Senin, 24 Juni 2013

Museum Sunan Giri

Museum Sunan Giri terletak di Jl. Pahlawan No. 24 Kelurahan Tlogo Bendung, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, atau tepat berada di depan Taman Makam Pahlawan Kabupaten Gresik.
Meski terletak di lokasi yang strategis, namun bagi orang luar Gresik akan kesulitan untuk menemukan museum ini. Hal ini dikarenakan bangunan museum yang berukuran kecil dan berada di sudut pelataran parkir kawasan wisata religi Maulana Malik Ibrahim.


Museum ini dinamakan Museum Sunan Giri, tidak lain adalah untuk mengenang seorang tokoh ulama kharismatik modernis untuk ukuran saat ini, yang mampu membawa Gresik sebagai kerajaan Islam, kota bandar dagang, pusat budaya pesisir dan pusat pendidikan Islam melalui pesantren. Sunan Giri mengandung pengertian yang tersembunyi. Sunan berasal dari kata “Susuhunan” artinya yang dijunjung tinggi, atau “Suhun” artinya dijunjung di atas kepala. Sedangkan Giri merupakan tempat dimana beliau menjadikannya sebagai pusat kegiatan baik agama, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Giri sebagai pusat pemerintahan di Gresik pada saat itu, ternyata disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, bahkan internasional sepanjang masa kewalian (1487-1605 M), yaitu dari Jaka Samudara atau Raden Paku atau Sunan Giri atau Prabu Satmata atau Sultan Ainul Yaqin sampai Sunan Prapen.


Museum Sunan Giri Kabupaten Gresik diresmikan pada 17 Maret 2003 bersamaan dengan Hari Jadi Kota Gresik oleh Bupati Gresik Drs. K.H. Robbach Ma’sum, MM. Museum ini didirikan dengan dilatarbelakangi oleh besarnya tinggalan arkeologi dan sejarah yang ada di Kabupaten Gresik yang berada di alam maupun masyarakat, karena kala itu tidak ada pusat informasi dan edukasi tentang sejarah purbakala Kabupaten Gresik yang dapat memberikan informasi dan melindungi data sejarah purbakala yang dimiliki Kabupaten Gresik.
Hingga saat ini Museum Sunan Giri terus berbenah dan memperkaya koleksi yang baru berjumlah 50-an dari periode Klasik, perkembangan awal Agama Islam dan kolonial.
Beberapa koleksi Museum Sunan Giri yang dipamerkan di 2 ruang pameran tetap yang dimilikinya, meliputi:

Kaligrafi
Kaligrafi ini terbuat dari bahan kayu jati dengan ukuran panjang 57 cm, lebar 31 cm dan tebal 3 cm. Kaligrafi ini diberi nomor inventaris 04.030.
Kaligrafi berhuruf Arab Jawi dan berbahasa Jawa ini merupakan koleksi Museum Sunan Giri yang diperoleh dari Kompleks Makam Sunan Giri. Kaligrafi adalah salah satu seni dalam Islam yang banyak dikembangkan sejak zaman dahulu. Fungsinya bukan sekadar sebagai ornamen atau hiasan belaka, tapi juga sebagai sarana berdzikir kepada Allah SWT. Tentunya juga semakin memantapkan hati untuk berislam karena kaligrafi tidak ditemukan pada budaya lain.
Kaligrafi di Indonesia selalu berkonotasi dengan Arab atau lebih sempit lagi Islam, namun kaligrafi koleksi Museum Sunan Giri ini berisi peringatan meninggalnya seorang tokoh pembesar di Gresik bernama Panji Arun Kusumawardhana yang meninggal pada tahun 1875 M. Siapa sebenarnya tokoh tersebut, belum diketahui secara pasti. Tampaknya beliau adalah salah seorang tokoh yang sangat terpandang di Gresik pada pertengahan kedua abad 19.

Keris Kyai Kalamunyeng (Replika)
Keris ini terbuat dari bahan besi tempa dan tembaga. Keris ini memiliki ukuran panjang mata keris 36 cm, panjang gagang 11 cm, dan panjang sarung 38,5 cm serta luk 13. Keris ini diberi nomor inventaris 04.038.
Menurut sumber sejarah tradisional, baik tradisi lisan maupun tradisi tulis, keris ini merupakan peninggalan dari Sunan Giri sekaligus merupakan senjata pusaka milik beliau. Keris tersebut diyakini bukan terbuat dari besi tempa, baja, dan bahan pendukung lainnya, tetapi merupakan keris mistik atau penjelmaan dari kalam penuding yang biasa digunakan untuk mengaji Al-Qur’an milik Sunan Giri.
Bagaimana keris itu bila ditinjau dari segi berita tradisional sangat sulit untuk dinalar dan diuraikan, sebagaimana asal usul berbagai pusaka yang dimiliki oleh para pembesar yang dianggap sakti mandraguna pada umumnya. Keris Kyai Kalamunyeng sebagai benda pusaka memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Islam di Gresik maupun Nusantara, bahkan Belanda sejak berkuasa di Gresik sangat takut dan terbebani atas keberadaan keris itu.
Berdasarkan sumber-sumber Belanda yang ada, disebutkan bahwa keris yang sejak meninggalnya Sunan Giri tersimpan di makam beliau merupakan sumber inspirasi bagi para peziarah untuk melakukan resistensi (perlawanan) terhadap kaum kafir Belanda.

Umpak
Umpak ini tebuat dari kayu jati dengan ukuran lebar saf 1 58 cm, lebar saf 2 48 cm, lebar saf 3 38 cm, dan tebal 18 cm. Umpak ini diberi nomor inventaris 04.008.
Umpak ini dulu digunakan di Kompleks Makam Sunan Giri. Terdiri dari delapan sudut, bagian tengah terdapat lubang persegi empat tempat menancapkan tiang bangunan.
Umpak ini dihiasi motif karang, merupakan salah satu cirri peninggalan Islam. Hal ini mungkin bisa dihubungkan dengan masuknya kebudayaan Islam di Indonesia melalui perdagangan laut. Selai itu, Gresik merupakan kota pantai di mana banyak ditemukan karang, yang akhirnya menginspirasi seniman untuk menuangkan ide itu dalam karyanya.

Bedug
Bedug ini terbuat dari sepotong bata kayu besar, ditutup dengan kulit lembu yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bedug ini memiliki ukuran panjang 100 cm serta memiliki diameter 67 cm. Bedug ini diberi nomor inventaris 04.009.
Bila dipukul, bedug ini menimbulkan suara berat, bernada rendah, tetapi terdengar sampai jarak yang cukup jauh. Sampai sekarang, bedug masih berfungsi seperti semula di masjid-masjid, sedangkan di mushala, fungsi bedug biasanya digantikan dengan kentongan. Kegunaan bedug sama dengan lonceng gereja.
Bedug ini diperoleh dari Masjid Desa Pasucinan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Pasucinan adalah desa di mana Maulana Malik Ibrahim pertama kali berdakwah di tanah Gresik. Bedug ini diyakini sebagai peninggalan Maulana Malik Ibrahim yang hidup di Gresik pada akhir abad 14 sampai awal abad 15 M. Beliau meninggal pada tahun 1419 M dan dimakamkan di Desa Gapuro Gresik.

Guci
Guci ini berbahan dari kaolin, memiliki warna coklat keabuan, dan mulutnya kecil. Dari pertengahan badan ke atas berhiasan garis-garis yang melingkari bagian tubuhnya dan garis vertikal sampai batas mulut.
Guci sejenis ini biasanya digunakan di kapal sebagai wadah air atau garam . Guci ini diperkirakan berasal dari abad ke 17 M, dan menjadi koleksi museum ini dengan diberi nomor inventaris 04.016.

Pelana Kuda
Pelana kuda koleksi Museum Sunan Giri merupakan peninggalan para santri Sunan Giri yang terbuat dari kayu dengan ukuran panjang 52 cm, lebar 36 cm, dan tebal 1,5 cm.
Pelana ini disimpan dan diberi nomor inventaris 04.027.

Piring Keramik
Piring ini terbuat dari porselin dengan ukuran diameter atas 21,5 cm, diameter bawah 12 cm, dan tebal 0,4 cm.
Piring ini diperkirakan berasal dari Eropa abad ke 19 M, berwarna biru dan bergambar pemandangan. Piring ini disimpan dengan nomor inventaris 04.028.
Sedangkan piring keramik oval, terbuat dari kaolin dengan motif dibawah glasir. Piring ini berwarna biru dan bergambar pemandangan. Piring ini diperkirakan berasal dari Eropa abad ke-18 M, dan digunakan sebagai alat makan untuk kalangan tertentu.

Kitab Khotbah Jumat
Naskah ini terdiri dari 11 jilid berdasarkan jumlah bulan hijriyah dalam satu tahun, kecuali bulan Dzulhijah. Naskah kitab berasal dari bahan kertas jenis Lion in medallion.
Berdasarkan watermark dalam kertas dapat diketahui adanya medallion bermahkota di tengah-tengah, singa berdiri menghadap ke samping, tengah melangkah, membawa pedang dan seberkas anak panah. Di sekeliling medallion terdapat tulisan: Een Dragt Maakt Magt. Kertas ini biasa dipakai pada abad ke 17 dan 18 M.
Naskah ini ditulis tangan dengan huruf Arab, dan tanpa keterangan nama penulisnya. Dalam tulisannya, menggunakan tinta Cina berwarna hitam dan merah. Paginasi tidak dicantumkan pada setiap halamannya. Setiap halaman rata-rata memuat 11 baris tulisan yang lengkap dengan tanda baca, kecuali keterangan bahwa kitab khotbah tersebut untuk Jumat tertentu pada setiap bulannya yang tidak menggunakan tanda baca.
Setiap kitab terdiri dari lima teks khotbah untuk setiap Jumat. Setiap teks khotbah diawali dengan tulisan “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh,” dilanjutkan dengan pembukaan, batang tubuh, doa penutup untuk khotbah pertama. Tidak satupun naskah khotbah itu terdapat teks untuk khotbah kedua dalam satu rangkaian khotbah Jumat.
Kitab ini memiliki ukuran panjang 20 cm, lebar 16,5 cm, dan tebal 0,5 cm serta disimpan dengan nomor inventaris 04.004.

Al Qur’an Tulisan Tangan
Al Qur’an tulisan tangan ini tertulis secara lengkap terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6666 ayat. Al Qur’an ini merupakan barang titipan dari Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri.
Al Qur’an ini berusia ratusan tahun. Kertas dan tinta yang dipakai biasa digunakan pada abad ke 17 hingga 19 M. Adanya Al Qur’an tulisan tangan ini, menandakan kesungguhan dakwah Islam oleh ulama tempo dulu.
Al Qur’an tulisan tangan ini memiliki ukuran panjang 33,5 cm, lebar 21 cm, dan tebal 6 cm. Disimpan di museum ini dengan nomor inventaris 04.013.

Lumpang Batu
Lumpang adalah perkakas dari batu yang berlekuk di bagian tengah. Benda ini dibuat dari batu monolit, kemungkinan berasal dari Giri Kedaton sekitar abad ke 15 M.
Lumpang selalu dilengkapi dengan alu yang digunakan untuk menumbuk padi atau biji-bijian. Lumpang ini disimpan dengan nomor inventaris 04.052.

Lampu Gantung
Lampu gantung biasa digunakan oleh masyarakat kelas atas atau bangsawan pada zaman kolonial Belanda. Lampu jenis ini menggunakan bahan bakar gas. Lampu gas ini tidak memiliki sumbu, karena gas mengalir melalui katub kecil kemudian terbakar setelah bercampur dengan udara.
Lampu ini juga bisa dinyalakan dengan menggunakan bahan bakar dari ampas kelapa. Sebagian masyarakat meyakini bahwa ampas kelapa bekas pembakaran pada lampu jenis ini bisa digunakan sebagai obat luka dan sakit kulit.
Lampu gantung ini berasal dari Kompleks Makam Sunan Giri. Lampu ini pada zaman dahulu biasa digunakan sebagai alat penerangan di Kompleks Sunan Giri, dan kini disimpan dengan nomor inventaris 04.019.
Selain itu, masih ada juga peninggalan bersejarah dengan aneka foto klasik Kota Gresik dan sekitarnya. *** [150613]

0 komentar:

Posting Komentar