Selasa, 29 Mei 2012

Prasasti Muncang

Prasasti Muncang berangka tahun 866 Çaka atau 944 M dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Prasasti yang dipahatkan pada batu andesit ini berukuran tinggi 142,5 cm, lebar 99 cm, dan tebal 22 cm, ditulis pada keempat sisinya. Sebagian alihaksaranya telah diterbitkan oleh Branders – Krom dalam OJO. Oleh karena prasasti ini belum sempat dibaca ulang, maka alih aksaranya dikutip dari OJO, prasasti nomor 51.
Prasasti ini ditemukan pada tahun 1913 di Dukuh Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
Saat ini, prasasti Muncang disimpan di Gedung Balai Penyelamat Benda Purbakala Mpu Purwo di Kota Malang dengan nomor inventaris 01.
Prasasti Muncang menyebutkan bahwa pada tahun 866 Çaka bulan Caitra tanggal 6 Śuklapaksa (paroterang) hari ‘tunglai-pahing-anggara’ wuku Shinta, yang bertepatan dengan tanggal 3 Maret 944, Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isanawikrama Dharmottunggadewa memerintahkan melalui Rakyān I Halu Pu Sahasra dan Rakai Kanuruhan Pu Da untuk menetapkan sebidang tanah di Desa Muncang yang masuk wilayah Hujung sebagai sima. Tanah tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar pajak karena diharuskan memelihara suatu bangunan suci bernama ‘Siddhayoga, yaitu sebuah tempat ketika para pendeta melakukan persembahan kepada bathara setiap harinya, serta mempersembahkan kurban bunga kepada bathara Syang Hyang Swayambuha atau dewa Brahma (bathara Bromo) di Walandit.
Daerah Walandit, diperkirakan oleh J.G. de Casparis, arkeolog Belanda, sekarang menjadi Blandit, sebuah dukuh di Desa Wonorojo, Kecamatan Singosari, di mana prasasti Muncang tersebut berasal. Sedangkan, Desa Muncang dahulu diyakini berada di Blandit sekarang, yaitu sebuah desa yang terletak di lereng sebelah barat-selatan Gunung Bromo. ***

Kepustakaan:
Titi Surti Nastiti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya
http://mpupurwamalang.blogspot.com/p/blog-page_8988.html

0 komentar:

Posting Komentar