Selasa, 25 Juni 2013

Sejarah Perkembangan Islam di Gresik

Gresik sudah dikenal sejak abad 11 M ketika tumbuh sebagai Bandar dagang internasional. Gresik dikunjungi para pedagang dari Cina, Arab, Gujarat, Siam, Campa, dan lain-lain.
Gresik berperan besar dalam panggung sejarah karena merupakan basis penyebaran Islam di tanah Jawa, bahkan jauh sampai ke Maluku dan sekitarnya. Peran besar itu terbukti dari banyaknya jejak sejarah yang ditemukan. Sumber tertulis yang tertua berupa batu nisan pada makam Siti Fatimah binti Maimun berangka tahun 1082 M sezaman dengan Kerajaan Kediri.
Pada zaman Majapahit, Gresik memiliki beberapa penguasa antara lain:

  • “Patih Tambak” berdasarkan prasasti Karang Bogem (1387 M), diangkat oleh raja Majapahit bertugas mengatur pertambakan. Karang Bogem masuk wilayah Bungah (sekarang).
  • Maulana Malik Ibrahim (1400 – 1419 M) diangkat oleh raja Majapahit sebagai syahbandar dan pemimpin masyarakat Islam di Gresik. Sebagai syahbandar, ia bertugas member petunjuk tentang cara berdagang, menaksir harga barang, dan menentukan bea cukai yang harus dipenuhi. Sebagai pemimpin masyarakat Islam, ia mengembangkan agama lewat pondok pesantren di kampong Gapuro.
  • Raden Ali Hutomo/Raden Santri (1419 – 1456 M), menggantikan peran Maulana Malik Ibrahim, bergelar Raja Pandita (anugerah istimewa dari raja Majapahit kepada pemimpin Islam). Beliau meninggal pada tahun 1456 M.
  • Nyai Ageng Pinatih (1458 – 1477 M), ia putri sulung Shih Jinqing (seorang pemimpin perantau Tionghoa di Palembang yang diangkat oleh raja Majapahit. Nyai Ageng Pinatih meninggalkan Palembang menuju Jawa, akibat tekanan dari saudara-saudaranya. Berkat simpati raja Majapahit, ia diangkat sebagai syahbandar di Gresik, sekaligus menyebarkan agama Islam.
Gresik mempersiapkan diri menjadi kekuatan Islam menyusul disintegrasi Majapahit (1478 M). Berdasarkan hasil rapat para Sunan, maka pada tahun 1487 M Joko Samudro atau Raden Paku  atau Sunan Giri dinobatkan menjadi Raja Giri Gresik yang pertama bergelar Prabu Satmata atau Sultan Ainul Yaqin, terlepas dari kekuasaan Majapahit sekaligus mengawali dinasti Giri.
Secara kronologis penguasa Giri Kedaton, sebagai berikut:

  • Sunan Giri/Prabu Satmata (1487 – 1506 M), putra angkat dari Nyai Ageng Pinatih, berpusat di bukit Giri. Kekuasaannya terus bergembang di bidang penyiaran Islam, ekonomi dan politik.
  • Sunan Dalem (1506 – 1545 M), menampilkan Gresik sebagai Bandar dagang terbesar di Jawa menyusul jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M, banyak kapal dimiliki di antaranya dengan hiasan naga untuk pesiar.
  • Sunan Sedamargi (1545 – 1548 M), ia hanya memerintah sekitar 3 tahun kemudian menyerahkan pada Sunan Prapen.
  • Sunan Prapen (1546 – 1605 M), membawa Gresik pada zaman keemasan. Ia memperkokoh ukhuwah Islamiyah dengan Maluku, membantu Maluku dalam menyerang Portugis tahun 1565 M. Peran politiknya, antara lain: menobatkan Hadiwijaya sebagai Sultan Pajang (1581 M), memberikan legitimasi atas tampilnya Mataram menyusul redupnya Pajang, berperan sebagai penengah (ummatan wasathan) dalam pertentangan antara Mataram dengan Surabaya. Namun pada akhir kekuasaannya, Gresik mengalami kemudnuran  akibat penetrasi VOC dengan monopoli perdagangannya dan menggeliatnya Mataram dengan politik ekspansinya.
  • Panembahan Kawisguwa (1606 – 1614 M), terjadi kemunduran politik yaitu perubahan gelar dari Sunan menjadi Panembahan, satu gelar yang lebih rendah. Juga masuknya pengaruh Surabaya atas Gresik.
  • Panembahan Agung (1614 – 1638 M), hubungan Gresik dengan Maluku masih terpelihara dengan baik, cengkeh dari Maluku masih dikirim ke Raja Giri. Banyak bangsawan  Maluku beserta orang-orang kaya lainnya berguru agama di Giri. Sebaliknya hubungan Giri dengan Mataram kurang baik. Sekitar tahun 1625 M, rakyat Gresik mengalami kelaparan karena kurangnya hasil pertanian akibat perang. Ribuan rakyat meninggalkan Giri – Gresik, sehingga raja berada tanpa rakyat.
  • Panembahan Mas Witono (1638 – 1660 M), ia penguasa terakhir yang bergelar Panembahan. Setelah ia meninggal, raja Mataram mengganti gelar dari Panembahan menjadi Pangeran yang hanya berkuasa di Giri sebagai penguasa spiritual. Sedangkan Gresik diperintah oleh Bupati. Secara kronologis Gresik diperintah oleh Pangeran Puspa Ita (1660 – 1680 M), Pangeran Wirayadi (1680 – 1703 M), Pangeran Singonegoro (1703 – 1725 M), dan dinasti Giri berakhir pada masa Pangeran Singosari (1725 – 1743 M).

Sumber: Museum Sunan Giri Kabupaten Gresik

0 komentar:

Posting Komentar