Rabu, 04 Juli 2012

Pelabuhan Tuban, Gresik dan Surabaya

Tiga Bandar ini selalu menjadi pelabuhan besar sejak masa kerajaan Hindu-Buddha, masa Islam, dan masa kolonial. Tuban adalah bandar utama Kerajaan Majapahit. Sementara Gresik adalah pelabuhan utama untuk Pesantren Giri, yang Berjaya di masa Islam. Bahkan, pelabuhan Surabaya tetap terbesar  di Jawa Timur hingga sekarang.
Tuban telah dikenal sebagai pelabuhan sejak abad XI, ‘Sumber Berita Cina’ pada zaman dinasti Yuan menyebutkan, pada tahun 1293, Bandar Tuban telah menjadi salah satu tempat mendaratnya prajurit Cina yang akan menyerang kerajaan Jawa. Tuban juga merupakan pelabuhan utama bagi kerajaan Hindu dan Buddha, termasuk Majapahit.
Pelabuhan ini masih berperan sebagai bandar internasional terbesar di Jawa Timur sampai akhir abad XIV. Pertumbuhannya cukup pesat karena memiliki komoditas khusus seperti unggas, kambing, ikan, dan sayuran.
Posisi Tuban sebagai bandar internasional digantikan Pelabuhan Gresik, dengan komoditas andalannya emas dan batu mulia. Hal tersebut menjadikannya sebagai salah satu bandar terpenting dan terkaya di Jawa. Gresik berada di bawah kekuasaan Majapahitsejak abad XIII, dan dijadikan kota pelabuhan pada paruh kedua abad XIV. Letaknya yang terlindung oleh Selat Madura sangat strategis sebagai pelabuhan, sehingga kapal-kapal dari berbagai negeri  singgah pula di bandar ini. Di masa berkembangnya jaringan kerajaan Islam, Gresik berada di bawah pengaruh Giri, tempat Sunan Giri (salah satu Walisongo) dan keturunannya menyebarkan ajara Islam melalui jaringan perdagangan, ke wilayah timur Nusantara.
Jauh sebelum itu, terdapat Pelabuhan Hujung Galuh (1037), yang menjadi pelabuhan di Jawa Timur pada masa Kerajaan Mataram Kuno (Hindu). Letaknya di muaras Sungai Brantas. Menurut Prasasti Kamalagyan, Pelabuhan Hujung Galuh ini selalu ramai dikunjungi perahu dagang dari pulau-pulau lain. Apalagi setelah Raja Airlangga membuat bendungan ‘Waringin Sapta’ pada tahun itu, maka bukan hanya kapal-kapal dari Nusantara yang singgah tetapi dari mancanegara pun berdatangan. Selain dilalui jalur perdagangan rempah-rempah dari Maluku-Sriwijaya-India-Cina, bandar ini juga menjadi lalu lintas pelayaran dan perdagangan bagi wilayah pedalaman Jawa Timur karena dilewati oleh anak Sungai Brantas.
Pada abad XIV, muncul pula Pelabuhan Surabaya (letaknya tak jauh dari Hujung Galuh). Peran Pelabuhan Surabaya kian menguat saat pelabuhan di sekitarnya mulai memudar, seperti Sedayu, Gresik, dan Tuban. Kedatangan orang Cina pada abad XVII, menjadikan bandar ini kian ramai. Transaksi yang semula dilakukan di atas kapal beralih ke pemukiman penduduk. Setelah itu datang pula orang Arab, Melayu, Sunda, Madura, dan lain-lain yang kemudian meramaikannya dengan membuat pemukiman. Menetapnya para pendatang di sekitar pelabuhan itu semakin menghidupkan aktivitas Pelabuhan Surabaya. ***

0 komentar:

Posting Komentar