Rabu, 16 Mei 2012

Serbaneka Keris di Jawa Tengah

A.      LATAR BELAKANG SEJARAH
Keris adalah salah satu karya nenek moyang bangsa Indonesia. Pembuatan keris menggunakan teknik tempa yang cukup rumit, utamanya pada seni tempa pamor yang indah yang dulu hampir tidak terjangkau oleh penalaran awam. Ada anggapan bahwa motif pamor pada bilah keris adalah akibat campur tangan para dewa, makhluk gaib atau kekuatan supranatural lain. Jadilah keris sebagai pusaka, sebagai benda yang dikeramatkan.
      Pada masa kebudayaan Jawa mendapat pengaruh kebudayaan India, masyarakat Jawa Kuno memandang logam penuh dengan makna simbolik. Masing-masing logam memiliki kedudukan yang berbeda. Pada masa itu dikenal 8 logam penting (astalohamaya), yaitu: emas, perak, tembaga, kuningan, perunggu, besi, timah hitam dan timah putih.
Dr. JLA Brandes bahkan menyatakan bahwa jauh sebelum mendapat pengaruh kebudayaan India, bangsa Indonesia telah memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidang metalurgi selain pengetahuan dan kemampuan dalam bidang wayang, gamelan, ilmu irama puisi, membatik, system mata uang, ilmu pelayaran, astronomi, penanaman padi dan birokrasi pemerintahan.
Sumber-sumber prasasti dan naskah sastra menyebutkan kelompok profesi pembuat artefak logam, yaitu pande sesuai bidangnya masing-masing. Kelompok masyarakat pande ini dalam kehidupan sosial termasuk sang mangilala drawya haji yaitu para abdi kraton yang mendapat gaji dari perbendaharaan kerajaan.
Masyarakat pande membentuk kelompok sendiri diketuai tuha gusali atau juru gusali. Tempat gusali atau gusalian sekarang menjadi kata besalen yang artinya tempat pertukangan logam. Data visual besalen dapat dilihat di Candi Sukuh dari abad XV M.
Karya-karya ukir dari milennium pertama Masehi kebanyakan menampilkan bentuk-bentuk senjata tikam dan “wesi aji” lainnya dari India. Meskipun demikian terdapat satu panel relief Candi Borobudur (abad ke-9) yang memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris.
Dari abad yang sama, prasasti Karangtengah berangka tahun 824 Masehi menyebut istilah kris dalam suatu daftar peralatan. Prasasti Poh (905 M) menyebut kris sebagai bagian dari sesaji yang perlu dipersembahkan. Walaupun demikian, tidak diketahui apakah kris itu mengacu pada benda seperti yang dikenal sekarang.
   
B.      KERIS DALAM ASPEK TEKNIS
Keris dibuat dengan teknik tempa dalam kondisi panas. Bahan utama keris adalah besi dan dipadukan dengan besi meteorit sebagai bahan pamor kemudian ditempa sampai menyatu. Hasil penyatuan antara besi dan meteorit inilah yang disebut pamor karena secara etimologi, pamor berasal dari kata amor (bersatu). Jenis pamor yang baik antara lain adalah meteorit yang jatuh di daerah Prambanan tahun 1784 pada masa pemerintahan Paku Buwono III dari Kraton Surakarta. Pamor ini terkenal dengan nama pamor Prambanan dan disimpan di Kraton Surakarta dengan sebutan Kanjeng Kyai Pamor.
Besi yang telah disatukan dengan meteorit kemudian dilipat dan ditempa lagi. Proses ini diulang-ulang dan menyebabkan besi menjadi lebih kuat. Proses pembentukan pamor dikerjakan oleh empu keris secara hati-hati dan bahkan harus disertai laku dengan puasa agar pamor memiliki nilai keindahan dan khasiat yang diinginkan.

C.      BILAH
Bilah keris (ricikan) terdiri dari bagian tangkai bilah (pesi), alas bilah (ganja), pangkal bilah (sorsoran), tubuh bilah (wilah). Bentuk bilah (dhapur) terdiri dari dhapur leres (lurus) dan dhapur luk (berkelok). Jumlah luk biasanya gasal, meskipun ada juga yang genap yaitu Keris Umyang, dibuat Empu Umyang dari zaman Kerajaan Pajang (1546 – 1586).

D.      TANGGUH
Langgam/gaya pembuatan suatu keris dipengaruhi oleh zaman, tempat tinggal dan selera empu yang membuatnya. Dalam istilah perkerisan Jawa, langgam keris diistilahkan sebagai tangguh. Penjamanan keris pada umumnya dilakukan terhadap keris-keris pusaka, meskipun keris-keris baru dapat juga dibuat mengikuti tangguh tertentu, tergantung keinginan pemilik keris atau empunya.
Tangguh keris tidak bersifat mutlak karena deskripsi setiap tangguh pun dapat bersifat tumpang tindih. Selain itu, pustaka-pustaka lama tidak memiliki kesepakatan mengenai empu-empu yang dimasukkan ke dalam suatu tangguh. Hal ini disebabkan tradisi lisan yang sebelum abad ke-20 dipakai dalam ilmu padhuwungan.
Meskipun tangguh tidak identik dengan umur, tangguh keris (Jawa) yang tertua yang dapat dijumpai saat ini tangguh Buda (atau keris Budha). Dalam pengetahuan perkerisan Jawa (padhuwungan), keris dari masa pra-Kediri-Singasari dikenal sebagai keris Buda atau keris sombro. Keris-keris ini tidak berpamor dan sederhana. Keris Budha dianggap sebagai bentuk pengawal keris modern. Contoh bentuk keris Budha yang kerap dikutip adalah milik keluarga Knaud dari Batavia yang didapat Charles Knaud, seorang Belanda peminat mistisisme Jawa, dari Sri Paku Alam V. Keris ini memiliki relief tokoh epik Ramayana pada permukaan bilahnya.
Keris Buda memiliki kemiripan bentuk dengan berbagai gambaran belati yang terlihat pada candi-candi di Jawa sebelum abad ke-11, juga pada berbagai penggambaran wesi aji sebagai komponen ikon-ikon dewa Hindu. Meskipun demikian, tidak ada bukti otentik mengenai evolusi perubahan dari belati gaya India menuju keris Buda ini.
        Keris modern pusaka tertua dianggap berasal dari tangguh Pajajaran, yaitu dari periode ketika sebagian Jawa Tengah masih di bawah pengaruh Kerajaan Galuh. Keris pusaka termuda adalah dari masa pemerintahan Paku Buwono X (berakhir 1939). Selanjutnya, kualitas pembuatan keris terus merosot, bahkan di Surakarta pada dekade 1940-an tidak ada satu pun pande keris yang bertahan. Kebangkitan seni kriya keris di Surakarta dimulai pada tahun 1970, dibidani oleh K.R.T. Hardjonagoro (Go Tik Swan) dan didukung oleh Sudiono Humardani, melalui perkumpulan Bawa Rasa Tosan Aji. Perlahan-lahan kegiatan pande keris bangkit kembali. Keris-keris yang dibuat oleh para pande keris sekarang dikenal sebagai keris kamardikan ("keris kemerdekaan"). ***

0 komentar:

Posting Komentar