Sabtu, 20 Oktober 2012

Asal Usul Prasasti Munjul

Tarumanegara merupakan sebuah kerajaan yang berkuasa di wilayah Jawa Barat. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-4 hingga ke-7 Masehi ini merupakan salah satu kerajaan tua di Indonesia. Kerajaan Tarumanegara dikenal memiliki tujuh buah prasasti. Salah satunya adalah Prasasti Munjul. Prasasti Munjul disebut juga Prasasti Cidanghiang. Prasasti ini terdapat di tepi Sungai Cidanghiang yang terletak di Desa Lebak. Desa Lebak terdapat di Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Prasasti ini berisi pujian kepada Raja Purnawarman yang berkuasa pada saat itu. Pujian ini diberikan karena Raja Purnawarman berhasil menumpas kelompok perompak yang telah mengganggu keamanan.
Pada masa kekuasaan Raja Purnawarman, para perompak sangat merajalela. Mereka sangat meresahkan warga, terutama para nelayan. Hasil tangkapan mereka sering dirampas oleh para perompak.
Para perompak itu tidak hanya merampas hasil tangkapan para nelayan, tetapi mereka juga sering menyiksa dengan kejam. Para nelayan tidak ada yang berani melawan karena gerombolan perompak itu sangat garang.
Perlawanan Raja Purnawarman terhadap para perompak bermula ketika perompak menyerang kapal milik kerajaan. Di dalam kapal itu, terdapat seorang menteri kerajaan. Para perompak seakan tidak peduli dan tidak takut dengan kekuasaan raja. Mereka tetap merompak kapal kerajaan.
Para pengawal kerajaan berusaha melawan mereka. Namun, para perompak lebih kuat. Pasukan kerajaan dapat mereka kalahkan. Banyak pengawal yang gugur dan mayatnya dibuang ke laut.
Salah seorang pengawal kerajaan yang dibuang ke laut, ternyata masih hidup. Tubuhnya terombang-ambing di lautan. Ia ditemukan oleh dua orang penduduk yang sedang memancing bernama Bima dan Wamana.
“Lihat, ada orang tenggelam!” seru Bima.
Mereka segera menolong pengawal itu dan membawanya ke daratan.
“Orang ini mengenakan seragam kerajaan. Sepertinya ia seorang pengawal,” ujar Bima lagi.
Wamana berkata, “Betul, ayo kita bawa ke istana.”
Mereka membawa pengawal itu ke istana. Setelah mendapat perawatan, pengawal itu telah kembali sehat dan menjelaskan peristiwa yang terjadi.
Raja Purnawarman sangat marah mendengar cerita pengawalnya. Ia memutuskan untuk mengadakan perlawanan dengan para perompak. Seluruh pasukan kerajaan telah disiapkan untuk melawan gerombolan perompak itu.
Pasukan kerajaan menyerang kapal perompak pada malam hari. Para perompak sangat tidak siap dengan serangan itu. Mereka berhasil ditaklukkan. Para perompak itu ditangkap dan dijadikan tawanan kerajaan. Namun, ada satu orang yang berhasil meloloskan diri. Ia adalah kepala perompak.
Para pengawal sudah mencari ke seluruh kapal, tetapi kepala perompak itu tidak juga ditemukan. Akhirnya, pasukan kerajaan kembali ke istana.
Kepala perompak masih menjadi buronan kerajaan. Raja Purnawarman menanyakan ciri-ciri kepala perompak kepada para perompak yag telah tertangkap. Jawaban yang mereka berikan sangat tidak memuaskan. Mereka mengatakan kalau pemimpin mereka berbau amis, berpenyakit asma, dan suka menyamar. Mendengar jawaban itu, raja sangat marah dan merasa dipermainkan. Ia lalu menyuruh pengawalnya untuk menghukum mereka.
Setelah berhasil menaklukkan gerombolan perompak, kerajaan mengadakan acara syukuran secara besar-besaran. Seluruh rakyat Tarumanegara ikut serta, begitu juga dengan Bima dan Wamana.
Di acara syukuran itu, Wamana mencurigai seorang perempuan berkerudung yang berkelakuan aneh. Perempuan itu berbau amis dan sikapnya tidak wajar.
Wamana lalu teringat pengakuan dari anak buah perompak kalau pemimpin mereka berbau amis dan suka menyamar. Ia langsung curiga dengan perempuan itu. Bisa saja ia adalah si kepala perompak yang menyamar.
Diikutinya terus perempuan itu. Kecurigaan Wamana semakin meningkat karena tingkah laku perempuan itu sangat aneh. Akhirnya, Wamana menarik kerudung yang dipakai oleh perempuan itu. Dan benar saja, ia adalah si kepala perompak.
Raja Purnawarman menyaksikan kejadian itu. Ia langsung menyuruh para pengawalnya menangkap si kepala perompak. Namun, rupanya, kepala perompak bukan orang sembarangan. Ia sangat sakti. Berpuluh-puluh pengawal bisa ia lumpuhkan.
Bima yang ilmu bela dirinya sangat tinggi, mencoba melawan perompak itu. Pertarungan berjalan seimbang. Keduanya mengeluarkan jurus-jurus sakti andalan untuk menaklukkan lawannya. Pukulan dan tendangan tidak bisa dihindarkan.
Pertarungan berjalan dengan sengit, membuat yang menyaksikan sampai tidak mengedipkan mata. Setelah cukup lama bertarung, keduanya mulai kelelahan. Bima menyadari kekuatannya sudah hamper habis. Tiba-tiba, ia teringat penyakit asma yang diderita oleh kelompok perompak. Bima segera mencekik leher perompak itu agar penyakit asmanya kambuh.
Penyakit asma si perompak kambuh dan membuatnya lemah. Ia jatuh tersungkur karena kehabisan napas. Raja Purnawarman segera memerintahkan pengawalnya untuk meringkus kepala perompak dan menjebloskannya ke dalam penjara.
Raja Purnawarman sangat berterima kasih kepada Bima dan Wamana karena telah membantu kerajaan menaklukkan gerombolan perompak.
Tarumanegara kini sudah aman. Tidak ada perompak yang meresahkan warga lagi. Mereka sangat bersukacita dan menghaturkan terima kasih kepada Raja Purnawarman karena telah berhasil menumpas para perompak.
Rakyat Tarumanegara membuat sebuah prasasti yang berisi pujian kepada Raja Purnawarman. Isi prasasti itu adalah (ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termahsyur Purnawarman.
Prasasti itu kemudian dinamakan Prasasti Munjul karena berada di Kecamatan Munjul. Dan termasuk ke dalam tujuh prasasti yang terkenal di Tarumanegara. ***

Sumber:
  • Sekar Septiandari, 2010, Seri Cerita Rakyat Banten, Tangerang: KARISMA Publishing Group

0 komentar:

Posting Komentar