Kamis, 12 Juli 2012

Museum Prangko Indonesia

Gagasan untuk menyelenggarakan Pameran Prangko yang sifatnya tetap di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dicetuskan untuk pertama kalinya oleh Ibu Tien Soeharto. Seperti diketahui bahwa pada bulan Juni 1981 bertempat di Cibubur, Jakarta berlangsung Jambore Pramuka Asia Pasifik ke-VI. Selama berlangsungnya Jambore tersebut, Perum Pos dan Giro menyelenggarakan pula Pameran Prangko. Pada saat mengunjungi Pameran Prangko inilah Ibu Tien Soeharto telah menyampaikan gagasan beliau tersebut.


Bangunan Museum Prangko Indonesia ini dibangun di atas tanah yang luasnya 9.500 m², letaknya di sebelah kanan Museum Komodo di TMII. Di sayap kiri dan di sayap kanan Museum Prangko Indonesia terdapat bangunan yang masing-masing luasnya 204 m² yaitu sebuah gedung untuk keperluan penerimaan dan tempat beristirahat para tamu khusus dan sebagai tempat pertemuan dan sebuah gedung lagi adalah Kantor Pos Tambahan yang berfungsi memberikan pelayanan jasa pos dan giro bagi para pengunjung dan penghuni TMII. Gedungnya dihiasi dengan ukiran-ukiran dan patung-patung yang berciri khas Bali dan Jawa, dikelilingi dengan pagar tembok dengan dua buah pintu gerbang. Pintu gerbang masuknya mengambil bentuk dasar Candi Bentar dibelah dua yang selain berfungsi sebagai pintu masuk, juga berfungsi sebagai batas pemisah antara halaman luar dengan halaman dalam kompleks bangunan.


Di halaman bagian dalam, para pengunjung dapat melihat sebuah bola dunia dengan seekor burung merpati membawa sepucuk surat di paruhnya yang melambagkan bahwa tugas Perum Pos dan Giro mengjangkau ke seluruh dunia.
Sebuah patung Anoman diletakkan di tengah-tengah bangunan pendopo. Dalam pewayangan, Anoman dilambangkan sebagai duta darma pembawa berita yang misinya sama dengan Perum Pos dan Giro.
Sebelum para pengunjung memasuki gedung Museum Prangko untuk menyaksikan pagelaran atau pameran yang terdapat di dalamnya, ada baiknya juga memperhatikan bangunan yang ada di luar.
Pintu masuk dan keluar Museum Prangko ini dihiasi dengan ukiran bercorak Jawa (Jepara), pada bagian atas masing-masing daun pintunya terdapat seekor burung merpati yang melambangkan Perum Pos dan Giro.
Pada samping kiri dan kanan pintu ini terdapat dua buah lukisan bercorak Bali hasil karya pelukis Drs. Wayan Sutha S (Sanggar Wana Prasta, Padangtegal, Ubud, Gianyar, Bali) yang merupakan cuplikan-cuplikan dari cerita pewayangan versi Bali. Kedua buah lukisan ini menggambarkan bahwa pada masa sebelum dikenalnya kertas seperti sekarang ini, surat menyurat telah ada dengan menggunakan daun lontar.
Selanjutnya apabila kita perhatikan tiang-tiangnya, terdapat empat buah tiang penyangga yang dihiasi dengan ukiran atau relief seekor singa bersayap. Singa bersayap ini dipakai karena singa merupakan raja rimba dan dianggap binatang terkuat.
Kemudian kita saksikan pula Dore yaitu hiasan yang terdapat pada bagian atas bangunan dan Ider-Ider yaitu hiasan yang terdapat pada sekeliling atas bangunan, merupakan perpaduan daripada bentuk bunga dan daun-daunan.
Memasuki gedung Museum Prangko Indonesia, di tengah-tengah ruangan pamerannya terdapat bangunan berbentuk segi delapan tempat para petugas informasi.
Di atas bangunan tersebut pada bagian langit-langitnya terdapat sebuah Roset mengambil bentuk dasar dengan cahayanya menyinari ke delapan arah. Roset yang sama dalam bentuknya yang lebih kecil terdapat pula di bagian tengah pendopo (di atas patung Anoman).

Ruang Pameran
Museum Prangko Indonesia memiliki banyak koleksi yang layak dipamerkan. Koleksi-koleksi yang dipunyai Museum Prangko tidak sekadar kumpulan filateli saja melainkan juga liku-liku dalam aktivitas yang dilakukan oleh PT. Pos Indonesia (dulu masih Perum Pos dan Giro).
Dalam ruangan pameran Museum Prangko Indonesia, dipamerkan beberapa materi yang berkaitan dengan sepak terjang PT. Pos Indonesia, seperti:
·         Foto-foto yang menggambarkan bahan dan alat yang dipergunakan untuk menulis surat pada daun lontar.
·         Patung seorang laki-laki yang sedang menulis pada daun lontar.
·     Slide-slide dari sampul-sampul surat yang memuat teraan-teraan cap sebagai pernyataan biaya pengiriman surat yang harus dilunasi, sejak dari zaman VOC yaitu dari tahun 1602 sampai dengan diterbitkannya prangko Hindia Belanda pertama tahun 1864.
·         Hal-hal atau peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama masa antara tahun 1602 sampai tahun 1864 yang disajikan berupa: peta timbul kepulauan Indonesia, miniature alat-alat angkutan yang dipakai mengangkut surat yaitu kapal perang VOC, perahu pacalang, kuda pos, kereta pos dan pedati pos, foto Kantor Pos pertama yang didirikan di tanah air pada tahun 1746 yaitu Kantor Pos Batavia serta koleksi foto-foto prangko dari dulu hingga kini. *** [050712]

0 komentar:

Posting Komentar