Rabu, 11 September 2013

Menjejak Simpul Kuno di Padangroco

Situs Candi Padangroco di Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, merupakan persinggungan peradaban Minangkabau dan kerajaan dari Tanah Jawa. Kisah dialektika rumpun Melayu di Nusantara berlanjut dengan pergulatan imperium kebudayaan masing-masing.
Terletak sekitar 180 kilometer dari Kota Padang, Sumatera Barat, di daerah hulu aliran Sungai Batanghari, situs itu terdiri atas empat candi dengan satu di antaranya tinggal reruntuhan. Candi Padangroco I dengan ukuran 21 meter x 21 meter adalah induk yang mengarah ke barat daya dan timur laut. Data ini tercantum dalam buku Menguak Tabir Dharmasraya oleh Budi Istiawan dan Bambang Budi Utomo (2011).
Tak jauh dari situs Candi Padangroco terdapat situs Candi Pulau Sawah. Dari sekurangnya 11 gundukan yang diduga candi, baru dua yang diekskavasi dengan fungsi sebagai tempat pemujaan dan pendukungnya.
Posisinya berdekatan dengan pinggir aliran hulu Sungai Batanghari. Situs ini diduga sebagai pusat Kerajaan Melayu (Malayupura) di Dharmasraya, terutama saat Adityawarman berkuasa pada abad XIV.
Agak terpisah dari kedua situs itu, terdapat pula situs Candi Awang Maombiak. Situs ini berada di dataran tinggi dengan kawasan rawa di bawahnya.
Pohon karet yang tengah disadap getahnya mengelilingi situs itu. Letaknya dekat kawasan permukiman, berbeda dengan situs Padangroco dan Pulau Sawah yang cenderung jauh dari akses jalan.
Juru pelihara situs Awang Maombiak, Abdul Wahab Datuk Rajo Malano, mengatakan, seusai diekskavasi, situs itu kerap didatangi peneliti asing. “Mereka, antara lain, dari Jepang, Singapura, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat,” katanya.
Selain itu, imbuh Wahab, situs itu kerap didatangi pencari harta karun. “Mereka mencari guci yang terbenam dalam rawa, tetapi belum ada yang mendapatkannya. Ada juga yang datang diam-diam dengan maksud tertentu,” sebutnya.
Ketertarikan pengunjung dan terutama peneliti itu tentu tidak sekadar pada Awang Maombiak. Menurut Budi Istiawan, arkeolog yang fokus pada peninggalan di kawasan aliran Sungai Batanghari, semua situs itu saling berkait. Kompleks Candi Pulau Sawah diduga sebagai tempat menggelar upacara keagamaan. Adapun Awang Maombiak sebagai tempat peristirahatan dan Padangroco sebagai pusat kerajaan.
Selain itu terdapat pula situs Bukik Braholo, Rambahan, di wilayah Nagari IV Koto Pulau Punjung, Dharmasraya. “Di Rambahan ini ditemukan Arca Amoghapasa dengan tulisan oleh Adityawarman di punggung Amoghapasa. Adapun alas Amoghapasa berada di Padangroco dan Arca Bhairawa juga berada di Padangroco,” kata Budi, yang pernah menjabat Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar.

Ekspedisi Pamalayu
Amoghapasa adalah arca yang dikirimkan Kertanegara kepada Raja Melayu pada 1286. Adapun Bhairawa merupakan arca perwujudan Adityawarman.
Adityawarman, Padangroco, dan Amoghapasa tak bisa dilepaskan dari Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan Kertanegara dari Kerajaan Singosari tahun 1275. Ekspedisi dilakukan sebagai bagian perluasan kekuasaan untuk menahan ekspansi dari Kubilai Khan.
Kitab Pararaton menuliskan, ekspedisi itu mengirimkan arca Amoghapasa ke Kerajaan Melayu pada 1286. Ini seperti tercantum dalam buku Replika Arca Adityawarman Koleksi Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat yang ditulis Syafril Mulyadi dan kawan-kawan pada 1993/1994.
Pengiriman arca Amoghapasa dilakukan sesudah dua putrid Melayu dari kerajaan yang saat itu dipimpin Tribhuwanarajamauliwarmadewa, yakni Dara Petak dan Dara Jingga, diperistri penguasa di Jawa. Dara Petak diperistri Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Dara Petak melahirkan Jayanegara yang meneruskan kekuasaan di Majapahit. Dara Jingga melahirkan Adityawarman setelah diepristri Adwayawarman, sekalipun versi lain masih mempertanyakan siapa ayah Adityawarman.
Namun, yang pasti, Adityawarman lebih dulu digodok di Majapahit sebagai menteri dengan posisi penting, dan pernah dikirim sebagai perwakilan ke China. Peran Adityawarman yang penting terlihat tatkala bersama Gajah Mada dan Arya Tadah memadamkan pemberontakan Sadeng tahun 1331.
Adapun pemindahan pusat kerajaan dari hulu Sungai Batanghari ke pedalaman Tanah Datar itu sebelumnya diawali pada masa Ekspedisi Pamalayu. “Jadi saat itu, selain melakukan ekspedisi ke Kerajaan Melayu, dilakukan pula perjalanan hingga jauh ke dalam sehingga yang dilakukan Adityawarman saat memindahkan pusat kerajaan ialah dengan melacak jejak nenek moyang,” ujar Budi.

Jejak matrilineal
Arkeolog dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang, Prof Dr Herwandi, menambahkan, saat Adityawarman menjadi raja Melayu, saat itu juga praktik sistem kekerabatan matrilineal mulai diterapkan. Karena yang melanjutkan kekuasaan Tribhuwanarajamauliwarmadewa ialah Akawarmadewa yang tak lain ialah mamak (paman) Adityawarman. “Ini diperkuat dengan isi prasasti Ombilin, yang menyebutkan Adityawarman bukanlah keturunan raja,” katanya.
Padahal, baik Tribhuwanarajamauliwarmadewa maupun Akawarmadewa masih mewarisi kekuasaan lewat nasab laki-laki. Pendapat bahwa Akawarmadewa merupakan mamak Adityawarman juga ditulis Uli Kozok dalam Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua (2006).
Aditywarman yang sebelumnya dipersiapkan di Majapahit juga mengadopsi sejumlah sistem dari tanah leluhur ayahnya dengan pengubahan istilah, antara lain Basa Ampek Balai dan Rajo Tigo Selo.
Persinggungan dengan sistem kekerabatan matrilineal ini dimungkinkan karena, kata Herwandi, sistem itu sudah dipakai di wilayah Minangkabau sejak masa prasejarah. Hal itu bisa dilihat pada situs kursi batu Balai Adat Guguak di Nagari Guguak, Kabupaten Limapulu Kota, Sumatera Barat. Sejumlah batu menhir disusun dalam formasi U di situs itu. [INGKI RINALDI]

Sumber:
KOMPAS Edisi Sabtu, 22 Juni 2013 

0 komentar:

Posting Komentar