Senin, 03 Desember 2012

Melirik Jamu sebagai Warisan Budaya Dunia

Sebelum diakui UNESCO  sebagai warisan kebudayaan dunia, batik terkesan “kuno” sehingga jarang dipakai. Batik pun identik dengan pakaian “orang tua”. Namun, setelah UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia, semua kalangan lintas generasi berbondong-bondong dan bangga menggunakan batik. Barangkali seperti batik, jamu juga akan bernasib sama setelah dinobatkan UNESCO sebagai warisan dunia.
Jauh sebelum ilmu farmasi muncul, manusia memanfaatkan ketersediaan alam sebagai “media kesehatan” yang ampuh. Ketersediaan alam tersebut bisa berupa mineral, tumbuhan dan hewan. Dari tumbuhan, manusia awal mengambil daun, akar, bunga, buah, umbi, hingga batang. Sementara itu, hewan juga digunakan sebagai pengobatan, misalnya empedu. Hingga sekarang, apa yang ditemukan dan dimanfaatkan manusia zaman dulu sebagai media kesehatan tersebut dikenal dengan “jamu”. Ilmu kesehatan modern mengenalnya sebagai herbal.
Di kalangan seperti raja dan bangsawan, jamu menjadi rahasia pengobatan yang mutakhir pada zamannya. Tradisi meracik jamu membudaya di setiap generasi kerajaan Hindu-Jawa. Orang dahulu menyebut peracik jamu dengan nama “acaraki”. Tak heran jika tradisi minum jamu masih terus dikembangkan di kalangan kraton Yogya dan Surakarta.
Selain itu, keampuhan jamu sebagai media kesehatan dan pengobatan masih diakui hingga sekarang. Tak ayal, banyak manusia modern abad ini yang mulai beralih dari pengobatan kimia ke jamu. Hal ini tidak lepas dari semangat untuk “back to nature” yang diserukan oelh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Mengingat sejarah panjang akan manfaat jamu yang tak lekang oleh zaman, kini jamu Indonesia diusulkan ke UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia (world heritage), menyusul batik, keris dan gamelan. Meski dikenal tak hanya di Indonesia, jamu Indonesia memiliki karakter dan keunikan yang berbeda dengan negara lain, seperti bahan, komposisi, pembuatan, penyajian, sampai kegunaan.
Tak hanya itu, mengembalikan tradisi jamu sebagai media kesehatan kini menjadi tren yang kian menggejala. Di Desa Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah, misalnya, telah diresmikan sebagai “kampung jamu” oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Kamis (22/11). Tren “back to jamu” menjadi bukti bahwa jamu dari masa ke masa, selalu mendapat ruang di hati manusia lintas zaman.
Para usahawan pun tak ketinggalan berkontribusi untuk memajukan produk jamu. Untuk menjawab tuntutan masyarakat yang menginginkan kualitas jamu alami dan sehat, misalnya, PT Jamu Jago sebagai perusahaan jamu besar, sejak 1918 selalu menjaga kualitas mutu berbahan alami rempah Indonesia (local content) dengan standar produksi yang tinggi. Selama 94 tahun memimpin industri jamu, Jamu Jago tidak menggunakan bahan kimia, bahan pengawet, atau bahan pemanis. [LIS]

Sumber:
  • KOMPAS edisi Sabtu, 1 Desember 2012 hal. 43

0 komentar:

Posting Komentar