Jumat, 13 September 2013

Pantai Ngrenehan Gunung Kidul

Pantai Ngrenehan terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau sekitar 30 kilometer sebelah selatan Kota Wonosari. Di pantai ini, pengunjung akan menemukan sebuah pantai kecil dengan ombak yang tenang. Dua tebing karst menjulang mengapit pesona pantai. Perahu-perahu nelayan tampak berderet ditemani aroma asin dan amis yang menyeruak.
Selain eksotisme pantai dengan latar belakang Samudera Indonesia, di kawasan pantai ini terdapat lokasi yang disinyalir menjadi salah satu saksi bisu Kerajaan Demak dan Majapahit.
Nama Ngrenehan berasal dari kata “pangrena” yang berarti ajakan. Kala itu, Raden Patah sebagai Raja Demak bersama para petinggi-petinggi Demak sedang mencari ayahnya, Brawijaya V, Raja Majapahit yang memerintah pada 1468-1478 Masehi. Sesampainya di tempat ini, ia tidak menemukan sang ayah yang melarikan diri dengan kedua isterinya, Dewi Lowati dan Bondang Surati, karena enggan memeluk agama Islam. Akhirnya, Sultan Demak tersebut mengajak petinggi-petinggi Kesultanan Demak untuk bermusyawarah tentang bagaimana cara menemukan orang tuanya. Peristiwa inilaha yang diistilahkan pangrena (ajakan). Kata pangrena berasal dari kata reneh yang berarti sini. Lama kelamaan, kata pangrena berubah menjadi ngrenehan (kemarilah ke sini).
Pantai Ngrenehan tidak terlalu luas. Ombaknya yang tenang dan pasir putihnya menjadi daya tarik tersendiri. Dari atas tebing, pengunjung bisa menikmati keindahan pantai dan terbebas dari bau amis pantai.
Dari Pantai Ngrenehan, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan ke Pantai Ngobaran yang terletak di sisi baratnya. Nama Ngobaran berasal dari sebuah mitos yang berkembang di masyarakat, artinya api yang berkobar.
Prabu Brawijaya V diyakini masyarakat telah mengalami moksa di tempat ini. Dia (berpura-pura) membakar diri karena tidak mau berperang dengan anaknya sendiri.
Berdasarkan cerita yang berkembang di sana, keberadaan ajaran kejawen bermula ketika Prabu Brawijaya V bersama salah seorang putranya yang bernama Bondan Kejawan meninggalkan Kerajaan Majapahit, berjalan ke arah barat dan singgah di Pantai Ngobaran. Semasa singgah di sini, terjadi interaksi antara masyarakat dengan Pangeran Bondan Kejawan. Kemudian, tutur kata dan perbuatan sang pangeran, Bondan Kejawan dikenang oleh masyarakat setempat, dan sampai sekarang dikenal sebagai aliran kepercayaan “kejawen”. ***

0 komentar:

Posting Komentar