Jumat, 13 September 2013

Candi Kidal

Candi Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, atau sekitar 29 kilometer sebelah timur Kota Malang. Candi ini memiliki ukuran panjang 10,8 meter, lebar 8,36 meter, dan tinggi 12,26 meter (setelah dipugar dari tahun 1986 hingga 1990). Diperkirakan tinggi aslinya adalah 17 meter.
Secara vertikal, candi ini dapat dibagi menjadi kaki candi, tubuh candid an atap candi. Di bilik candi tidak ditemukan arca kecuali yoni, di tengah-tengah ruangan. Yoni ini pun ketika ditemukan sudah berada di luar ruangan, diduga berasal dari ruangan candi. Sebuah arca Siwa yang sekarang berada di Royal Tripical Institute, Amsterdam, diperkirakan berasal dari Candi Kidal. Arca tersebut tingginya 1,23 meter digambarkan dengan sikap berdiri, dan memiliki empat tangan. Tangan kanan bagian belakang memegang aksamala, tangan kiri belakang memegang cemara. Kedua tangan depan ditekuk di muka dada, telapak tangan kiri terbuka menghadap ke atas, sedangkan telapak tangan kana nada di atas telapak tangan kiri dalam sikap menggenggam dengan ibu jari mengarah ke atas. Di sampingnya terdapat bunga teratai yang keluar dari batang, menunjukkan personifikasi dinasti Singasari.
Di dalam relung-relungnya tidak ditemukan arca. Seandainya arca Siwa memang berasal dari ruangan candi, dapat diduga bahwa relung-relung tersebut disediakan untuk arca Durga, Ganesha, dan Agastya sebagai lazimnya candi bercorak Siwaistis. Arca yang ditemukan di candi tersebut adalah arca Nandiswara dan Mahakala. Arca-arca tersebut biasanya menempati relung-relung di kanan-kiri pintu masuk candi. Arca-arca lain yang pernah ditemukan adalah arca duduk yang diperkirakan dari pantheon agama Buddha, dan sebuah arca yang lain yang kemungkinan adalah arca Manjucri. Selain itu, masih ada temuan arca tanpa kepala dengan ciri-ciri cakra pada tangan belakang, dan sankha pada tangan kiri (mungkin sekali arca Wisnu).


Selain bangunan utama, bekas-bekas bangunan berdenah segi empat panjang dengan sisa-sisa dua buah tangga masuk pada sisi timur ujung utara dan selatan. Bahkan pada tahun 1901 masih terlihat sisa-sisa bangunan dari batu merah di halaman ini. Diduga Candi Kidal merupakan induk dari suatu kompleks percandian yang tak hanya terdiri dari satu halaman saja melainkan dua halaman.
Candi Kidal terbuat dari batu andesit dan memiliki satu candi induk. Kaki candi mempunyai tinggi 2 meter, dan terdapat selasar. Untuk menuju selasar serta bilik tubuh candi, terdapat tangga. Anak tangga dibuat tipis-tipis, sehingga dari kejauhan tampak seperti bukan tangga masuk yang sesungguhnya. Tangga batu ini tidak dilengkapi pipi tanggal. Selain itu, pada kaki candi, terdapat relief garudadheya, yakni seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan Sang Kadru dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon, relief mitos garudadheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin merawat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya. Untuk membaca relief harus menggunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), yang dimulai dari sisi selatan. Nama “kidal” adalah kiri, sesuai dengan cara membaca reliefnya yang tidak searah jarum jam.

Pembangunan Candi Kidal
Masa pendirian Candi Kidal tidak dapat diketahui dengan pasti, hal ini lantaran tidak adanya prasasti atau data penanggalan yang dapat dihubungkan dengan candi itu. Namun, dalam kitab Nagarakertagama disebutkan, bahwa pada tahun 1170 Ç Raja Anusapati wafat dan didharmakan sebagai Siwa di Kidal. Sedangkan di dalam kitab Pararaton dijelaskan, Lina Sang Anusapati I Ç 1171 Dhirnama Sira Ring Kidal.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa Candi Kidal adalah tempat pendharmaan Raja Anusapati yang wafat tahun 1248 Masehi. Dengan demikian, pendirian candi ini diperkirakan selesai pada saat diadakan upacara sradha yang dilakukan 12 tahun setelah raja wafat, yaitu sekitar tahun 1260 Masehi.
Latar belakang keagamaan Candi Kidal ini adalah Hindu, seperti yang dijelaskan dalam kitab Nagarakertagama bahwa Raja Anusapati wafat dan didharmakan di Kidal sebagai Siwa. *** [310813]

1 komentar: