Rabu, 26 Desember 2012

Bentuk Dokumentasi Kearifan Lokal

Kebudayaan sebagaimana organisme, lahir tumbuh, berkembang, menyusut, bisa pula lenyap. Dengan demikian kebudayaan bersifat dinamis, tidak beku dan terbuka untuk pengaruh dari luar. Ketika suatu kebudayaan mendapatkan berbagai penemuannya melalui daya kreativitas para pendukungnya, kebudayaan tersebut akan berkembang, terus meluaskan pengaruhnya ke budaya-budaya lain di sekitarnya. Pengaruh itu dapat diterima atau ditolak, sangat tergantung dari keperluan lingkup kebudayaan yang didatanginya.
Apabila diterima selanjutnya terjadi proses akulturasi yang melibatkan para pendukung kebudayaan, baik kebudayaan yang mempengaruhi atau kebudayaan yang dipengaruhi. Terjadi dialog yang intensif antar keduanya, apabila kebudayaan setempat hanya memiliki modal secara terbatas, maka yang terjadi adalah munculnya kebudayaan tiruan (imitasi) dari kebudayaan pendatang, dan jika kebudayaan setempat telah memiliki pencapaian yang lumayan di berbagai aspek kebudayaan, maka kebudayaan setempat memiliki kemampuan untuk mengolah lagi pengaruh luar yang datang, memadukan dengan pencapaian sendiri, dan melahirkan bentuk-bentuk anasir budaya baru yang lebih bermakna dan lebih sesuai dengan kondisi setempat.
Bagi bangsa Indonesia bermacam bentuk pencapaian hasil akulturasi dengan kebudayaan luar dan inovasi dalam lingkup kebudayaan sendiri tanpa ada pengaruh luar tentunya merupakan representasi dari suatu “cerlang budaya” (local genus) dalam dinamika kebudayaannya. Akar kebudayaan yang berkembang di Nusantara sudah pasti dari periode prasejarah dan protosejarah, pada masa itu sebenarnya nenek moyang bangsa Indonesia telah mempunyai beberapa kepandaian yang signifikan. Ketika pengaruh budaya luar (Kebudayaan India) datang, pengaruh itu tidak merata di seluruh wilayah kepulauan di Nusantara, melainkan hanya diterima di beberapa pulau saja, yaitu di wilayah Sumatera, Jawa, dan Bali, serta sedikit saja yang mampu menembus rimba Kalimantan Timur. Berbagai wilayah Kepulauan Indonesia lainnya tetap mempertahankan dan mengembangkan pencapaian budaya yang telah disemaikan dalam era prasejarah dan protosejarah. Demikianlah terjadi perkembangan kebudayaan yang berdampingan antara kebudayaan akulturasi dengan budaya India, kebudayaan asli Nusantara, dan pada masa belakangan masuk pula pengaruh kebudayaan Cina, Islam, dan Eropa Barat, semuanya makin memperkaya khasanah perkembangan kebudayaan di Indonesia kelak.
Maka seakan telah menjadi suatu keniscayaan bahwa banyak pencapaian kebudayaan di masa silam yang kemudian dipandang tidak sezaman lagi dengan perkembangan terakhir. Bentuk-bentuk pencapaian itu surut dari apresiasi masyarakat di zaman-zaman yang lebih kemudian, hal itulah yang kemudian dinamakan dengan Cagar Budaya apabila dikehendaki, namun ada pula yang hasil kebudayaan masa lalu yang diabaikan begitu saja sehingga hilang tanpa sempat dilindungi, dikaji, didokumentasikan, dan didaftarkan menjadi warisan budaya nasional apabila menjadi warisan dunia.
Pencapaian budaya apapun bentuknya sejatinya merupakan kearifan lokal, sebab ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat Nusantara yang mampu merumuskan kebeningan pemikirannya untuk menghasilkan sesuatu yang akhirnya berguna bagi sesamanya. Kearifan lokal telah menghasilkan inovasi berbagai anasir kebudayaan, kemudian hasil kebudayaan yang mulai surut itu dilestarikan menjadi Cagar Budaya, dengan demikian sebenarnya yang menjadi cagar budaya adalah sejumlah kearifan lokal. Kearifan lokal tersebut dirumuskan dan dituangkan baik dalam bentuk overt civilization yang bersifat kebendaan ataupun yang covert civilization yang merupakan rumusan pemikiran, konsep, nilai dan lain-lain yang harus diapresiasi secara khusus pula.
Walaupun demikian tentu tidak semua pencapaian kebudayaan berhasil menjadi Cagar Budaya, hal yang penting walaupun secara terbatas Cagar Budaya tersebut sebenarnya adalah bentuk dokumentasi dari kearifan lokal. [Agus Aris Munandar FIB UI]

Sumber:
  • ______ , 2012, Photography Cagar Budaya Dalam Kearifan Lokal, Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

0 komentar:

Posting Komentar