Minggu, 18 Agustus 2013

Kain Lurik: The Magic Stripes

Kain tenun bergaris banyak dipergunakan di berbagai daerah di Indonesia, hanya saja memiliki nama-nama sendiri disesuaikan oleh kondisi masyarakat setempat. Bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa, dikenal dengan kain lurik.
Dalam bahasa Jawa kuno lorek berarti lajur atau garis, belang dan dapat pula berarti corak. Maka dapat dipahami mengapa di Jawa Tengah dan Jawa Timur kain tenun bercorak lajur atau lajuran dan belang-belang, akhirnya dinamakan kain lurik, berasal dari kata lorek. Mungkin karena corak kotak-kotak terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak atau cacahan dinamakan pula lurik.
Walaupun corak lurik terdiri dari garis-garis dan kotak-kotak, namun sangat menarik untuk dikaji. Hal ini adalah dikarenakan lurik memiliki makna, tradisi, adat dan kepercayaan bagi orang Jawa, baik dari kalangan atas/ningrat maupun rakyat, terutama di daerah Solo-Yogya. Di samping itu masih ada kepercayaan lama yang menganggap kain tenun bercorak garis-garis mempunyai kekuatan magis yang melindungi. Ada yang dianggap sakral yang memberi tuah, ada pula yang mensiratkan nasehat, petunjuk, harapan dan sebagainya. Kesemuanya ini diungkapkan dengan berbagai nama corak atau ragam hias kain yang bersangkutan.
Temuan-temuan atau berbagai petunjuk perihal penggunaan kain lurik ini, ada yang berupa alat-alat untuk keperluan memintal, menenun dan sebagainya. Serta ada pula yang berupa prasasti, arca dan relief pada beberapa candi Hindu, dan ada pula yang berupa karya sastra. Antara lain terdapat prasasti yang menunjuk adanya kain lurik pakan malang, antara tahun 851-882 M, di zaman kerajaan Hindu Mataram. Prasasti Raja Airlangga dari Kerajaan Panjalu tahun 1033 M, menyebutkan kain tuluh watu, yang adalah nama salah satu kain lurik. Pada relief yang mencerminkan kehidupan masyarakat pada zamannya, dapat dilihat telah adanya pemakaian kain tenun.
Menurut beberapa ahli purbakala, hasil temuan situs prasejarah, antara lain situs Gilimanuk di Bali, Gunung Wingko di Yogyakarta, Melolo di Sumba Timur, membuktikan bahwa pertenunan sudah dikenal di Indonesia sejak zaman prasejarah. Demikian pula terlihat pemakaian selendang tenun pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur, yang diperkirakan berasal dari abad ke 15 M serta pemakaian kain tenun pada relief dan arca di berbagai candi.
Salah satu cerita rakyat yang terkenal dari suku Sunda di daerah Parahiyangan atau Bumi Para Dewa di Jawa Barat adalah kisah Nyi Pohaci Sang Hyiang Sri dari Kahyangan. Beliau ingin melihat manusia hidup penuh kesejahteraan, cukup sandang dan cukup pangan. Karena itu diutusnyalah seseorang untuk memetik buah bertuah yang tumbuh di Gunung Galuh. Setelah buah tadi didapat dan dipersembahkan pada Nyi Pohaci, dan setelah dibuka, maka bermunculan serat-serat putih berupa kapas.
Untuk dapat menenun agar mendapatkan sehelai kain, maka Nyi Pohaci menjadikan tubuhnya sebagai alat tenun. Menurut cerita, antara lain tulang rusuknya dijadikan sisir atau suri dan kedua pahanya jadi penyanggah penggulung benang lungsi yaitu apa yang dinamakan patek. Demikianlah menurut alkisah terjadinya alat tenun pertama.
Di daerah Batak Toba, terdapat cerita rakyat yang mengisahkan turunnya Dewi Si Boru Daek Parujar dari langit ke bumi. Menurut kepercayaan setempat beliau mengajarkan seni menenun kepada keturunannya, yang hingga kini masih mereka laksanakan. Kain tenun tersebut dinamakan kain ulos, dengan berbagai corak yang mengandung falsafah hidup suku Batak, yang mereka jadikan pedoman dan pegangan dalam daur kehidupan mereka. Hal ini tercermin dari aturan-aturan penggunaan kain ulos pada berbagai upacara adat dan sakral. ***

Kepustakaan:
  • Nian S. Djoemena, 2000, Lurik: Garis-garis Bertuah, Jakarta: Djambatan

0 komentar:

Posting Komentar