Rabu, 01 Mei 2013

Sejarah Kota Sukadana

Sukadana terletak 30 Km sebelah Timur Kota Metro dan 80 Km dari Bandar Lampung. Kota kecil ini dapat ditempuh dengan bus dari terminal Rajabasa Bandar Lampung dengan lama perjalanan sekitar 2 jam.
Dulu, Sukadana adalah kota tua yang merupakan onder afdeling pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Namun, usai kemerdekaan Sukadana dimasukkan dalam wilayah adminstratif Lampung Tengah yang beribukota di Kota Metro. Baru pada 27 April 1999, Sukadana resmi menjadi pusat pemerintahan Lampung Timur setelah adanya pemekaran wilayah administratif baru dari Lampung Tengah. Sehingga, Sukadana akhirnya ditetapkan menjadi ibu kota pemerintahan Kabupaten Lampung Timur.
Pemilihan Sukadana sebagai pusat pemerintahan Lampung Timur didasarkan dengan sejumlah pertimbangan yang bermuara pada semangat otonomi daerah. Sukadana adalah merupakan daerah dengan kebudayaan Lampung, adat perkawinan, dan tari-tarian. Di sini juga masih terdapat rumah tradisional Lampung di mana di dalamnya masih tersimpan barang-barang kuno peninggalan leluhur.
Menurut Hj. Uzunuhir, S.Pd yang bergelar Suttan Lepus, menerangkan bahwa sejarah Sukadana bermula dari seorang bernama Minak Punya Bumi bin Minak Krio Penegeng di Buyut Tua (sekarang sekitar Pabrik Gula Gunung Madu Kecamatan Terbanggi Besar).
Kala itu, ia beserta keluarga naik perahu menyusuri Way Seputih dan sesampainya di cabang Way Seputih, rombongan menuju ke arah Sungai Pegadungan. Ketika menyusuri Sungai Pegadungan, rombongan singgah di Kertosano, sebuah perkampungan yang terletak di pinggir Sungai Pegadungan.
Minak Punya Bumi ini memiliki 3 putra, yaitu Minak Rio Ujung, Minak Maring Bumi, dan Minak Rio Kudu Islam serta seorang putrid yang bernama Inten Miyani. Setelah orang tua mereka meninggal, mereka naik perahu menyusuri kembali Sungai Pegadungan lantaran tidak tahan akan adanya gangguan bajak laut yang kerap mengintai mereka. Dalam penyusuran tersebut, akhirnya mereka menemukan tebing ghatcak (tebing tinggi) di simpang Sungai Sukadana. Di tempat ini, mereka berhenti dan menambatkan perahunya di pinggir sungai yang masih diliputi belantara.
Pada malam harinya, mereka berdoa meminta petunjuk kepada Allah SWT, apakah diizinkan untuk membuat kampung di tempat itu. Pada tengah malam mereka mendapat sasmita mendengar suara (masyarakat di sana meyakini seperti suara burung) … sukoanosukoanosukoano. Sukoano dalam bahasa Lampung berarti boleh ditempati, atau diizinkan. Hal ini ditafsirkan oleh mereka berarti daerah ini boleh atau diizinkan untuk dijadikan sebuah perkampungan.
Keesokan harinya mereka memulai membabat hutan untuk membuat syarat-syarat kampung, seperti membuat kumbung (dermaga kecil untuk menambatkan perahu), kuwayan (tempat mandi untuk pria dan wanita secara terpisah), jalan, surung bubu, atau cabang empat (perempatan), lapangan sessat, rumah adat, mushola, dan pembagian wilayah (bilik) kampung, antara lain: Bilik Ghabo, Bilik Libo, Bilik Tengah, dan lain-lain.
Setelah syarat-syarat kampung terpenuhi, mereka mengundang tokoh-tokoh kampung di sekitar Way Seputih dan Way Pengubuan – antara lain di Kampung Buyut, Serbayo, Terbanggi, dan Kampung Mataram – untuk menghadiri upacara adat meresmikan kampung (ngebaten anek) dengan diberi nama Sukadano sekitar tahun 1650 M. Atas kemufakatan bersama maka Minak Rio Kudu Islam menjadi Pimpinan Kampung dengan pepadun (singgasana) di tengah-tengah rumah adat (pemegat).
Lokasi yang diceriterakan dalam sejarah ini masih bisa dijumpai di daerah Sukadana Darat. Darat yang menjadi kata ikutan hanya sebagai penanda karena posisinya yang lebih tinggi, lokasinya berada di atas sungai seolah-olah menanjak bukit (ghatcak). Namun demikian, Sukadana Darat tersebut sebenarnya terletak di Dusun Sukadana, Kelurahan Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Suasana kampung ini dipertahankan sebagai kampung etnik yang masih banyak berdiri bangunan kuno khas Lampung . *** (110213)

0 komentar:

Posting Komentar