Minggu, 08 Juli 2012

Prasasti Amoghapasa

Prasasti Amoghapasa berangka tahun 1269 Çaka atau 1347 M dengan candrasangkala pataga carane nardanta, menggunakan aksara paska Pallawa dan berbahasa Sansekerta, Jawa Kuno, dan Melayu Kuno, yang terdiri dari 27 baris dalam bentuk sloka 12 bait. Prasasti yang terbuat dari batu andesit (upala praśasti) ini memiliki ukuran tinggi 163 cm dan lebar 97-139 cm dalam kondisi yang cukup baik.
Prasasti ini tertulis di belakang stela (sandaran) patung batu yang disebut paduka Amoghapasa sebagaimana disebutkan dalam prasasti Padang Roco. Pada tahun 1347, Adityawarman menambah pahatan aksara pada bagian patung tersebut untuk menyatakan bahwa patung ini melambangkan dirinya.




Prasasti ini ditemukan di Lubuk Bulang, Desa Rambahan, Kecamatan Pulaupunjung, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, dan kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.198-6469 (bagian arca). Prasasti ini pertama kali dilaporkan oleh Kontrolir Twiss kepada Direksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenshappen pada tahun 1884.
Prasasti ini menceriterakan pada tahun 1208 Çaka, atas perintah Raja Kertanegara, sebuah arca Moghapasalokerswara dipindahkan dari Bhumijawa ke Swarnabhumi untuk ditempatkan di Bhumisraya. Pemberian ini membuat rakyat Swarnabhumi bergirang hati, terutama rajanya bernama Tribhuwanaraja Maaliwarmmadewa. ***

4 komentar:

  1. bos salah tulis tuh....patung amonghapasa bukan ditemukan di batang hari jambi bos tapi sungai batang hari dharmasrayasumatera barat...

    BalasHapus
  2. Arca amongshapasa bukan ditemukan di batang hari jambi bos......tapi dekat sungai batang hari kabupaten Dharmasraya sumatera Barat arca Amoghapasa ditemukan kembali di sekitar Candi Rambahan di Dharmasraya oleh seorang kontrolir atau mandor Belanda bernama Van den Bosch. Sedangkan alas Amoghapasa ditemukan di sekitar Candi Padangroco. Sayangnya, arca Amoghapasa tidak bisa lagi dinikmati di tempat aslinya karena benda ini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    BalasHapus
  3. Mohon maaf Bang Hanafi, agak terlambat membalasnya dikarenakan saya berupaya mencari referensi secara terus menerus ketika mendapat comment dari Bang Hanafi. Lalu, saya update kan. Terima kasih Bang Hanafi atas masukkannya.

    BalasHapus
  4. Prasasti amoghapasa yang ditulis Aditya Warman berbahasa jawa dan melayu palembang karena Aditya Warman orang palembang campur jawa.
    Dalam semua prasasti Aditya Warman di tanah Minang Kabaw satupun tidak ada kosakata Minang Kabaw didalamnya.
    Untuk apa Adirya Warman menulis prasasti berbahasa melayu palembang campur Jawa yang tidak di mengerti orang Minang. kan semua prasasti Aditya Warman ditanah minang kabaw.Karena Aditya warman bukan orang minang kabaw beliaw campuran palembang jawa.

    BalasHapus