Jumat, 13 September 2013

Candi Jago, Dongeng Tantri dan Perdamaian

CandiJago merupakan monumen penting masa kerajaan di Jawa Timur. Candi peninggalan Kerajaan Singasari yang diresmikan tahun 1280 Masehi ini menyimpan pahatan cerita tantri, sebuah dongeng binatang. Ia juga menjadi simbol perdamaian dan sinkretisme dua agama yang berbeda.
Seekor burung bangau terbang membawa tongkat kayu dengan dua kura-kura menggigit masing-masing ujungnya.
Dari kejauhan dua serigala beristirahat di bawah pohon. Melihat kura-kura terbang, serigala ingin memangsanya. Lalu serigala mengolok-olok kura-kura. Kura-kura membuka mulut untuk membalas. Alhasil, mereka jatuh dan dimangsa serigala. Kura-kura lupa pesan sang bangau bahwa mereka tidak boleh mengucap sepatah kata pun sebelum sampai tujuan.
Dongeng burung bangau dan kura-kura ini tidak asing karena banyak ditemukan dalam buku cerita anak sekarang. Namun, lebih dari 700 tahun lalu, dongeng itu sudah terpahat di dinding Candi Jago yang berlokasi di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Candi tempat pendarmaan (pemuliaan) raja keempat Singasari, Wisnu Wardhana, ini merupakan salah satu candi terlengkap di Jawa Timur yang mengukir dongeng binatang.
Pada masa klasik Hindu-Buddha, dongeng binatang dikenal dengan nama cerita tantri. “Ada delapan judul cerita tantri yang berbeda di Candi Jago. Setiap cerita utuh dipahat dalam tiga panel (adegan). Jadi, total ada 24 panel cerita binatang,” kata Surjadi, juru pelihara Candi Jago, akhir Agustus lalu.
Selain kisah bangau dan kura-kura, cerita lain adalah katak dan ular, kerbau dan buaya, singa dan buaya, kisah burung heron, ikan dan kepiting, serta cerita lainnya. Cerita tantri yang terpahat di Candi Jago ini bersumber dari Tantri Kamandaka, kitab Jawa kuno dari abad ke-4.
Kisah biantang di panel candi, kata ikonograf Hariani Santiko, merupakan bagian dari ajaran moral dalam kebudayaan Hindu-Buddha. Perumpamaan dengan cerita binatang dilakukan agar tidak terlalu keras menyinggung orang yang membaca relief. Kisah dalam burung dan kura-kura, misalnya, menggambarkan bahwa mereka yang tidak bisa menahan emosi akhirnya akan celaka.
Cerita tantri di Candi Jago menarik para peneliti asing untuk membaca lalu mendokumentasikan relief Candi Jago. Salah satunya, Ann R Kinney, arkeolog Belanda yang meneliti Candi Jago dan menulis buku Worshiping Siva and Buddha; The Temple Art of East Java.
Dalam bukunya, Kinney menuturkan, relief cerita tantri juga ditemukan di candi-candi lain, seperti Candi Sojiwan dan Mendut dari abad ke-9 di Jawa Tengah. Ada kekosongan sekitar tiga abad sebelum cerita tantri dalam kebudayaan Islam bisa disejajarkan dengan kisah 1.001 malam yang penuh pesan moral.

Bukti Sinkretisme
Dalam kitab sastra kuno Nagarakertagama dan Pararaton, nama Candi Jago disebut sebagai Candi Jajaghu yang dalam bahasa Sanskerta artinya diagungkan. Dalam pupuh 41 bait 4, Empu Prapanca, penulis Nagarakertagama, menuliskan, raja Wisnu Wardhana meninggal lalu dimuliakan di dua tempat, yakni di Candi Waleri (Blitar) sebagai Siwa (Hindu) dan di Candi Jajaghu sebagai Buddha.
“Artinya raja itu menganut agama Siwa Buddha atau Hindu Buddha, “ kata Surjadi. Dalam buku Kupasan Sejarah Candi Jago yang ditulis Surjadi, sinkretisme agama Buddha dengan keyakinan Hindu Siwa ini dilakukan Wisnu Wardhana untuk meredam konflik akibat benturan dua agama berbeda.
Agama Hindu Siwa yang masih percaya leluhur dan Buddha sama-sama berkembang pesat di masa Singasari akhir. Peleburan kedua agama ditampilkan dalam rancang bangun Candi Jago.
Candi Jago kini berada di tengah permukiman warga yang semakin padat. Jarak halaman candi dengan permukiman warga hanya 2-3 meter dibatasi kawat berduri.
Bagian candi dari batu andesit (batu gunung) yang terlihat saat ini ketinggiannya 10,5 meter dengan panjang 24 meter dan lebar 14 meter. Menurut Surjadi, sisa bangunan yang ada saat ini sebenarnya kaki candi yang terdiri atas tiga tingkat.
Uniknya, konstruksi Candi Jago makin ke atas makin bergeser ke belakang. Setiap tingkat memiliki teras lebar di bagian belakang. Konstruksi semacam ini, kata arkeolog Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, mengingatkan pada konstruksi punden berundak masa megalitik dari situs Gunung Padang.
Di tingkat ketiga tampak satu pintu besar dengan sebagian tembok batu mengelilingi sebuah ruangan. Tembok itu tidak lagi utuh. Bagian atas sebagian sudah hilang. Pintu dengan tembok batu itu merupakan tubuh candi, bagian atap sudah hilang.
Salah satu pahatan relief menggambarkan bentuk bangunan candi dengan atap terbuat dari kayu dan ijuk (meru) seperti atap pura di Bali. Dari pahatan itu para arkeolog menyimpulkan, bagian atas Candi Jago berbentuk meru. Jika dihitung secara keseluruhan dengan atap meru, ketinggian Candi Jago sekitar 17,5 meter.
Di sekitar candi tergeltak tiga arca wajah raksasa dan arca Amogapasha, manusia bertangan enam perwujudan Wisnu Wardhana. Dalam kosmologi Hindu Buddha, arca wajah raksasa diletakkan di bagian depan dan posisinya di atas candi.
Relief yang terpahat di Candi Jago memiliki keunikan dibandingkan dengan candi masa Hindu-Buddha di Jawa Tengah. Di Candi Jago, bentuk manusia dalam relief tidak mirip bentuk manusia pada umumnya. Bentuk reliefnya seperti wayang di Bali.
Selain sebagai tempat pemuliaan raja, Candi Jago juga berfungsi sebagai tempat pendidikan para pangeran Kerajaan Singasari. Relief candi harus dibaca dengan cara mengelilingi selasar candi. Berbeda dengan Candi Borobudur yang reliefnya dibaca searah jarum jam (pradaksina), pembacaan relief di Candi Jago dilakukan berlawanan dengan arah jarum jam yang disebut prasawya. [LUSIANA INDRIASARI]

Sumber:
KOMPAS Edisi Sabtu, 7 September 2013

0 komentar:

Posting Komentar