Jumat, 13 September 2013

Terhanyut oleh Diorama Perjuangan RI di Museum Peta

Sekitar 700 meter dari Istana Bogor terdapat sebuah bangunan yang menyimpan kisah heroik dan memberikan sumbangsih besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
Bangunan yang didirikan pada 1745 tentara het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) Belanda ini mulanya digunakan sebagai salah satu markas tentara KNIL. Setelah Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, bangunan ini berubah fungsi menjadi tempat pelatihan pasukan Pembela Tanah Air (Peta). Ketika dijadikan tempat pelatihan, bangunan tersebut dinamakan Jawa Bo-ei Giyugun Kanbu Resentai.
Karena sepak terjangnya yang signifikan dan menentukan pada periode proklamasi kemerdekaan 1945, Peta menjadi salah satu unsure penting sampai akhirnya terbentuk Tentara Nasional Indonesia. Oleh karena itu, bangunan tempat dulu tentara-tentara Peta ini latihan akhirnya diresmikan menjadi Museum Peta pada 18 Desember 1995 oleh presiden RI kala itu, Soeharto.
Seperti umumnya museum sejarah, penyajian kisah-kisah perjuangan RI diperlihatkan dalam bentuk diorama. Museum Peta memiliki 14 diorama yang menceritakan tentang peristiwa pembentukan tentara Peta dan beberapa kontribusinya dalam proses pergerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan.
Semua diorama yang ditampilkan menarik. Beberapa di antaranya adalah kisah yang kita kenal akrab sejak kecil dan sangat mengena. Misalnya, diorama keenam yang mengisahkan peristiwa legendaries menjelang proklamasi yakni dibawanya Soekarno-Hatta ke Rengkasdengklok oleh pasukan Peta dan sejumlah pemuda. Pada waktu itu, para pemuda mendesak Soekarno-Hatta agar mau secepatnya memproklamasikan kemerdekaan RI mengingat Jepang sudah dikalahkan oleh tentara sekutu. Dilanjutkan dengan diorama ketujuh mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Akhir cerita diorama ditutup oleh diorama keempatbelas tentang pemilihan Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (12 November 1945) yang akhirnya dipimpin Jenderal Soediman.
Menyimak berbagai kisah perjuangan meraih kemerdekaan yang dirangkai dalam diorama-diorama di Museum Peta menumbuhkan perasaan bangga dalam dada setiap anak bangsa. Kebanggaan terhadap para leluhur bangsa ini walau mengalami kegagalan yang luar biasa sehingga dapat dijajah hingga ratusan tahun. Akan tetapi, nyatanya masih banyak juga di antara para leluhur tersebut yang mempunyai harga diri dan cinta Tanah Air sehingga berupaya dengan keras melawan penjajahan. Selain itu, hal yang membuat terhormat adalah bangsa ini meraih kemerdekaannya sendiri bukan pemberian dari pihak penjajah. [ACH]

Sumber:
KOMPAS Edisi Jumat, 30 Agustus 2013 

0 komentar:

Posting Komentar