Sunday, September 15, 2013

Klenteng Eng An Kiong

Klenteng Eng An Kiong merupakan salah satu lokasi wisata religius yang menarik untuk dikunjungi di Malang. Selain memiliki arsitektur bangunan yang berunsur seni tinggi dengan makna yang mendalam, juga kisah kekunaan dalam pendirian bangunan klenteng ini.
Klenteng Eng An Kiong terletak di Jalan R.E. Martadinata 1 Malang, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berdampingan dengan Pasar Besar Malang, di kawasan Kota Lama Malang.
Konon, klenteng ini dibangun pada tahun 1825 atas prakarsa dari Liutenant Kwee Sam Hway. Ia adalah keturunan ketujuh dari seorang Jenderal di masa Dinasti Ming berkuasa di Tiongkok. Ketika itu, keturunan sang Jenderal ditekan oleh Dinasti Jing sehingga terpaksa melarikan diri ke Nusantara.


Pelarian ini tidak terlepas dari perjalanan armada besar-besaran Laksamana Cheng Ho mengarungi samudera hingga India. Dalam persinggahannya di Nusantara, biasanya ada pengikutnya yang diturunkan di berbagai wilayah yang disinggahi sekitar 30 orang, yang kelak akan dijemput kembali ketika armada hendak kembali ke Tiongkok. Namun, setelah dijemput pada kenyataannya ada yang ingin kembali ke Tiongkok, akan tetapi juga ada sebagian yag tidak mau kembali ke sana. Yang tidak kembali, biasanya menikah dengan wanita setempat dan beranak pinak. Tak tekecuali keturunan dari seorang Jenderal tersebut.
Sang Kapiten (keturunan kelima Jenderal masa Dinasti Ming) mendarat di Jepara kemudian menikah dengan putri yang leluhurnya mendarat di Sumenep, Madura. Liutenant Kwee Sam Hway adalah cucu dari sang Kapiten yang kemudian membangun Klenteng Eng An Kiong. Dia berangkat dari Sumenep, dan akhirnya menemukan sebuah daerah di Kota Malang.
Menurut salah seorang yang bekerja di lingkungan klenteng ini, En An Kiong mempunyai makna “istana keselamatan dalam keabadian Tuhan.” Klenteng ini merupakan klenteng Tri Dharma, yaitu diperuntukkan bagi penganut agama Buddha, Tao dan Khonghucu.
Klenteng ini masih beruntung karena memiliki bangunan yang luas dengan didukung halaman yang cukup luas, bila dibandingkan dengan keberadaan sejumlah klenteng lain di sejumlah kota di Indonesia. Sebut saja, klenteng Boen San Bio di Tangerang dan klenteng Po An Kiong di Solo. Kedua klenteng tersebut terhimpit bangunan komersial di tengah-tengah lingkungan yang padat dan tidak memiliki halaman sama sekali. *** [310813]

0 comments:

Post a Comment