Kamis, 16 Agustus 2012

Makna Kesehatan Di Balik Batik


Batik bukan merupakan suatu barang langka bagi masyarakat Indonesia bahkan dunia, apalagi sejak tahun 2009 UNESCO menjadikan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Sejak itu, masyarakat Indonesia ‘senang’ menggunakan pakaian batik padahal sebelumnya pakaian batik dianggap sebagai model pakaian yang tidak modern, kuno, ndeso, dan hanya untuk kalangan orang-orang yang sudah tua. Namun sekarang beberapa instansi pemerintah maupun swasta menganjurkan karyawannya menggunakan pakaian batik pada hari-hari tertentu. Hal ini tentu berkaitan dengan transformasi pada image dan model batik itu sendiri. Jika dulu pakaian batik dicitrakan sebagai suatu pakaian yang ndeso dan tidak gaul, namun sekarang (apalagi sejak penetapan UNESCO sebagai warisan dunia) pakaian batik dicitrakan sebagai pakaian menarik dan suatu kebanggaan. Belum lagi ada perubahan-perubahan pada model batik yang bisa dipakai semua kalangan, dari bayi hingga kakek nenek.
Jika merunut kembali ke sejarahnya, batik sebenarnya dibuat khusus untuk pakaian para raja dan keluarga kerajaan. Hal ini tentu menunjukkan bahwa pakaian batik mempunyai tempat yang terhormat dan bukan ndeso seperti yang dianggap oleh sebagian masyarakat sebelumnya. Batik adalah cara menggambar atau mengukir suatu gambar pada seulas kain dengan menggunakan lilin. Ukiran atau gambar yang terdapat pada batik sangat bervariasi, ada gambar hewan, tumbuhan, wayang, bahkan simbol-simbol yang mempunyai makna yang tersimpan dan kadangkala sulit ditafsirkan oleh semua orang. Untuk itu, di sini penulis mencoba untuk menafsirkan makna simbol yang terdapat pada motif batik bagi kesehatan:
a.       Swastika
Simbol ini mungkin taka sing bagi kita, karena simbol tersebut sangat sering digunakan orang sebagai suatu ikon diri maupun organisasi, termasuk NAZI juga menggunakan simbol tersebut. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa simbol yang tampak sederhana tersebut banyak digunakan orang atau suatu komunitas? Tentu ada makna yang tersimpan di balik simbol tersebut. Lalu, apa makna di balik simbol tersebut?
Jika dilihat secara kasat mata, simbol swastika mempunyai bentuk yang seimbang antara yang di atas dan di bawah, dan begitu pula antara yang di samping kiri dan kanan. Hal ini menunjukkan adanya makna keseimbangan yang tersirat di balik simbol swastika tersebut. Selain itu, simbol tersebut juga akan selalu sama bentuknya meskipun diputar ke kiri dan ke kanan. Hal ini juga menunjukkan ada pesan konsistensi di balik simbol swastika tersebut.
Jika dilihat kembali secara terminologi, kata swastika berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “su” yang berarti baik, sejahtera, bahagia; “asti” berasal dari pokok kata “as” (Sansekerta) yaitu merupakan bentuk kedua yang artinya “ada” (to be atau being dalam bahasa Inggris). Akhiran “ka” adalah untuk membentuk kata sifat menjadi kata benda. Menurut aturan bahasa Sansekerta u + a pada kata su dan asti menjadi swasti. Jadi kalau digabungkan kata su + asti + ka (swastika) artinya “dalam keadaan selamat.” Berdasarkan penafsiran bentuk simbol swastika dan juga terminologinya, dapat dipahami mengapa orang atau suatu komunitas menyukai simbol tersebut.
Simbol swastika tersebut juga terdapat pada motif batik. Adanya simbol tersebut pada motif batik tentu ada makna yang tersimpan di balik motif tersebut. Batik dapat digunakan sebagai baju, celana, kain sarung, blangkon, tas dan aksesoris lainnya. Intinya batik digunakan sebagai pakaian penutup tubuh manusia.
Simbol swastika yang bermakna keseimbangan dan keselamatan digunakan dalam motif batik sebagai simbol keseimbangan dan keselamatan juga. Swastika yang tercantum pada batik dimaknai dapat menjadi simbol keseimbangan organ-organ dalam tubuh agar dapat berfungsi dengan baik. Jika organ-organ dalam tubuh telah seimbang, maka akan berdampak pada kesehatan.       
b.      Kawung
Salah satu motif yang sering digunakan untuk motif batik adalah motif kawung. Sekilas motif ini seperti gambar bunga yang digambarkan oleh anak SD pada saat pelajaran menggambar. Motif ini sering kita lihat dipakai oleh Semar, Gareng, Petruk dan Bagong dalam pewayangan.
Sejarah diketemukannya batik motif kawung ini adalah ketika ada seorang pemuda dari desa yang mempunyai penampilan berwibawa serta disegani di kalangan kaumnya. Tak lama karena perilaku pemuda ini yang sangat santun dan bijak, hingga membuat namanya terdengar hingga di kalangan Kerajaan Mataram. Pihak kerajaan merasa penasaran dengan kemashuran nama pemuda ini, sehingga diutuslah telik sandi untuk mengundang pemuda ini menghadap raja. Sang telik sandi atau mata-mata berhasil menemukan pemuda tersebut. Mendengar bahwa putranya diundang oleh raja, membuat ibunda merasa terharu dan menggantungkan banyak harapan. Ibunda berpesan agar si pemuda ini bisa menjaga diri dan hawa nafsu serta tidak lupa aka nasal-usulnya. Untuk itulah ibunda membuatkan batik dengan motif kawung, dengan harapan putranya bisa menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat banyak. Tak lama kemudian setelah dipanggil oleh pihak kerajaan dan diberikan beberapa pekerjaan yang selalu bisa diselesaikannya, akhirnya pemuda ini diangkat menjadi Adipati Wonobodro. Dalam pengangkatannya sebagai Adipati Wonobodro, pemuda ini mengenakan baju batik pemberian ibundanya dengan batik motif kawung. Dan akhirnya hingga saat ini, motif batik kawung semakin dikenal masyarakat.
Berdasarkan sejarah tersebut, dapat dipahami bahwa batik kawung mempunyai makna yang sangat dalam. Seseorang menggunakan batik kawung mempunyai makna yang sangat dalam. Seseorang menggunakan batik kawung diharapkan mempunyai sifat yang baik dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah motif dalam batik dapat mempengaruhi perilaku dan psikis seseorang. Ketika seseorang merasa nyaman menggunakan suatu pakaian, maka secara tidak langsung pakaian tersebut mempengaruhi perilaku dan psikis seseorang, apalagi secara sejarah motif kawung ini mempunyai cerita yang positif. Sejarah yang positif itulah yang mempengaruhi psikis yang positif sehingga berpengaruh pada kesehatan.

c.       Cakra
Motif batik lain yang sering digunakan adalah cakra. Bentuk motif tersebut bagaikan delapan arah mata angin. Selain itu, secara kasat mata terdapat empat garis panjang dan empat garis pendek yang sama ukurannya. Hal ini menunjukkan adanya makna keseimbangan yang tersirat di balik simbol tersebut.
Motif cakra digunakan sebagai salah satu motif batik mempunyai makna tertentu, apalagi batik digunakan sebagai penutup tubuh manusia yang di dalamnya terdapat organ-organ (raga) dan roh (jiwa). Organ-organ tersebut saling bekerjasama dengan roh sehingga membentuk suatu kehidupan. Untuk itu, motif cakra dimaknai sebagai simbol keseimbangan antara raga dan jiwa manusia. Dengan kata lain, jiwa dan raga tersebut harus berjalan selaras untuk menghasilkan keseimbangan kehidupan. Jika jiwa dan raga sudah berjalan selaras, maka akan berpengaruh pada kesehatan, baik kesehatan jiwa maupun raga.

d.      Poleng
Poleng merupakan simbol yang juga sering digunakan dalam batik. Hanya terdapat dua warna dalam batik poleng tersebut, yaitu hitam dan putih. Dua warna tersebut mempunyai ukuran yang sama dan bentuk yang sama, yaitu berbentuk persegi atau bujur sangkar. Jika diperhatikan secara seksama, terkadang satu kotak warna hitam diapit oleh empat kotak warna putih, dan terkadang pula yang terjadi sebaliknya, yaitu satu kotak warna putih diapit oleh empat kotak warna hitam. Tentu ada makna yang tersirat di balik warna hitam dan putih tersebut.
Warna putih dimaknai sebagai kebaikan dan suci, sedangkan warna hitam dimaknai kejahatan dan kegelapan. Dua warna tersebut mempunyai porsi dan bentuk yang sama dalam motif batik poleng, yang berarti ada porsi yang sama pula antara kebaikan dan kejahatan. Jika merunut kembali pada fungsi batik sebagai penutup tubuh manusia, maka dapat dipahami bahwa poleng memaknai adanya kebaikan dan kejahatan dalam tubuh manusia. Dengan kata lain, adanya energi positif dan negatif dalam tubuh manusia. Energi positif (kebaikan) tersebut terkadang dikuasai oleh energi negatif (kejahatan). Namun kadangkala pula energi negatif (kejahatan) dikuasai oleh energi positif (kebaikan).
Energi positif dan energi negatif tersebut juga terdapat dalam tubuh manusia. Energi positif dalam tubuh manusia adalah sistem kekebalan tubuh yang dapat membunuh energi negatif yang berupa virus. Jika sistem kekebalan tubuh kita kuat maka ia dapat menguasai dan mengalahkan virus. Begitu pula sebaliknya. Untuk itu, agar energi positif selalu menang melawan energi negatif, maka energi positif tersebut perlu dikumpulkan. Energi positif dalam tubuh manusia bukan hanya dikumpulkan dari makanan dan minuman yang sehat, tetapi juga berasal dari cara berpikir, bertindak, dan bersosialisasi yang sehat pula. ***

Sumber:
  • Yunita Fitrianti dalam Makalan Makna Kesehatan di Balik Batik.


0 komentar:

Posting Komentar