Selasa, 30 April 2013

Sejarah Singkat Desa Rejoagung

Desa Rejoagung merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Desa ini terletak pada koordinat 05° 09' 722" LS dan 105° 21' 710" BT, dan terdiri atas 4 dusun, yaitu: Dusun I Rejobasuki, Dusun II Rejomulyo, Dusun III  Sidomulyo dan Dusun IV Sidobasuki.
Desa Rejoagung, saat ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.255 orang yang terdiri atas 1.189 laki-laki dan 1.066 perempuan dengan jumlah 687 KK, yang tersebar di empat dusun yang ada. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, utamanya adalah sawah beririgasi, curah hujan 2.000 mm/tahun, dan suhu udara ± 30°C - 35°C.
Desa yang memiliki luas sekitar 374,953 ha ini berbatasan dengan Desa Nampirejo di sebelah Utara, Desa Buana Sakti di sebelah Selatan, Desa Adiwarno di sebelah Barat, dan Desa Bale Kencono di sebelah Timur.
Lokasi desa ini tidak terlalu jauh dengan ibu kota Kecamatan Batanghari, yaitu sekitar 3 Km, sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Lampung Timur adalah sekitar 30 Km.


Dalam Monografi Desa Rejoagung, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, yang disusun dalam rangka untuk mengikuti Lomba Desa Tingkat Kabupaten Lampung Timur Tahun 2005, disebutkan bahwa Desa Rejoagung dibuka pada tahun 1940 oleh Pemerintah Belanda. Kala itu, penduduk yang akan mendiami daerah bukaan baru tersebut didatangkan dari Pulau Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang terbanyak berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penduduk dari Jawa Tengah yang mendiami daerah tersebut didatangkan dari Surakarta, Klaten, Banyumas, Gombong, dan Yogyakarta. Yang dari Jawa Timur, seperti Kediri, Tulungagung, Ponorogo, dan Trenggalek, sedangkan yang dari Jawa Barat hanya sebagian kecil saja. Pada waktu itu, pemindahan antar pulau pada era pendudukan Belanda lazim disebut kolonisasi.
Awalnya, jumlah penduduk yang didatangkan saat itu sebanyak 375 KK. Dari sekian banyak penduduk tersebut, akhirnya dibagi menjadi tiga kelompok, dan ketiga kelompok tersebut dijadikan satu untuk menghuni sebuah bedeng (camp). Bedeng yang dihuni tersebut dikenal dengan Bedeng 49.
Dari ketiga kelompok tersebut, masing-masing mempunyai Ketua Kelompok, di mana masing-masing Ketua Kelompok dari daerahnya. Oleh Pemerintah Belanda pada waktu itu, setiap kelompok dibagikan bahan makan, alat pertanian, obat-obatan serta bahan untuk membuat rumah untuk warga masing-masing. Selain itu, Pemerintah saat itu juga menunjuk satu orang dari tiga Ketua Kelompok untuk menjadi Kepala Kampung, yang kala itu terpilih Bp. Sutomo untuk menjadi Kepala Kampung.
Akhirnya, lambat laun Bedeng 49 berubah menjadi Desa Rejoagung seiring adanya pertambahan dan perkembangan penduduk yang mendiami daerah Bedeng 49. *** (290113)

0 komentar:

Posting Komentar