Rabu, 11 September 2013

Candi Sumberawan

Candi Sumberawan terletak di Dukuh Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosasri, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini kurang lebih 6 Km dari Candi Singosari.
Untuk menemukan candi ini, pengunjung bisa mengikuti papan penunjuk arah dari perempatan di dekat Candi Singosari ke arah utara. Namun, menjelang lokasi Candi Sumberawan, pengunjung akan sedikit tidak yakin untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi candi tersebut. Karena selain papan penunjuk arah yang begitu kecil juga jalan yang menuju ke sana kurang meyakinkan mengingat jalannya kecil laksana pematang sawah (galengan) di sepanjang sungai kecil yang mengalir deras dan jernih.
Akan tetapi, setelah sampai di lokasi, pengunjung akan berdecak kagum akan pemandangan di sekitar Candi Sumberawan. Sederetan pepohonan pinus dengan semilir angin Gunung Arjuna yang diselingi pohon-pohon besar menjulang, menambah eksotisme lokasi tersebut. Seraya menghilangkan capek usai perjalanan, pengunjung bisa menikmati keindahan telaga yang berada di dekat Candi Sumberawan.
Konon, telaga yang begitu bening airnya inilah yang menjadi cikal bakal muncul penamaan sebuah perkampungan di sekitar candi. Dulu masyarakat setempat menyebutnya rowoan, banyak sumber air yang membentuk rawa. Keadaan inilah yang memberikan nama Candi Rawan, candi yang terletak di sebuah rawa atau telaga. Dan, akhirnya perkampungan di sana dinamai Sumberawan, yang berasal dari kata sumber dan rawan. Sumber dalam bahasa Jawa memiliki mata air dan rawan berasal dari kata rowoan.


Candi Sumberawan terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 meter, lebar 6,25 meter, dan memiliki ketinggian 5,23 meter. Candi ini dibangun pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1845 oleh orang Belanda dan kemudian berturut-turut dilakukan penelitian pada tahun 1904 dan 1928. Pada tahun 1933 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala Hindia Belanda dan pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief.
Candi ini terdiri dari kaki dan badan berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga pada puncaknya dulu tidak dipasang atau dihias dengan paying atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali.
Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasa digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi hanya bentuk luarnya saja yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut adalah stupa.
Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikan sebagai tempat pemujaan. Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasuranggan, sebuah nama yang terkenal di dalam Kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 Masehi, sewaktu beliau mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoda (stupanya) dapat diperkirakan bahwa Candi Sumberawan dibangun sekitar abad 14 hingga 15 Masehi, yaitu pada periode Majapahit. Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhistis. *** [310813]

0 komentar:

Posting Komentar