Minggu, 15 September 2013

Masjid Al-Mubarok Berbek

Masjid Al-Mubarok terletak di Jalan Masjid Al-Mubarok No.3 Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur atau tepatnya berada di samping Kantor Urusan Agama Berbek atau depan Kantor Pegadaian Berbek. Lokasi masjid ini kurang lebih 9 kilometer dari Kota Ngajuk ke arah selatan.
Konon, masjid ini merupakan masjid tertua yang berada di wilayah Kabupaten Nganjuk, didirikan pada tahun 1745 M semasa pemerintahan Raden Tumenggung Sosro Kusumo atau yang lebih dikenal dengan Kanjeng Jimat. Raden Sosro Kusumo adalah bupati pertama di Kabupaten Ngajuk, yang makamnya berada di lingkungan masjid tersebut.


Tahun pendirian masjid tersebut dirunut dari condro sengkolo yang tertulis pada kiri dan kanan mihrab masjid yang berbunyi “Adege Mesjid ing Toya Mirah” dengan sinengkalan Toto Caturing Pandito Hamadangi (1745 H). Pada saat didirikan pertama kali, atap masjid masih menggunakan ijuk dan lantainya berupa katel (dibuat dari campuran tanah liat dan kapur) serta konstruksi bangunannya memakai kayu jati tanpa menggunakan paku.
Pada tahun 1950 oleh K.H. Dahlan, Penghulu Kabupaten Nganjuk,  tembok yang dulunya belum diplester, mulai diperbaik dan diplester. Lantainya pun juga ditegel, dan atapnya diganti dengan genteng.
Di dalan buku Nganjuk dan Sejarahnya (1994) disebutkan bahwa pada tahun 1985, oleh LB Moerdani ini dipugar dan dilakukan penambahan bangunan. Pemugaran meliputi ruang induk, dan kedua serambi. Sedangkan, di depan masjid dibangun menara untuk adzan setinggi 10 m, tempat wudhu, dan pagar depan sepanjang 35 m. Pemugaran dan penambahan bangunan ini selesai pada tanggal 5 Februari 1986, dan pada tanggal 7 Februari 986 diresmikan penggunaannya oleh LB Moerdani didampingi Menteri Agama H. Munawir Saazdjali dan Menteri Penerangan  H. Harmoko.
Dan sekarang, pada saat saya mengunjungi masjid ini sedang dilakukan pemugaran juga. Serambi masjid di bagian depan dijadikan bangunan dua lantai.
Meskipun Masjid Al-Mubarok dilakukan pemugaran akan tetapi tidak untuk mengganti bagian-bagian yang penting (bagian interior masjid masih asli). Pemugaran itu hanya terjadi pada eksterior masjid, seperti serambi, gapura, dan tempat wudhu.
Selain kekunaan usia, masjid ini masih memiliki sejumlah daya tarik dalam mengagumi keberadaan masjid ini. Di antaranya arsitektur bangunan menyerupai pura, ornamen ukiran yang tidak didominasi oleh kaligrafi tulisan Arab, melainkan gambar naga dan ciri khas ukiran pura lainnya. Pengunjung juga bisa menyaksikan penopang kayu usuk (reng) empat persegi panjang, yang merupakan ukiran tembok khas bangunan Hindu.
Dilihat dari bentuk bangunan tersebut, terlihat bahwa bangunan masjid tersebut menggunakan model Tajug Lawakan Lambang Teplok di mana tiang utamanya menopang langsung atap (brunjungan). Sedangkan, bangunan serambi menggunakan atap limasan yang disebut Limasan Trajumas.
Masjid ini memiliki luas tanah sebesar 2.835 m², dan merupakan tanah wakaf dari Raden Tumenggung Sosro Kusumo. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, dulu di tanah masih ini terdapat yoni dengan patung wanita, yang diperkirakan adalah Dewi Durga. Namun, patung itu kini sudah tak ada lagi. Hanya tinggal yoninya yang masih berada di halaman masjid ini.
Keberadaan yoni dan patung tersebut, mengindikasikan bahwa dulunya di lokasi ini merupakan bangunan peribadatan penganut Hindu. Namun, dengan masuknya Islam di Nganjuk, lambat laun tempat peribadatan tersebut dirubah menjadi bangunan masjid, *** [150913]

0 komentar:

Posting Komentar