial, spiritual, bahkan legal. Pada masa ketika hanya kuil yang berwenang mengesahkan pernikahan Hindu, Sri Mariamman Temple berperan sebagai Kantor Pencatatan Pernikahan umat Hindu di Singapura.

Denah kuil mengikuti pakem arsitektur Dravida, yang umumnya terdiri dari ruang suci para dewa, aula utama bagi pemuja, dan menara gerbang sebagai transisi sakral dari dunia luar. Bagian-bagian inti, seperti dinding luar, kubah, dan tempat suci, berasal dari 1840-an, sementara serambi penghubung ditambahkan pada 1916. Semua elemen ini menjadikan kuil tersebut sebagai arsip hidup perjalanan komunitas Hindu di Singapura.


Dewi Hujan dan Harapan Manusia

Nama Sri Mariamman berakar jauh di India Selatan. Dalam tradisi Tamil Nadu dan Karnataka, pemujaan terhadap Dewi Mariamman diyakini lebih tua dari agama Hindu Weda itu sendiri, hal ini mungkin telah berusia lebih dari 4.000 tahun. “Mari” berarti hujan, dan “Amman” berarti ibu. Ia adalah Dewi Ibu Hujan, pemberi kesuburan tanah dan manusia.

Dalam masyarakat desa kuno, Mariamman juga menjadi pelindung dari wabah penyakit seperti cacar dan campak, penyakit yang dahulu sangat ditakuti. Hingga kini, perempuan hamil masih mempersembahkan gelang kaca sebagai doa untuk persalinan yang selamat. Tradisi-tradisi itu menyeberang laut bersama para perantau Tamil dan berlabuh di Singapura, di dalam dinding Kuil Sri Mariamman.


Warisan di Tengah Kota Modern

Di tengah gedung-gedung modern dan lalu lintas Chinatown, Kuil Sri Mariamman berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah, migrasi, dan keyakinan. Ia bukan hanya tujuan wisata religi, tetapi juga penanda bahwa Singapura dibangun dari perjumpaan banyak budaya.

Bagi Pak Nino, satu jepretan kamera di persimpangan lampu merah itu menangkap lebih dari sekadar bangunan. Ia merekam kisah tentang iman, detail arsitektur, dan sejarah panjang yang menyatu, merupaka sebuah fitur perjalanan yang mengingatkan bahwa di kota modern sekalipun, jejak masa lalu tetap hidup, berwarna, dan bermakna. *** [210126]


Kepustakaan:

BIMsmith. (2021, January 07). Top Architecture Quotes (2021) - Quotes about Architecture from Famous Architects. Bimsmith. https://blog.bimsmith.com/Top-Architecture-Quotes-2021-Quotes-about-Architecture-from-Famous-Architects

Hindu Endowments Board. (n.d.). Sri Mariamman Temple. Sri Mariamman Temple. Retrieved January 20, 2026, from https://heb.org.sg/smt/

Sri Mariamman Temple. (n.d.). Temple History. Sri Mariamman Temple; Hindu Endowments Board. Retrieved January 19, 2026, from https://smt.org.sg/HEB/Template3/history

Storytrails. (n.d.). Mariamman: The Village Goddess Who Travelled - Storytrails. Storytrails. Retrieved January 19, 2026, from https://storytrails.in/culture/mariamman-the-village-goddess-who-travelled/

Tan, B. (n.d.). Naraina Pillai. National Library and Archives Board. Retrieved January 19, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=e751791b-cc41-4eb2-abb8-ff5b43b46ff9

Taskos, N. (2020, May 13). Sri Mariamman Temple. Atlas Obscura. https://www.atlasobscura.com/places/sri-mariamman-temple



Share:

Masjid Sultan: Ketika Usia Tua Tetap Keren

Muscat itself is a mixture of impersonal modern buildings, shopping malls, mosques, traditional souks, tarmac and sand.” -- Fiona Bruce

Setelah menelusuri lorong waktu di Niu Che Shui dan meresapi kisah perjuangan di Chinatown Heritage Centre (CHC), rombongan Free Singapore Tour diajak pemandu untuk beralih ke sebuah tempat lain yang memancarkan pesona berbeda, yaitu Kampong Glam.

Kawasan ini adalah jantung historis komunitas Muslim Singapura. Seperti dijelaskan Katyana Melic (2018), nama "Glam" diambil dari pohon gelam yang dahulu mendominasi daerah ini. Perkembangan pesat menyusul pembangunan Victoria Street dan North Bridge Road, menarik gelombang imigran dari Malaya, Indonesia, dan dunia Arab. 

Fasad Masjid Sultan di Kampong Glam, Singapura

Kampong Glam pun berkembang menjadi mosaik hidup yang dihiasi landmark seperti Istana Kampong Glam, Sekolah Arab Alsagoff, dan tentu saja, sang magnet utama, yaitu sebuah masjid bernama Masjid Sultan.

Berada di Jalan Muscat No. 3, masjid ini menyimpan narasi panjang yang dimulai pada 1824. Atas perintah Sultan Hussein Mohamed Shah (1776-1835), sultan terakhir Johor-Riau-Lingga, berdirilah sebuah bangunan sederhana beratap genteng tiga tingkat. Namun, wajahnya yang kita kenal sekarang adalah mahakarya kebangkitan. Dirancang oleh Denis Santry dari firma Swan & Maclaren dan selesai pada 1932. 

Masjid ini adalah simbol ambisi dan inklusivitas. Kubah emasnya yang ikonik, berdasarikan botol-botol kaca yang disumbangkan umat Muslim dari segala lapisan ekonomi, merupakan metafora indah, yakni kontribusi setiap individu, sekecil apa pun, mampu membangun sesuatu yang agung dan abadi.

Pondasi menara sudut Masjid

Ditetapkan sebagai monumen nasional pada 1975, Masjid Sultan bukan sekadar bangunan tua yang diam. Ia adalah entitas yang hidup dan terus "keren" menjalani usianya yang hampir dua abad. Gaya arsitektur Indo-Saracenic-nya yang megah, dengan kubah, menara, dan detail kaligrafi yang memukau, menciptakan atmosfer Islami yang kuat di sekitarnya. 

Untuk mencapainya, pengunjung akan melewati Jalan Bussorah yang instagenik, dihiasi deretan rumah Muslim dua lantai yang kini berfungsi sebagai kafe dan butik, dikelilingi ruko-ruko yang berjejal. 

Seperti diungkapkan oleh Fiona Elizabeth Bruce, seorang jurnalis, pembaca berita, dan presenter televise Inggris:

"Muscat sendiri merupakan perpaduan antara bangunan modern yang impersonal, pusat perbelanjaan, masjid, pasar tradisional, jalan beraspal, dan pasar." 

Kubah masjid dilihat dari Bussorah Street

Di situlah keunikan Masjid Sultan! Ia berdiri kokoh dan anggun sebagai poros spiritual dan budaya di tengah gegap gempitanya kehidupan urban yang terus berubah.

Fungsinya pun melampaui rumah ibadah. Ia adalah pusat komunitas, tempat berkumpul, dan penjaga warisan. Sebagai magnet wisatawan, masjid ini aktif menawarkan tur berpemandu dan pameran, yang tidak hanya memperkaya pengalaman pengunjung tentang warisan Muslim Singapura, tetapi juga menjadi sumber pendapatan untuk pemeliharaannya. 

Komitmen untuk merawat warisan ini diakui secara nasional ketika Masjid Sultan memenangkan kategori Restorasi dalam Penghargaan Warisan Arsitektur dari Otoritas Pengembangan Kota (Urban Redevelopment Authority/URA) pada 2016. Penghargaan ini mengapresiasi upaya pemugaran yang sensitif, memastikan setiap perbaikan tetap menghormati jiwa asli bangunan.

Lepak Sultan di ujung Bussorah Street

Masjid Sultan membuktikan bahwa usia tua bukanlah halangan untuk tetap relevan dan memesona. Dari rumah ibadah sederhana, ia bertransformasi menjadi monumen nasional yang megah, lalu menjadi pusat budaya yang dinamis, dan kini menjadi simbol abadi dari identitas multikultural Singapura yang inklusif. 

Di bawah kubah emasnya yang bersinar, tersimpan cerita tentang iman, komunitas, dan ketangguhan sebuah bangunan yang, meski berusia tua, tetap sangat, sangat keren. *** [060126]

Kepustakaan:

Abd Rahman, N.-A. (2018, September). Sultan Hussein Shah. National Library and Archives Board. https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=efee956c-23b4-46b2-8ff5-1e1c0b366210

Dr. Daniel CF Ng. (2024, October 27). The Sultan Mosque: A Historic Landmark with Modern Relevance. Linkedin. https://www.linkedin.com/pulse/sultan-mosque-historic-landmark-modern-relevance-daniel-cf-ng-%E4%BC%8D%E9%95%BF%E8%BE%89-hcuec/

Lou, E. (1985). CONSERVING THE ETHNIC ENCLAVE: THE CASE OF KAMPONG GLAM IN SINGAPORE (pp. 1–213) [Master of City Planning and Master of Science in Architecture Studies at the Massachusetts Institute of Technology]. https://share.google/QWdEPHj5SHH9isEjE

Melic, K. (2018, January). When Old is Also Hip. URBAN SOLUTIONS. https://isomer-user-content.by.gov.sg/50/aeb1d6c5-4889-4f13-818d-74d5d35d5364/case_study-sg-kampong-glam.pdf

Zachariah, N. A. (2016, October 06). Kampong Glam’s Sultan Mosque bags heritage design award. The Straits Times. https://www.straitstimes.com/lifestyle/home-design/kampong-glams-sultan-mosque-bags-heritage-design-award

Share:

Chinatown Heritage Centre: Melintasi Lorong Waktu di Jantung Niu Che Shui

You scour these Chinatowns of the mind, translating them like sutras Xuan Zhang fetched from India, testing ways return might be possible against these homesick inventions, trace the traveller's alien steps across borders, and in between discover how transit has a way of lasting, the way these Chinatowns grew out of not knowing whether to return or to stay, and then became home.” -- Boey Kim Cheng, Clear Brightness

Ketika tiba di kawasan Chinatown, atau di Singapura umumnya dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai Niu Che Shui, pemandu Free Singapore Tour pada Ahad (14/12/2025) langsung mengajak jalan menuju ke Pagoda Street sebelum berkeliling dari lorong ke lorong yang ada di Pecinan. 

Kenapa ke Pagoda Street? Karena di sinilah, tersembunyi di balik fasad ruko berwarna pastel, peserta tour bisa menyelami inti perjalanan Chinatown Singapura melalui Chinatown Heritage Centre (CHC).

Chinatown Heritage Centre in Singapore

CHC bukan sekadar museum; ia adalah mesin waktu. Terletak di tiga shophouse (rumah toko) yang direstorasi di Pagoda Street, museum ini menampilkan sejarah dan kehidupan imigran Tionghoa awal melalui pameran imersif yang memukau. 

Ia bukan hanya menunjukkan artefak, tetapi menciptakan kembali ruang hidup otentik dari tahun 1950-an, menawarkan pengalaman multisensorik untuk memahami secara intim perjuangan, pengorbanan, dan ketahanan komunitas perintis ini.

Dibuka pada Juli 2002 sebagai bagian dari proyek revitalisasi Chinatown senilai $97,5 juta, CHC hadir untuk mengisi narasi yang sering terabaikan. Ia mengingatkan kita bahwa jauh sebelum kedatangan Stamford Raffles pada 1819, sejumlah kecil imigran Tionghoa telah menetap di sini. 

Kamar-kamar para imigran Tionghoa di Singapura

Namun, gelombang besar baru datang setelah pelabuhan bebas Singapura didirikan. Untuk memudahkan administrasi, Raffles pun mengelompokkan komunitas imigran ke dalam kawasan etnis. Dalam Rencana Kota 1828, area dari Boat Quay tepi barat daya Sungai Singapura ditetapkan sebagai Kampong Tionghoa.

Kampong inilah yang menjadi cikal bakal Chinatown. Ia berkembang menjadi pemukiman mandiri yang padat, sekaligus titik transit bagi kuli yang menuju Malaya. Menurut para sarjana seperti William Skinner dan Wang Gungwu, Pecinan ini adalah transplantasi praktik sosial dari tanah leluhur. Prinsip organisasi berdasarkan keturunan, asal lokalitas, dan pekerjaan dibawa serta, membentuk mosaik unik di tanah rantau.

Di dalam Chinatown itu sendiri, terjadi pembagian alami berdasarkan kelompok dialek: orang Kanton di Temple Street, orang Hokkien di Telok Ayer, orang Teochew di South Canal Road. Kuil-kuil seperti Thian Hock Keng (1841) menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah; mereka adalah simpul sosial dan pelindung budaya. Kawasan ini juga menjadi bukti hidup keragaman awal, dengan berdampingannya Masjid Jamae, Kuil Sri Mariamman, dan Dargah Nagore. Namun, kisah sejati Chinatown adalah kisah manusia biasa. Dan di sinilah CHC bersinar.

Rickshaw Noodle Street Hawker

Merengkuh Pengalaman Imigran

Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung dibawa ke dalam labirin pengalaman. Koridor yang panjang dan sempit menciptakan kembali sesaknya kehidupan bersama, di mana banyak keluarga dengan perdagangan dan asal-usul berbeda tinggal berhimpitan. Suara percakapan, tangisan bayi, dan aroma masakan dari dapur bersama membangun atmosfer yang nyata.

Pameran dimulai dengan perjalanan laut yang mengerikan. Sebuah peta proyeksi 3D di atas perahu layar tradisional menceritakan kisah berbahaya melintasi Laut Tiongkok Selatan. Banyak yang tak selamat. Bagi yang berhasil, lentera merah yang menyala di pelabuhan menjadi simbol harapan akan kehidupan baru. Mereka adalah Sinkeh (“tamu baru”) yang langsung terlempar ke dunia hiruk-pikuk dengan bahasa, bau, dan aturan yang asing.

Proyeksi peta interaktif kemudian mengungkap bagaimana Sinkeh ini membentuk kantong-kantong berdasarkan dialek di dalam Pecinan, masing-masing dengan perdagangan dan budaya khas. Namun, kehidupan keras sering membawa pada jalan gelap. CHC tidak menghindar dari narasi suram ini; ia menghidupkan kisah pilu pelacur dan kecanduan opium di tengah gemerlap tempat judi, menggambarkan keputusasaan yang bisa melanda mereka yang terpinggirkan.

Namun, Chinatown juga tentang kehidupan, kegembiraan, dan komunitas. Sebuah teater imersif memproyeksikan festival-festival multikultural  - dari Tahun Baru Imlek ke Deepavali - di dinding dan lantai, lengkap dengan narasi tentang bagaimana perayaan itu dirayakan. Suasana pasar yang ramai dengan pendongeng, tukang cukur, penulis surat, dan opera keliling pun dihidupkan kembali.

Cinema-on-Wheels

CHC juga merayakan warisan yang bertahan. Ia menampilkan kisah usaha keluarga yang telah berlangsung beberapa generasi, dari toko obat tradisional hingga kedai makanan, yang beberapa telah menjadi merek ikonik melampaui batas Singapura.


Pusat yang Hidup dan Diakui

Kesuksesan CHC terbukti. Pada 2018, ia menduduki peringkat ketiga museum di Singapura dan ke-24 di Asia versi TripAdvisor. Pada 2019, ia disambangi oleh 247.000 pengunjung. Lebih dari sekadar atraksi turis, CHC adalah portal pendidikan yang disambut banyak kelompok sekolah, tempat di mana sejarah hidup menjadi pelajaran yang relevan.

Pada akhirnya, Chinatown Heritage Centre mengajak kita merenungkan eseBnsighn dari tempat seperti Niu Che Shui. Ia bukan sekadar distrik geografis, tetapi lanskap memori dan identitas. Seperti dirangkum dengan puitis oleh penyair Singapura, Boey Kim Cheng, dalam Clear Brightness (2012) :

Singapore Heritage di Chinatown

“Kau menjelajahi Pecinan-Pecinan dalam pikiran ini, menerjemahkannya seperti sutra yang dibawa Xuan Zhang dari India, menguji cara-cara agar kepulangan mungkin terjadi di tengah-tengah kerinduan akan kampung halaman, menelusuri jejak asing sang pelancong melintasi perbatasan, dan di antaranya menemukan bagaimana perjalanan memiliki cara untuk bertahan lama, bagaimana Pecinan-Pecinan ini tumbuh dari ketidakpastian apakah harus kembali atau tinggal, dan kemudian menjadi rumah.”

CHC berdiri sebagai monumen bagi “ketidakpastian” itu, sebuah perjalanan penuh lika-liku yang akhirnya mengakar, berubah, dan menjelma menjadi rumah. Di setiap lorong sempit yang direkreasinya, di setiap suara dan bayangan yang dihidupkannya, kita diajak untuk memahami bahwa warisan terbesar Chinatown adalah kisah ketangguhan manusia itu sendiri. *** [040125]


Kepustakaan:

Cornelius-Takahama, V. (2020, January). Chinatown. National Library Board’s (NLB). https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=e965a1df-e1be-4016-a1a1-dc86bc2bc107

Multimedia People. (n.d.). MMP Singapore – Experiential Design in the Metaverse and around You! Chinatown Heritage Centre Experiential Media. MMP Singapore - Experiential Design in the Metaverse and around You! Retrieved January 04, 2026, from https://mmpeople.com.sg/2015/chinatown-heritage-centre/

Singapore History Consultants. (n.d.). Chinatown Heritage Centre. Singapore History Consultants. Retrieved January 04, 2026, from https://www.shc.com.sg/heritage-sites/chinatown-heritage-centre/

Yeoh, Brenda S. A., & KONG, Lily.(2012). Singapore’s Chinatown: Nation building and heritage tourism in a multiracial city. Localities, 2, 117-159.  Available at: https://ink.library.smu.edu.sg/soss_researc 



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami