Jumat, 13 September 2013

Candi Jago

Candi Jago terletak di Jalan Wisnuwardhana No. 51, Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di depan SDN Tumpang 02. Dari pusat Kota Malang sekitar 22 kilometer ke arah timur. Secara topografis, candi ini berada di ketinggian 597 meter dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 20-29° C.
Sebagian masyarakat ada yang menyebut candi ini dengan nama Candi Tumpang, karena terletak di Desa dan Kecamatan Tumpang, atau Candi Cungkup, karena bentuk bangunan candi ini dikeramatkan. Candi ini diperkirakan sama dengan jajaghu di dalam Kitab Nagarakertagama yang tercantum di dalam salah satu teksnya yang tertera pada pupuh 41 bait 4 baris ke 2, sebagai tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singasari yang wafat pada 1.268 Masehi. Dan, diperkirakan peresmian Candi Jago ini pada tahu 1280 Masehi, bersamaan dengan diadakannya upacara sradha (pelepasan roh dari dunia berselang 12 tahun setelah meninggalnya).
Candi ini berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 24 meter x 14 meter yang berketinggian 10,5 meter. Candi ini terbuat dari batu andesit, dan menghadap ke barat.
Candi Jago mempunyai bentuk yang unik bila dibandingkan dengan bentuk bangunan candi lainnya. Kaki candi terdiri dari tiga tingkat, tingkat pertama terdapat delapan anak tangga, tingkat kedua terdapat empat belas anak tangga, dan tingkat ketiga terdapat tujuh anak tangga. Kemungkinan candi ini dahulunya memakai atap yang terbuat dari kayu dan ijuk yang berbentuk meru, seperti atap pura-pura yang ada di Bali. Hal ini diperlihatkan pada salah satu pahatan relief yang menceritakan Parthayadnya (Mahabarata) pada teras kedua sebelah timur pada bagian sisi tengah.
Bangunan candi ini didirikan di atas kaki candi yang terdiri atas tiga tingkat yang masing-masing tingkatannya memiliki teras. Teras tersebut makin ke atas makin mengecil serta bergeser ke belakang. Bangunan candi dengan pola semacam ini, mengingatkan kita pada bentuk serta susunan bangunan pada masa Megalithikum, yaitu salah satu bangunan pada masa itu yang disebut punden berundak. Bangunan semacam ini berfungsi sebagai tempat pemujaan arwah atau roh para leluhur.
Sesuai dengan agama Wisnuwardhana yaitu Siwa Buddha, di Candi Jago dipahatkan relief cerita Siwaistis dan Buddhistis. Relief Buddhistis yang dipahatkan adalah relief cerita tantri/Pancatantra dan Kunjarakarna. Sedangkan relief Hinduistis yaitu relief cerita Parthayadnya dan Arjuna Wiwaha serta relief tentang Khrisna.
Relief cerita tantri dipahatkan pada bingkai atas teras pertama berisi cerita-cerita binatang, dilanjutkan relief Kunjarakarna bersambung ke bingkai bawah teras kedua, menceritakan perjalanan Kunjarakarna murid Buddha Wairocana ke neraka, tempat penyiksaan sahabatnya Purnawijaya. Setelah kembali ke dunia mengajak Purnawijaya belajar agama Buddha sehingga dosa-dosanya diampuni. Mulai sudut tenggara sampai utara terdapat relief yang belum diketahui jalan ceritanya.


Sedangkan relief Parthayadnya dipahatkan pada tubuh teras II berisi adegan Pandawa kalah bermain dadu dan diusir ke hutan selama 15 tahun. Lalu, Arjuna memisahkan diri sampai Gunung Indrakila. Arjuna Wiwaha dipahatkan pada bingkai bawah teras III, merupakan kelanjutan cerita Parthayadnya mulai dari adegan Arjuna bertapa digoda bidadari sampai Arjuna memanah babi hutan bersama-sama Dewa Siwa yang menyamar sebagai pemburu. Akhirnya Arjuna diminta untuk membunuh Niwatakawaca yang mengganggu kahyangan sampai Arjuna kawin dengan Batari Supraba.
Di bilik candi tampaknya dulu pernah ada arca Buddha Amoghapasa dan empat pengawalnya, yaitu Sudhanakuma, Cyamatara, Hayagriwa, dan Bhrekuti. Nama-nama itu dipahatkan dalam huruf Nagari pada masing-masing stellannya. Arca lain yang ditemukan di relung dan atap candi yaitu arca Dyani Buddha Aksobya dan Ratna Sambhawa, serta arca ├žakti/istri Dyani Buddha, yaitu Locana dan Pandurawasini.
Berdasarkan prasasti Majuri (1343 Masehi), disebutkan bahwa Candi Jago pernah mengalami pemugaran dengan diperlebar dan diperindah pada masa kejayaan Majapahit sekitar tahun 1343 Masehi, dan sebagai arsitekturnya kala itu adalah Arya Dewaraja Mpu Aditya atau yang lebih dikenal dengan nama Adityawarwan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan arca Bhairawa di Candi Jago ini, namun arca itu sekarang sudah tidak ada lagi karena hilang dicuri orang pada tahun 2001. Arca Bhairawa diyakini sebagai arca perwujudan Adityawarman sebagai pelindung dan arsitektur Candi Jago ketika masih tinggal di Kerajaan Majapahit. Setelah kembali ke tanah kelahirannya dan berstatus sebagai raja di Swarnadwipa, kemudian Raja Adityawarman membuat sebuah arca Bhairawa yang mirip seperti di Candi Jago namun ukurannya lebih besar. Arca ini sekarang berada di Sumatera Barat.
Keberadaan arca Bhairawa di Candi Jago merupakan salah satu aspek Dewa Siwa. Maka berdasarkan relief cerita dan arca yang ditemukan, candi ini berlatarbelakang agama Hindu-Buddha. *** [310813]

Kepustakaan:
Suryadi, ____, Kupasan Sejarah Candi Jago (Jajaghu), Cetakan sendiri diperuntukkan pengunjung Candi Jago.
Wiratna Sujarweni, 2012, Jelajah Candi Kuno Nusantara, Jogjakarta: DIVA Press

1 komentar: