Thursday, August 16, 2012

Tema Kesehatan pada Relief Candi di Indonesia


Indonesia terkenal kaya akan peninggalan purbakala yang terdapat di beberapa tempat. Patutlah kita merasa bangga memiliki warisan budaya luhur yang mempunyai nilai tinggi tersebut.
Aneka unsur relief merupakan suatu ensiklopedi mengenai kehidupan dan kebiasaan Jawa kuno dalam lingkungannya, yang di dalamnya termasuk pula masalah kesehatan dan pengobatan.

1.       Candi Borobudur
Candi yang megah berdiri di atas bukit ini belum dapat dipastikan kapan didirikannya, namun beberapa ahli berpendapat bahwa candi ini dibangun sekitar tahun 800 M, pada zaman keemasan wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana. Menurut filsafat agama Buddha, stupa ini melambangkan tingkatan jiwa manusia yang sedang menuju ke arah kesempurnaan. Terdapat 3 tingkatan jiwa, yaitu:

Kamadhatu, di mana jiwa masih terbelenggu oleh kama. Kama dalam bahasa Sansekerta berarti nafsu keduniawian. Keadaan jiwa yang masih terbelenggu oleh kama ini digambarkan pada relief Maha Karmawibhangga, yang menggambarkan sebab akibat.

Rupadhatu, di mana jiwa sudah bebas dari kama, tetapi belum terlepas sama sekali dari hal-hal yang bersifat keduniawian (rupa). Keadaan jiwa tingkatan ini digambarkan dalam 1300 relief.

Arupadhatu, pada tahap ini jiwa manusia sudah terlepas dari sifat keduniawian (arupa). Di daerah tertinggi ini tidaklah wajar untuk menampilkan patung Buddha, maka patung Buddha ditempatkan di dalam 72 stupa yang berterawang. Juga terdapat 1 stupa induk besar.

2.       Museum Trowulan
Yang menarik perhatian adalah masalah pipisan. Bersama dengan gandik, pipisan merupakan salah satu  set alat yang dipakai oleh orang zama dahulu untuk menghaluskan rempah, bahan mineral, biji-bijian dan lain-lainnya untuk dibuat sebagai bumbu dapur atau pun jamu. Pipisan mengingatkan kita pada cobek yang selalu ada di dapur kita sekarang ini dan gandik akan mengingatkan kita pada “ulekan” atau “ulek-ulek” sebagai pasangan cobek. Berbeda dengan saat kita menghaluskan bumbu dapur dengan cara memegang ulekan dengan satu tangan, maka pada zaman dulu orang mipis dengan kedua tangannya untuk memegang masing-masing ujung dari gandik, yang kemudian digeserkan maju mundur sambil diputar untuk menggerus bahan yang ada di pipisan.
Relief yang diduga menggambarkan seorang wanita sedang mipis pada batu “umpak” yang sekarang disimpan di dalam lemari khusus. Umpak atau pelandas tiang adalah sebuah batu yang dibentuk menjadi limas dan dipakai sebagai dasar tiang bangunan zaman dulu. Ukiran atau pun relief pada umpak selalu menggambarkan kegiatan sehari-hari pada zamannya, yang salah satunya adalah mipis itu tadi. Relief ini kemungkinan dipahat pada zaman Majapahit, abad ke 14 Masehi.

3.       Maha Karmawibhangga
Khusus pada kamadhatu terdapat 160 panil relief yang menggambarkan adegan-adegan dari Maha Karmawibhangga, yaitu ajaran yang melukiskan tentang hukum sebab akibat. Karma artinya perbuatan dan wibhangga artinya gelombang atau alur. Karmawibhangga memang merupakan alur atau gelombang kehidupan manusia, baik pada masa hidup maupun setelah mati. Jadi baik buruknya nasib manusia ditentukan oleh perbuatan. Ajaran ini juga meneguhkan bahwa suatu perbuatan pasti ada akibatnya.
Dari semua relief ini terdapat 4 relief yang menggambarkan kesehatan atau pengobatan, hanya 2 relief yang diambil dari:

Panil ke 78 yang menggambarkan adegan lengan orang sakit sedang dipegang untuk diobati, dan obatnya dibawa di dalam wadah oleh orang yang berjenggot.

Panil ke 3 yang menggambarkan seorang wanita yang ditolong oleh beberapa orang pada proses pengguguran kandungan.

4.       Candi Penataran
Candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke 14 Masehi ini, terdapat di daerah Blitar. Adegan dalam relief cerita Panji ini terdapat pada Pendopo Teras II Candi Penataran. Relief ini dipahat pada masa keemasan Majapahit pada tahun Saka 1297 atau 1375 Masehi. Salah satu reliefnya menggambarkan seorang wanita yang sedang sakit (rindu), karena ditinggal pergi suaminya yang sedang menuntut ilmu ke tempat pembelajaran yang dikenal dengan nama mandala kedewagaruan. Wanita ini berbaring dengan berselimut dan kepalanya dipangku oleh seorang pertapa sedangkan kakinya dipegangi salah seorang inangnya (kemungkinan sambil dipijat). Relief berikutnya menggambarkan suaminya mengirimkan surat melalui burung merpati, dan kemudian menggambarkan sang wanita ini sudah kelihatan segar bugar dengan rasa sukacita, sedang berduaan dengan suaminya. Bisa dikatakan bahwa kasus ini adalah kasus psikosomatis, orang yang sakit raganya diakibatkan oleh masalah psikologis.

5.       Candi Prambanan
Relief yang menarik perhatian adalah yang menggambarkan Dewaki akan melahirkan Kresna dengan mendapatkan pertolongan dari 2 orang dukun bayi. Sedangkan relief yang diangkat adalah relief yang menggambarkan seorang raksasa yang menjelma menjadi wanita cantik, bernama Putana sedang menyusui Kresna dan Baladewa (kakak Kresna) yang menurut hikayat, susu ini mengandung racun. Relief ini merupakan 2 buah adegan yang menggambarkan kehidupan dalam cerita Krenayana, yang dipahat di Candi Wisnu yang terdapat pada kompleks Candi Prambanan di Jawa Tengah.

6.       Candi Jago
Candi ini berada di Desa Tumpang, Kabupaten Malang. Relief yang berada di sisi selatan ini dipahat pada masa keemasan Majapahit abad 14 Masehi, menceritakan perjalanan Partha (Arjuna) yang diiringi oleh 2 orang punakawan dalam suasana hujan deras. Terlihat Partha berjalan sambil berpayungan daun pisang, sedangkan para punakawan tidak. Relief selanjutnya menggambarkan mereka beristirahat di bawah pohon besar dan terlihat bahwa para punakawan sakit sedangkan Partha tidak menampakkan tanda sedang sakit. Pada zaman dahulu pun seseorang akan sakit demam jika kehujanan. ***


Sumber:
  • Yunita Fitrianti dalam Makalan Makna Kesehatan di Balik Batik.


0 comments:

Post a Comment