Senin, 03 Desember 2012

Pengantin Melayu Pontianak

Setiap daerah mempunyai adat upacara yang berbeda-beda dalam melangsungkan upacara perkawinan. Perbedaan ini muncul dikarenakan perkembangan sejarah peradaban maupun kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.
Begitu pula di wilayah Kalimantan Barat, tempat bermukimnya masyarakat Melayu Pontianak. Masyarakat Melayu Pontianak mengenal beberapa tahapan dalam pelaksanaan perkawinan, yaitu:

1.       Mengangin-anginkan
Tahapan pertama sebelum pernikahan dalam tradisi masyarakat Melayu Pontianak adalah mengangin-anginkan, dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki untuk mencarikan jodoh bagi anak laki-lakinya yang dianggap telah cukup umur dan mapan untuk berkeluarga. Setelah menemukan seorang gadis yang cocok dilanjutkan dengan tahap mengirimkan utusan.

2.       Mengirim utusan
Dalam tahap ini wakil dari pihak keluarga laki-laki datang menemui orang tua pihak perempuan, untuk menanyakan apakah anak gadisnya sudah mempunyai calon suami, jika jawabannya belum dan orang tua perempuan menerima perjodohan dari pihak keluarga laki-laki maka dilanjutkan dengan tahap melamar.

3.       Melamar
Orang tua pihak laki-laki akan mengutus keluarga dekatnya untuk datang ke rumah orang tua perempuan dengan tujuan melamar atau meminang, jika lamaran diterima segera dilaksanakan ngantar tande.

4.       Ngantar tande
Dalam tradisi ini keluarga laki-laki akan membawa cincin dan sepeangkat pakaian wanita untuk diserahkan kepada calon mempelai wanita sebagai tanda bahwa dia sudah dilamar. Acara ini biasanya dilakukan pada malam hari, bersamaan dengan itu pula dibicarakan penentuan hari pernikahan.

5.       Berbedak
Selama 40 hari calon pengantin wanita diharuskan berbedak agar pada saat perkawinan akan lebih bersih dan segar, selama pemakaian bedak tersebut calon mempelai wanita tidak boleh keluar rumah.

6.       Bertangas
Tradisi ini dilakukan satu minggu sebelum hari pernikahan pada siang atau malam hari dengan tujuan untuk mengurangi keringat dan mengharumkan tubuh.

7.       Tepung tawar dan mandi beras
Dilakukan satu hari sebelum akad nikah oleh masing-masing keluarga calon mempelai laki-laki dan wanita, bertujuan untuk menolak bala dan mengharapkan keselamatan dalam menghadapi akad nikah serta mohon doa restu dari kedua orang tua.

8.       Berinai
Suatu tradisi memberi warna merah pada kuku sebagai tanda pengantin baru, dilakukan pada malam hari sebelum akad nikah. Inai ini terbuat dari daun pacar dengan campuran gambir, nasi dan sebagainya yang dihaluskan.

9.       Bercukur dan titek gigi
Tradisi ini dilakukan setelah mandi beras dan tepung tawar oleh para orang tua (orang yang dituakan) dengan mencukur rambut halus di sekitar muka dan meratakan gigi calon pengantin wanita agar terlihat lebih cantik.

10.   Akad nikah
Biasanya dilakukan di rumah calon mempelai wanita pada siang atau malam hari. Bersamaan dengan itu pula keluarga calon mempelai laki-laki akan membawa barang hantaran yakni berupa uang dan barang atau seperangkat perlengkapan untuk calon mempelai wanita. Tahap akhir dari tradisi perkawinan Melayu Pontianak adalah jamu besan yakni acara pertemuan antara orang tua dengan keluarga mempelai. ***


Sumber:
  • Museum Provinsi Kalimantan Barat

0 komentar:

Posting Komentar