Rabu, 11 September 2013

Andong, Simbol Priayi yang Berubah

“Kusir andong biyen duwe omah gedong … saiki mung kari senthong ..... (Kusir andong dulu punya rumah gedung, kini cuma punya sepetak kamar)”. Itulah sepenggal lirik lagu yang sering terdengar dari warung makan nasi pecel Bu Wiryo di kompleks kampus Universitas Gadjah Mada, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lagu berjudul “Kusir Andong” itu merupakan salah satu lagu karya Neo Akustik, kelompok musik asal Yogyakarta, yang sehari-hari mangkal di warung tersebut dengan mendapatkan imbalan uang.
“Lagu itu diciptakan sesepuh kami, seorang pemusik keroncong, almarhum Giyono. Kepada kami, dia meninggalkan wasiat tentang latar belakang penciptaan lagu tersebut dan pandangannya tentang kusir andong yang kini semakin terpuruk,” ujar Dwi Nugroho, salah seorang personel Neo Akustik, saat ditemui di warung yang berdiri sejak 1959 itu.
Menurut Dwi, lagu itu mengisahkan nasib andong atau kereta kuda beserta kusirnya yang hidupnya kini berbalik 180 derajat dibandingkan pada masa lalu. Kusir andong yang dulunya merupakan simbol status sosial seorang priayi Jawa, yang terhormat dan kaya raya – khususnya di Yogyakarta – kini hanya menjadi rakyat jelata. Mereka dulu dikenal sebagai priyagung (orang besar karena kekayaannya, bukan pangkatnya), sekarang hidup benar-benar pas-pasan dan hanya sebagai rakyat biasa.
Andong yang masih menghiasi jalanan di Yogyakarta memang telah berubah fungsi. Selain sebagai alat transportasi turisme dan bakul pasar, andong juga menjadi sarana kegiatan kesenian, serta aksesori rumah dan hotel. Namun, nasib kusirnya tetap marjinal. Di jalanan, mereka harus mencari uang siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan hidup. “Padahal, pada zaman dahulu, andong milik para priayi yang kalau disewa sehari saja bisa untuk makan seminggu,” ujarnya.
Berubahnya simbol priayi bagi kusir tampaknya sejalan dengan cerita tentang turangga. Dwi mengatakan, salah satu ciri priayi Jawa pada waktu itu yakni selalu memilki turangga atau kuda. Saat itu, kuda menjadi cerita pelengkap bagi seorang priayi Jawa. Jika Priayi tanpa turangga, berarti dia bukan lagi priayi.

Perkembangan andong
Manggalayudha Keraton Yogyakarta Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudhaningrat yang menaruh perhatian terhadap perkembangan andong menyatakan, istilah andong sebenarnya hanya ada di Yogyakarta. Andong awalnya bukan seperti kereta kuda. Bentuk andong waktu itu lebih pendek, tetapi tetap beroda dua. Sebab, jalan di Kota Yogyakarta saat itu sempit. Penumpangnya pun hanya satu orang. “Namun, sekarang hampir semua bentuk andong berubah menjadi kereta meskipun sebutannya tetap andong,” ujar Yudhaningrat, yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta.
Sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1920), andong yang semula sepenuhnya kendaraan milik Keraton Yogyakarta mulai digunakan masyarakat, tetapi masih terbatas. Saat itu, andong digunakan raja hingga ke bawahannya di tingkat wedana untuk meninaju desa-desa.
Namun, pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939), andong boleh dimiliki warga biasa, terutama untuk perdagangan. Sejak saat itu, pembuatan adong semakin marak. “Ada dua perusahaan pembuat andong asal Belanda yang ada di Indonesia, yaitu Barendsch di Semarang dan Yo Hap di Yogyakarta,” ujar Yudhaningrat.
Setelah munculnya dua perusahaan Belanda, pembuatan andong pelan-pelan dipelajari kaum pribumi. Namun, karena masih sulit, harganya menjadi mahal sehingga para pemodalnya menjadi priayi-priayi baru.
Di Yogyakarta, ujar Yudhaningrat, banyak bermunculan pengusaha andong yang pada waktu itu boleh disebut seperti pengusaha taksi.
“Ada yang sampai memiliki 10 andong yang kemudian disewakan sebagai alat transportasi penumpang atau untuk mengangkut barang-barang dagangan. Dengan andong, status sosial mereka menjadi meningkat,” ujarnya.
Namun, dalam perkembangannya, andong semakin lama semakin terdesak oleh adanya angkutan modern seperti bus kota dan taksi. Usaha para priayi pun tak bisa dipertahankan. Mereka banyak menjual andongnya karena tak kuat membiayai perawatan yang waktu itu relatif mahal. “Memberi makanan kuda dengan rumput saja biayanya sangat mahal. Para pengusaha andong pun semakin terpuruk dan akhirnya bangkrut,” ujarnya.
Pada tahun 1990, jumlah andong yang tercatat di Yogyakarta mencapai sekitar 700 buah. Jumlah it uterus menurun karena banyak yang dijual keluar Yogyakarta. Misalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membeli 50 andong untuk melayani wisatawan di Taman Monumen Nasional.
Meskipun di Yogyakarta sekarang tidak lagi memberikan kehidupan yang berlimpah bagi pemiliknya seperti dulu, andong masih tetap memberikan kehidupan kepada pemiliknya dan kusir andong.
“Bagi kita, yang penting sekarang adalah usia andong yang lebih dari 50 tahun. Inilah yang perlu dijaga kelestariannya,” kata Yudhaningrat, yang juga Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia Provinsi DI Yogyakarta. [ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN dan THOMAS PUDJO WIDIJANTO]

Sumber:
KOMPAS Edisi Sabtu, 15 Juni 2013 hal. 1 & 15

0 komentar:

Posting Komentar