Selasa, 03 Juli 2012

Dari Sunda Kelapa Ke Jayakarta

Arus lalu lintas perdagangan di Sunda Kelapa yang terus ramai dari tahun ke tahun dan lokasinya yang strategis guna perdagangan, menarik minat Portugis untuk mendirikan kantor dagangnya di Sunda Kelapa. Gayung pun bersambut. Pada 21 Agustus 1522 Kerajaan Sunda dan Portugis membuat perjanjian. Tindakan itu membuat Kesultanan Demak berang. Perjanjian itu dianggap sebagai sebuah ancaman bagi perdagangan otoritas Islam. Demak yang sebelumnya telah merebut Bantam (Banten) lantas memerintahkan Fatahillah untuk merebut dan menduduki Sunda Kelapa karena Sunda Kelapa merupakan pelabuhan utama dan terpenting bagi Kerajaan Sunda yang telah berhubungan dagang yang luas dengan berbagai Negara dan bangsa.
Fatahillah menunaikan tugas ini dengan baik. Tahun 1527, sebuah armada Portugis di bawah pimpinan Francisco de Sa mendekati pantai Sunda Kelapa. Sesuai perjanjian, orang-orang Portugis bermaksud untuk mendaratkan pasukan dan mendirikan sebuah benteng di Sunda Kelapa. Ketika sebuah kapal Portugis hendak berlabuh di pantai, baik kapal maupun awaknya diserang oleh pasukan Demak di bawah komando Fatahillah. Serdadu-serdadu Portugis yang berhasil mendarat, dikalahkan dan dipaksa mundur oleh Fatahillah atau Fadhilah Khan. Dengan pasukannya yang gagah berani, Portugis akhirnya dikalahkan dan Sunda Kelapa diduduki Fatahillah. Untuk mengenang kemenangan Islam atas Portugis, pada 22 Juni 1527 nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta yang dalam bahasa Jawa Kuno/Sanskerta berarti “telah membuat kemenangan”.
Sejak kemenangan itu Fatahillah dijadikan penguasa Jayakarta yang berkedudukan sebagai adipati atau raja yang berada di bawah naungan Kerajaan Demak dan di bawah pengawasan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati di Cirebon. Menurut Kitab Purwaka Caruban Nagari, Fatahillah wafat tahun 1570. Pemerintahan Jayakarta kemudian diserahkan kepada Tubagus Angke dan selanjutnya kepada Pangeran Jayakarta Wikayakrama. ***

0 komentar:

Posting Komentar