![]() |
| Royal at Chinatown, Singapore, on Free Singapore Tour on Sunday (14/12/2025) |
“There are a few years when you make almost all of your important memories. And then you spend the next few decades reliving them.” -- Charles Yu, Interior Chinatown
Langkah saya sempat melambat ketika mengikuti Free Singapore Tour bersama Tim NIHR UB pada Ahad (14/12/2025) saat transit di Singapura sepulang dari menghadiri Third Annual Symposium NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).
Saya tertarik melihat sebuah bangunan tua berfasad unik di sudut pertemuan Jalan Trengganu dan Jalan Smith yang berada Chinatown, Singapura. Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata, bangunan itu seolah berdiri tenang yang menyimpan cerita panjang yang tak langsung terlihat. Namanya kini dikenal sebagai Royal at Chinatown.
Saat ini, Royal at Chinatown adalah bangunan konservasi tiga lantai yang telah bertransformasi mengikuti zaman. Lantai dasarnya diisi deretan toko ritel, lantai dua menjadi rumah bagi Yum Cha Restaurant yang populer, sementara lantai tiga menjelma hotel butik dengan 40 kamar yang dikelola oleh HOTEL 1888 COLLECTION. Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2019, memberi napas baru tanpa menghapus identitas lamanya.
Namun jauh sebelum menjadi hotel dan restoran, tempat ini pernah menjadi pusat denyut kebudayaan Tionghoa di Singapura.
Di sinilah, pada tahun 1887, berdiri Gedung Opera Lai Chun Yuen yang menghadirkan sebuah teater megah berkapasitas 834 kursi yang pada masanya dianggap sebagai “Broadway” atau “West End”-nya opera Kanton.
Pada dekade 1910-an hingga 1920-an, gedung ini menjadi magnet hiburan utama bagi komunitas imigran Tionghoa. Bintang-bintang opera ternama dari Tiongkok dan Hong Kong silih berganti naik panggung, menarik penonton dari berbagai latar dialek dan kelas sosial.
Opera, bagi masyarakat Tionghoa kala itu, bukan sekadar hiburan. Pertunjukan dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada dewa dan roh. Karena itulah, orang-orang datang berbondong-bondong. Bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk menjalankan keyakinan.
Gedung ini dulunya dimiliki oleh Lin Dingxing, kemudian Loh Ghim, dan dirancang oleh arsitek Alfred Bidwell dari firma Swan and Maclaren, yang dikenal piawai menyesuaikan desain dengan fungsi sosial bangunan.
Bentuknya menyerupai rumah teh tradisional Tiongkok bertingkat tiga, lengkap dengan balkon kayu. Penonton duduk di meja-meja kecil di lantai pertama, menyeruput teh dan camilan. Panggung berada di lantai dua, sementara pengunjung berada di bawah langit-langit tinggi yang dihiasi ornamen lukis dan lentera temaram. Penonton kaya bahkan memiliki bilik pribadi dengan layanan lebih eksklusif.
Pertunjukan digelar dua kali sehari sebagai tanda betapa populernya gedung ini. Smith Street pun hidup, bukan hanya sebagai pusat hiburan, tetapi juga kawasan ekonomi. Rumah-rumah toko tiga lantai di sekitarnya yang umumnya bergaya Barok dan Tionghoa itu menjadi tempat tinggal sekaligus ruang usaha. Teater membawa rezeki! Penonton berbelanja, makan, dan menginap di sekitar kawasan.
Namun kejayaan itu perlahan memudar. Akhir 1930-an, film bersuara mulai menggusur opera. Pada 1941, Lai Chun Yuen diubah menjadi bioskop, sebelum akhirnya tak bertahan melewati masa Pendudukan Jepang. Gedung ini rusak parah selama Perang Dunia II, lalu pascaperang beralih fungsi menjadi toko, bahkan gudang pedagang kaki lima.
Di balik kemegahannya, tempat ini juga menyimpan sisi gelap. Smith Street kala itu dikenal sebagai distrik lampu merah. Bilik-bilik pribadi di teater kerap digunakan untuk aktivitas rahasia, dan merokok opium adalah pemandangan lazim. Ironisnya, gedung opera ini juga pernah menjadi tempat penggalangan dana kemanusiaan, seperti untuk Dana Bantuan Banjir Canton, yang sukses berkat popularitas para pemain ternama.
Kini, saat rombongan Free Singapore Tour melintasi bangunan ini, yang terlihat adalah wajah baru Royal at Chinatown. Nama-nama usaha modern terpampang, termasuk Rest Chinatown Hotel. Di lantai bawah menghadap Jalan Trengganu, berdiri Toko Antik Fu Xing (福兴古玩), yang bahkan menawarkan konsultasi ramalan nasib, sebuah pengingat bahwa tradisi lama belum sepenuhnya pergi.
Opera Lai Chun Yuen memang telah lama sirna. Namun kisahnya masih berdenyut di balik dinding bangunan ini. Gedung opera Chinatown, terutama pada masa kejayaannya di tahun 1920-an, bukan sekadar ruang pertunjukan. Ia adalah sekolah budaya, ruang temu komunitas, dan rumah bagi kenangan kolektif para imigran Tionghoa yang membangun hidup dari nol di tanah baru.
Seperti yang ditulis Charles Yu, seorang penulis dan pengacara Amerika, dalam Interior Chinatown (2020):
“Ada beberapa tahun di mana Anda hampir menciptakan semua kenangan penting Anda. Dan kemudian Anda menghabiskan beberapa dekade berikutnya untuk menghidupkan kembali kenangan-kenangan itu.”
Royal at Chinatown adalah salah satu tempat di mana kenangan-kenangan itu pernah lahir, dan hingga kini, masih berusaha dihidupkan kembali, kendati hanya menyisakan bangunannya saja, di jantung Chinatown Singapura. *** [240126]
Kepustakaan:
Chinatown Singapore. (n.d.). Hotel Calmo (Former Lai Chun Yuen 旧梨春园). Chinatown Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://chinatown.sg/visit/former-lai-chun-yuen/
National Archives of Singapore. (n.d.). The building located at junction of Trengganu Street and …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/f5881c6c-1161-11e3-83d5-0050568939ad
National Archives of Singapore. (n.d.). The building in the centre was the famous “Lai Chun Yuen” …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/e6c678f3-1161-11e3-83d5-0050568939ad
Richard, L. (2019, October 24). Postingan Lee Richard dalam Grup 十里之外 Shí Lǐ zhī wài. Facebook. https://web.facebook.com/groups/265763383605892/posts/1264406923741528/?_rdc=1
Royal Group. (n.d.). Royal at Chinatown. Royal Group; Royal Group Investments Pte Ltd. Retrieved January 24, 2026, from https://royalgroup.sg/wp2019/royal-chinatown-retail-sg/





















