Wednesday, May 16, 2012

Pernikahan Tradisional Jawa : Ritual, Doa dan Harapan

Bagi masyarakat Jawa, seremoni pernikahan menjadi suatu hal yang amat penting dan bersifat sakral. Merupakan bentuk legalitas secara adat, antara calon pengantin pria dan wanita dalam ikatan perkawinan. Dan merupakan kebahagiaan bagi orang tua, di mana telah berhasil mengasuh putrinya, hingga menghantar ke gerbang hidup berumah tangga.
Ciri khas dari seremoni pernikahan dalam adat Jawa adalah waktu penyelenggaraan harus merupakan waktu yang terpilih, begitu juga dengan tempat dan para panitianya. Calon pengantin harus dalam keadaan bersih secara spiritual dan tidak boleh meninggalkan sesaji yang merupakan pelengkap upacara. Ciri-ciri yang merupakan persyaratan dari sebuah upacara ritual ini harus diikuti dengan cermat dan tertib, agar harapan-harapan yang terkandung dalam doa di belakang upacara tersebut bisa tercapai dengan selamat. Selain itu, bagian-bagian dari adicara pernikahan adat Jawa juga merupakan permohonan agar dapat memberikan kebahagiaan hidup di masa depan bagi kedua calon pengantin. Oleh karena itu prosesi demi prosesi dilakukan dengan serius dan penuh perhatian.
Pertama kali dimulai nembung. Keluarga calon pengantin pria mengutus duta saraya menemui keluarga calon pengantin putri untuk meminang anak perempuannya. Selanjutnya lamaran. Keluarga calon pengantin pria berkunjung ke rumah keluarga pengantin putri dengan membawa peningset, biasanya terdiri dari satu set busana untuk calon pengantin putri, penganggon (perhiasan emas, perak dan lain-lain) beserta sarana-sarana: pisang ayu, daun suruh, tebu, cengkir gading dan jeruk bali. Semuanya itu menjadi simbol penghormatan dan wujud keseriusan calon pengatin putra untuk menikahi calon pengantin putri.
Dalam tradisi Jawa, penyelenggaraan adicara pernikahan adalah pihak keluarga pengantin putri. Namun, bila keluarga pengantin putra ingin mengadakan seremoni pernikahan atau pesta, mereka dapat mengadakan adicara ngunduh mantu.
Sebagai langkah awal sebelum adicara pernikahan dimulai, orang tua dari calon pengantin putri melakukan ritual bucalan, adalah penyucian atau memberi sesaji pada tempat-tempat yang dianggap keramat; biasanya perempatan jalan, jembatan, pojok rumah, kamar mandi, kamar pengantin dan wisma prosesi pernikahan. Ini dilakukan sebagai bentuk pemberitahuan atau mohon ijin kepada roh-roh, perihal rencana pernikahan dan mohon dijauhkan dari segala gangguan.
Setelah itu bladahan, membuka pintu untuk pertama kali, sebagai simbol rasa hormat dalam menyambut para tamu dan juga mempersilakan para bidadari untuk memberikan berkat. Kemudian bleketepe diletakkan di atas atap rumah, sebagai simbol pengharapan dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Prosesi ini dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin putri. Bleketepe merupakan anyaman blarak (daun kelapa) disebut juga tarub, sesuai dengan nama pencetusnya, Ki Ageng Tarub.
Setelah itu tuwuhan diletakkan di sisi kiri kanan pintu utama. Berupa dua batang pisang raja lengkap denga jantungnya, cengkir gading  (kelapa gading), seikat padi, tebu wulung, daun beringin, daun dadap serep, rumput ilalang, daun andong, daun opo-opo, daun kluwih dan daun girang, semuanya diikat erat dengan janur kuning (semuanya sebagai perlambang kemakmuran, manisnya kehidupan, mengayomi, dinginnya hati sanubari, merenda harapan agar perjalanan kedua calon pengantin tiada halangan suatu apa, bahagia dan rejeki melimpah). Tuwuhan ini juga dimaknai sebagai gapura kebahagiaan, yang mencerminkan harapan kebahagiaan bagi yang melewati, baik tamu maupun pengantin.
Kemudian, adang sepisan dilakukan oleh tuan rumah guna melayani para tamu. Ini dilakukan dengan iringan doa-doa oleh sesepuh untuk memohon berkat Tuhan, serta berharap hidangan yang disajikan dapat mencukupi setiap orang.
Setelah ritual-ritual persiapan beserta doa-doanya usai dilaksanakan, selanjutnya calon pengantin melakukan prosesi sebagai berikut:
Sungkeman atau ngabekten, sebelum siraman calon pengantin melakukan sembah sujud, mohon berkat dihadapan kedua orang tuanya atau sesepuh yang lain.
Siraman, calon pengantin melakoni prosesi dimandikan dengan air pawitro sari bertujuan membersihkan diri, menyucikan jiwa raga. Siraman juga merupakan lambang perawatan yang terakhir, karena setelah menikah akan hidup mandiri. Air untuk siraman diambil dari tujuh sumur atau mata air yang dipercaya mempunyai aura yang bagus dan dicampur dengan kembang setaman (aneka macam bunga). Calon pengantin duduk di atas klasa bangka yang terdiri dari daun koro, kluwih, dadap serep dan ilalang, kain letrek, kain sindur, kain selendang lurik yuyu sekandang dan tuluhwatu. Kain letrek lambing kemudahan dalam melahirkan anaknya kelak, slindur lambang ayah ibu/orang tua dan tuluhwatu lambang sulitnya mengarungi kehidupan. Siraman calon pengantin ini dilakukan oleh tujuh orang wanita, biasanya para sesepuh.
Setelah adicara siraman selesai, kemudian orang tua pengantin memecahkan klenthing (tempat air, sering diganti dengan kendi) dengan iringan doa, sembari berseru “wis katon pamore”, sudah nampak pamornya. Merupakan ungkapan kegembiraan bahwa sang anak sudah jelas jodohnya dan akan segera menikah. Memecahkan klenthing adalah lambang bahwa orang tua rela tidak merawat anaknya lagi. Karena dengan tidak adanya klenthing, maka tidak dapat memandikannya lagi. Ritual ditutup bila ayah pengantin menggendong calon pengantin memasuki kamar rias pengantin.
Pagar rekma, kedua orang tua calon pengantin memotong tiga helai rambut putrinya, dengan harapan segala sukerta akan lebur. Setelah itu, potongan rambut dipendam, sebagai simbol mengubur segala karakter buruk, ini disebut methak rekma.
Dulang pungkasan, kedua orang tua calon pengantin menyuapi putrinya untuk yang terakhir kali sebagai tanda bahwa putrinya telah beranjak dewasa.
Midodareni, adalah malam terakhir sebelum pengantin dipertemukan pada keesokan hari. Ritual ini dilaksanakan petang hari, saat yang dipercaya para bidadari turun ke bumi, menjadi saksi pernikahan dan juga memberi berkat kepada calon pengantin, hingga calon pengantin putri nampak cantik ayu bak bidadari. Pada saat ini calon pengantin masih mengenakan busana sederhana dengan riasan dan perhiasan seperlunya.
Pada malam ini ada satu ritual khusus yaitu ngunduh kembar mayang. Kembar mayang merupakan cerminan dari kalpataru, pohon kehidupan. Melukiskan kehidupan tiga dunia, dunia atas (dewa loka), dunia tengah (jana loka) dan dunia bawah (patala). Kembar mayang mengandung makna semoga pengantin mendapatkan kebahagiaan ganda/kembar, diambil dari arti katanya.
Pada pukul 00.00 WIB dilakukan ritual majemukan dengan sesaji tumpeng dan jajan pasar. Apa yang diharapkan adalah untuk mendapatkan berkat, agar adicara pernikahan berjalan dengan lancar. Di malam midodareni ini, calon pengantin tidak diijinkan untuk tidur sebelum dua belas malam.
Keesokan harinya adalah adicara ijab atau nikah, adicara religius yang menyatakan bahwa pernikahan kedua calon pengantin telah sah secara agama maupun hukum.
Dan akhirnya, pahargyan, adicara pesta tradisional untuk menyatakan kepada khalayak bahwa pasangan pengantin telah sah sebagai suami isteri. Dalam adicara ini, pengantin berdua dipertemukan atau panggih.
Dalam panggih ini pengantin menjalani beberapa ritual. Sebelum bertemu, kedua pengantin melakukan prosesi balangan gantal (melempar gantal). Gantal wujudnya gulungan daun sirih dengan isi kapur sirih dan gambir yang diikat dengan benang. Pada saat melempar gantal, pengantin pria mengarahkannya pada dada pengantin putri, lambang menyampaikan pesan jadilah ibu anakku. Dan pengantin putri mengarahkannya pada kaki pengantin pria, lambang pesan jadilah tiang keluargaku. Daun sirih merupakan lambang penghormatan, pada jaman dahulu cara menghormati tamu adalah dengan menghidangkan sirih sebelum menghidangkan makanan dan minuman.
Kemudian pengantin pria menginjak telur (wiji dadi) hingga pecah. Pecahnya telur adalah lambang pertemuan unsur merah (wanita) dan unsur putih (pria). Pengantin pria yang menginjak wiji dadi, ia berkewajiban melindungi dan menyayangi isterinya. Setelah itu, pengantin putri membasuh kaki pengantin pria sebagai lambang kewajiban untuk menanggung akibat penerimaan atas haknya. Kewajiban itu berupa menjadi seorang ibu, sebagai akibat bertemunya unsur putih dan merah.
Kemudian dengan diselimuti kain sindur oleh ibu pengantin putri, kedua pengantin beranjak menuju ke pelaminan dengan panduan ayah pengantin putri. Ini sebagai wujud bahwa kedua orang tua menghantar putra putrinya pada kehidupan yang baru sebagai suami isteri “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani”
Adicara panggih telah usai, setelah kedua pengantin berada di sasana rinenggo atau pelaminan, dilanjutkan dengan:
Bobot timbang, kedua pengantin duduk di pangkuan ayah pengatin putri seolah-olah ditimbang. Dengan demikian kedua pengantin sama hak dan kewajiban juga sama bobot kasih sayangnya. Menjadi mitra sejajar yang serasi, sesuai dan seirama.
Kacar-kucur (mengucurkan), juga disebut tampa kaya, adicara ini diwujudkan berupa kacang-kacangan, beras kuning dan aneka uang logam. Ini sebagai pernyataan kepeduliaan suami terhadap isteri secara lahir dan batin. Juga diartikan suami memberi nafkah dan isteri berhati-hati dalam pengelolaannya.
Dulangan atau walimahan, kedua pengantin menyantap nasi kuning dengan cara saling menyuapi. Maknanya hati bersatu dan tekad bulat untuk hidup bersama.
Ngabekten/sungkeman, simbol anak yang berbakti terhadap orang tua, meminta maaf dan mengucap terima kasih serta mohon doa restu. Dan kedua orang tua akan membimbing dengan penuh perhatian, memberi nasihat agar bisa mencapai kehidupan yang bahagia di masa depan. Adicara sungkeman ini merupakan penutup rangkaian adicara pahargyan.
Tatacara upacara pernikahan adat Jawa secara lengkap tampak pada penyelenggaraan dari siraman sampai ngabekten. Penyelenggaraan yang dianggap standar itu, berlaku bagi pernikahan antara gadis dan jejaka pada umumnya, yang istilah Jawa disebut penganten tigas.
Jika pengantin putri merupakan anak pertama dalam keluarga, maka ada satu tambahan ritual yaitu bubak kawah. Sebagai anak sulung, ia yang pertama kali membuka jalan bagi air ketuban ibunya (Bubak artinya membuka dan kawah artinya air ketuban). Bubak kawah ini ditandai dengan meminum rujak degan, untuk menghilangkan kerisauan karena menikahkan anaknya untuk pertamakalinya.
Dan jika pengantin merupakan anak bungsu, dilaksanakan tambahan adicara tumplak ponjen (tumplak, menumpahkan dan ponjen, tempat bumbu dapur). Dalam adicara ini ibu pengantin putri menumpahkan empon=empon (bumbu dapur seperti kunyit, kencur, jahe dan sebagainya) ditambah beras kuning dan aneka uang logam. Hal ini merupakan pernyataan bahwa ibu yang menikahkan anak bungsu tidak lagi ragu-ragu menumpahkan segala kemampuannya untuk menikahkan, karena tidak ada yang dinikahkan lagi.

Sumber:
Buletin CITRA SOLO edisi 03/V/2011 hal. 2 - 6

0 comments:

Post a Comment