Wednesday, May 30, 2012

Asal Usul Nama Tolitoli

Daerah sepanjang pesisir pantai Utara yang berbatasan dengan Sungai Lakuan, Gunung Raeta, Gunung Tabadak sampai dengan ke selatan yang berbatasan dengan Sojool Seoo Lenjuu, Pualau Taring (Pulau Taling) adalah merupakan daerah pemukiman suatu suku bangsa yang disebut suku bangsa Tolitoli. Dalam wilayah ini terdapat juga kelompok-kelompok suku Dondo dan suku Dampal yang letaknya berada di sebelah selatan daerah ini.
Sebagai suatu suku bangsa yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ke-“BHINNEKA TUNGGAL IKA”-an bangsa Indonesia maka suku bangsa Tolitoli ini juga memiliki sejarah, asal usul, adat istiadat dan kebudayaan sendiri baik sebagai ciri khas budaya daerahnya maupun sebagai identitas eksistensinya sebagai suatu suku bangsa.
Oleh karena adanya adaptasi, daya integritas dan sifat toleransi yang demikian tinggi yang dimiliki oleh suku bangsa ini maka seolah-olah ia melarut, menyatu dan melebur ke dalam keterpaduan dengan suku-suku bangsa yang kemudian dating bermukim serta menetap di daerah ini.
Mengenai bahasa Tolitoli ini oleh A.C. Kruyt dan Dr. Andriani disebut sebagai bahasa Geiga termasuk ke dalam kelompok bahasa-bahasa Tomini yang daerah sebarannya antara Desa Towera di wilayah Kabupaten Donggala sampai ke Desa Molosipat yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Gorontalo.
Adapun mengenai asal usul nama Tolitoli ini menurut legenda kata Tolitoli berasal dari kata Totolu yang artinya tiga yang maksudnya bahwa suku bangsa Tolitoli ini berasal dari Tiga Manusia Kayangan yang menjelma ke bumi ini masing-masing melalui: Olisan Bulan, Bumbung Lanjat dan Ue Saka. Yang menjelma melalui Olisan Bulan (bambu emas) dikenal sebagai Tau Dei Baolan atau Tamadika Baolan, yang menjelma melalui Ue Saka (sejenis rotan) dikenal sebagai Tau Dei Galang atau Tamadika Dei Galang, sedangkan seorang putri yang menjelma melalui Bumbung Lanjat (puncak pohon langsat) dikenal sebagai Tau Dei Bumbung Lanjat atau Boki Bulan.
Dengan demikian jelaslah bahwa nama Tolitoli ini berasal dari kata Totolu (Tau Tolu) yang artinya tiga (tiga orang) yang kemudian sebutan ini berubah menjadi Tontoli sebagaimana tulisannya yang kita lihat dalam Lange-Contract 5 Juli 1858 yang ditandatangani antara Dirk Francois dari pihak Belanda dengan Raja Syaifuddin Bantilan. Selanjutnya yang terakhir berubah menjadi Tolitoli pada tahun 1918 yang terlihat dalam penulisan Korte Verklaring yang ditandatangani oleh Raja Haji Mohammad Ali dengan Pemerintah Hindia Belanda yang ketika itu ibukota kerajaan berpusat di Nalu.
Kota Tolitoli letaknya cukup strategis dengan arah membujur melalui kaki bukit Panasakan sampai Gunung Tuweley yang saat sekarang ini di atas gunung-gunung tersebut sudah bertaburan tanaman cengkeh yang membuat Kota Tolitoli menjadi indah dan menarik. ***

Sumber:
§      Tjoek Soedarmadji dkk., 1983, Mengenal Boul Tolitoli, Tolitoli: Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Buol Tolitoli, hal. 63

0 comments:

Post a Comment