Senin, 24 Juni 2013

Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri

Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri terletak di Jl. Sunan Giri XVIII No. 2 Kelurahan Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, atau ± 20 Km dari Kota Surabaya.
Pada awalnya, masjid ini berdiri dengan ukuran 150 m² namun kini  luas bangunannya 1.750 m² di atas lahas seluas 3.000 m². Di dalam kompleks ini terdapat dua buah pintu gerbang yang berbentuk paduraksa.
Kehadiran masjid ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran agama Islam di daerah Gresik, terutama yang dilakukan oleh Raden Ainul Yaqin alias Raden Paku, salah seorang dari Wali Songo yang bergelar Sunan Giri. Ia mendapat gelar Sunan Giri karena menempatkan lokasi masjid dan pesantrennya di sebuah daerah perbukitan yang cukup tinggi yang dalam bahasa Jawa disebut Giri yang berarti gunung.


Untuk mencapai lokasi masjid itu kita harus menapaki jalan mendaki sejauh kurang lebih satu kilo meter.  Cukup melelahkan.  Tetapi, bagi mereka yang tidak kuat jalan kaki, tersedia andong (delman) maupun ojek.
Memasuki lokasi masjid, kita dihadang oleh sekitar enam blok pemakaman yang terletak di kiri dan kanan pintu gerbang, juga di sisi tangga menuju masjid. Sedangkan, makam utama tempat Sunan Giri dimakamkan terletak di areal sebelah kiri masjid. Kalau mau dihitung barangkali ada sekitar 300 makam di sekitar kompleks Sunan Giri itu. Bentuk nisannya nyaris sama dan tanpa nama. Terbuat dari batu andesit, yang banyak digunakan pula untuk membuat candi atau arca di zaman kejayaan Hindu dan Budha.
Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri yang kita saksikan hari ini memang bukan masjid asli yang dibangun oleh Sunan Giri. Masjid yang dibangun aslinya terbuat dari kayu. Sedangkan, kita saksikan hari ini sudah terbuat dari tembok beton permanen. Tetapi, bentuk arsitekturnya mendekati bentuk masjid lama (aslinya) yang didirikan oleh Sunan Giri pada tahun 1544 Masehi. Karena perkembangan zaman dan kondisi masjid yang semakin lapuk maka pada tahun 1857, ketika masjid ini berusia sekitar 313 tahun, dilakukan renovasi atau perbaikan yang pertama. Untuk selanjutnya tidak tercatat sudah berapa kali dilakukan renovasi. Yang paling akhir adalah renovasi yang dilakukan pada tahun 1982. Peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH  Tingkat II Gresik pada tanggal 17 Desember 1982.

Monumen Sejarah
Seperti lazimnya masjid-masjid tua di seluruh Nusantara maka Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri ini pun memiliki bentuk kubah yang khas, yaitu kubah atap limas dengan tiga undakan. Bentuk kubah seperti ini mengingatkan kita pada kubah Masjid Demak sebagai masjid pertama yang dibangun oleh para wali di Tanah Jawa. Tidak heran, karena memang ada hubungan antara Demak dan Sunan Giri.
Sebagai peninggalan sejarah, masjid ini oleh pemerintah Hindia Belanda didaftar dalam “monumenten ordonantie” dengan nomor staat blaad 238 pada tahun 1931. Sekarang berada di bawah pengawasan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Meskipun peninggalan sejarah, tetapi sebagai rumah ibadah, masjid ini tetap ramai dikunjungi jamaah untuk shalat rawatib (shalat lima waktu) maupun shalat Jumat, bahkan pada bulan-bulan besar, seperti bulan Muharam, Dzulhijjah, dan Rabi’ul Awal (Maulid), masjid ini ramai dikunjungi peziarah dari luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.
Pada saat ini, pesantren yang pernah dibangun Sunan Giri memang sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya diselenggarakan kegiatan-kegiatan pengajian dalam wadah majelis taklim, seperti majelis taklim kaum ibu/bapak, termasuk pengajian untuk anak-anak dan remaja. *** [150613]

Referensi:
  • Abdul Baqir Zein, 1999, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press
  • _____________, 2008, Direktori Masjid Bersejarah, Jakarta: Departemen Agama RI

0 komentar:

Posting Komentar