Rabu, 04 Juli 2012

Pelayaran Asing Di Kepulauan Indonesia

Gelombang migrasi pertama bangsa Austronesia ke Indonesia pada masa prasejarah, yaitu pada masa bercocok tanam, merupakan awal pelayaran kuno Nusantara. Mereka menggunakan perahu-perahu cadik, berlayar hingga Madagaskar di ujung barat daya Samudera Hindia sampai ke pulau-pulau Polinesia di bagian timur Samudera Pasifik. Berbagai lukisan di gua-gua prasejarah menggambarkan aktivitas pelayaran ini.
Sejarah pun mencatat, pada masa kerajaan-kerajaan kuno, pelayaran samudera sudah dikenal. Contohnya terpahat di salah satu dinding Candi Borobudur, Jawa Tengah, yang dibangun sekitar abad ke-9, di mana beberapa relief menggambarkan perahu bercadik ganda, terbuat dari kayu bulat dengan tiga penguat (penyangga cadik). Bahkan dalam sebuah prasasti berbahasa Melayu Kuno bertarikh 17 Mei 827, yang ditemukan di Gondosuli, Jawa Tengah, disebutkan bahwa prasasti ini persembahan dari seorang nakhoda  kapal bernama Dang Puhawang Glis. Puhawang adalah sebutan untuk nakhoda.
Tradisi lokal juga mengenal tokoh-tokoh pelaut ulung, misalnya Hang Tuah dan kawan-kawan dalam tradisi Melayu (dikisahkan dalam Sejarah Melayu); atau Sawerigading, pelaut Bugis yang menjadi tokoh utama dalam epic I La Galigo, cerita tertulis yang terpanjang di dunia.
Para pelaut Cina juga sudah lama mengenal masyarakat maritim di Nusantara, mereka menyebutnya sebagai orang Kunlun. Dikisahkan, bahwa orang-orang Kunlun yang memiliki teknologi kemaritiman tinggi, mempunyai andil besar terhadap pelayaran yang dilakukan para pelaut Cina ke Nusantara dan India. Selain itu, para nelayan Bugis, Mandar, dan Buton selama berabad-abad telah mencapai Australia dan Selandia Baru. Mereka mencari teripang dan tinggal hingga beberapa bulan sebelum kembali ke asalnya. Bahkan suku Bajau dari Teluk Tomini, Sulawesi, yang sepanjang hidupnya tinggal di leppa (rumah perahu sepanjang sekitar 7 meter), telah dikenal sebagai orang-orang yang ahli mengarungi samudera. Pelaut Portugis menamai mereka celates atau ‘orang-orang dari selat’.
Kerajaan-kerajaan maritim pun tumbuh pesat di Nusantara, misalnya Kerajaan Sriwijaya, Pasai, Majapahit, Demak, Aceh Darussalam, Ternate, Tidore dan Gowa. Mereka didukung oleh pelabuhan-pelabuhan besar pada masanya, seperti : Pelabuhan Barus, Japara, Tuban, Makassar, Kuta, dan lain-lain. Berpuncak pada Kerajaan Majapahit, yang mampu menyebarkan pengaruhnya ke seluruh Nusantara hingga Asia Tenggara, dengan menguasai jalur perniagaan penting seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Jawa, dan Laut Cina Selatan dan lain sebagainya. ***

0 komentar:

Posting Komentar