Jumat, 13 September 2013

Masjid Teungku Di Anjong

Masjid Teungku Di Anjong terletak di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sekilas masjid ini tampak sederhana bila dibandingkan dengan masjid lainnya yang ada di Bumi Serambi Mekkah, bahkan nuansa arsitektur tradisionalnya masih kental. Namun, dibalik kesederhanaan bangunannya, masjid ini menyimpan sejarah yang cukup panjang dan heroik.
Di halaman masjid ini terdapat sebuah tugu kecil yang memuat prasasti yang menerangkan ihwal keberadaan masjid. Prasasti yang terbuat dari lempengan tembaga ini sesungguhnya adalah penanda bahwa masjid ini merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Banda Aceh mengingat ketuaan umur masjid ini. Prasasti tersebut menerangkan bahwa “meuseujid nyoë geupeudong bak abad XVIII lé Sayyid Abubakar bin Husen Bafaqih, sidroë ulama dari nanggroë Arab nyang jak ba dakwah Islam rata teumpat. Teungku Di Anjong geukira sibagoë ureueng keuramat, lom ngon geubôh lakab Teungku Di Anjong” (Masjid ini didirikan oleh Sayyid Abubakar bin Husen Bafaqih pada abad ke-18. Ulama dari negeri Arab ini mengembara untuk mendakwahkan Islam. Oleh sebab itulah beliau dianggap sebagai orang keramat dan mendapatkan gelar Teungku Di Anjong).


Konon, Sayyid Abubakar berasal dari Hadramaut, Yaman, hijrah ke Aceh sekitar tahun 1742 karena memang diutus untuk menyebarkan agama Islam ke Nusantara.
Sayyid Abubakar menjalankan misinya di Aceh, dan bermukim di Peulanggahan. Peulanggahan yang berarti persinggahan, terletak di lembah Krueng Aceh, tempat yang sering disinggahi para penggembara yang melintasi Selat Malaka dulu.
Semasa Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1760-1781) memimpin Kerajaan Aceh Darussalam, beliau dijuluki oleh masyarakat Aceh sebagai Teungko Di Anjong, dan namanya diabadikan dalam masjid tersebut.
Ihwal nama Anjong berasal dari kata sanjungan yang di Aceh-kan. Beliau disanjung dan sangat dimuliakan oleh umat, sebab memiliki akhlak yang baik dan ilmu agama yang luas.


Di zaman Kolonial Belanda, Masjid Teungku Di Anjong pernah digunakan Belanda sebagai tempat “bersumpah” Teuku Umar. Teuku Umar bersumpah untuk menjadi “pejuang” Belanda, dan mengkhianati masyarakat Aceh. Teuku Umar pun bertempur atas nama Belanda. Namun, pada akhirnya Teuku Umar kembali membela Negara dan melawan Belanda.
Masjid Teungku Di Anjong berarsitektur tradisional beratap tumpang tiga, di mana atap yang teratas mengerucut semakin mengecil ke atas. Hal ini melambangkan hakikat, tarikat, dan marifat. Awalnya, masjid ini dibangun dengan konstruksi kayu. Namun, ketika tsunami meluluhlantakkan Bumi Rencong di penghujung 2004, masjid ini ikut tersapu oleh gelombang setinggi 4,5 meter.
Usai musibah tersebut, masjid ini kembali dibangun dengan bantuan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias. Arsitekturnya tetap mempertahankan gaya lama, hanya saja dindingnya sudah berplester semen semua dan ditambahi teras. ***

0 komentar:

Posting Komentar