Kamis, 12 September 2013

Benteng Martello

Benteng Martello terletak di salah satu ujung Pulau Kelor. Pulau Kelor merupakan salah satu pulau di dalam gugusan Kepualaun Seribu, yang secara adminstiratif masuk dalam wilayah Pemerintah DKI Jakarta. Pulau mungil tak berpenghuni itu terletak tidak jauh dari Pulau Bidadari, Pulau Kelapa, dan Pulau Onrust. Konon, nama ‘kelor’ ini lantaran pulau ini tidak begitu lebar alias selebar daun kelor. Nama sebenarnya pulau ini adalah Pulau Kherkof, dan termasuk dalam kawasan cagar budaya Pulau Onrust.
Pulau Kelor seolah-olah merupakan dunia lain yang sunyi di tengah deburan ombak. Tidak ada tempat berteduh, kecuali bekas benteng mungil VOC bernama Martello dan empat pohon besar yang melindunginya. Selebihnya hanyalah pasir putih, pemecah ombak, jalan setapak yang telah di beton, puluhan bibit pohon yang mulai tumbuh, dan semak belukar. Namun, semenjak bulan Agustus, Pulau Kelor dan benteng Martello ini tiba-tiba menjadi headline di sejumlah media, baik media cetak, media maya maupun media audiovisual. Hal ini lantaran adanya pernikahan pasangan artis Rio Dewanto-Atiqah Hasiholan di Benteng Martello pada Sabtu, 24 Agustus 2013.
Benteng Martello terbuat dari batu bata merah. Warnanya menjadi tembaga jika terkena sinar matahari sore. Benteng bulat itu anggun dan cantik. Namun, di luar keanggunannya ia tetaplah bagian dari sejarah gelap peperangan. Dari lubang-lubang besar itu meriam-meriam Belanda bisa diputar 360 derajat dan memuntahkan peluru ke kapal-kapal Portugis yang akan menyerang Batavia pada abad ke-17. Kala itu, benteng ini berfungsi sebagai garda terdepan untuk menangkal serangan dari Portugis, Inggris, Spanyol bahkan perompak yang mengganas di daerah Teluk Jakarta. Namun sekarang, benteng ini kini sudah mengalami kerusakan di sana sini. Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 diperkirakan ikut andil dalam meruntuhkan beberapa bagian bangunan dalam benteng tersebut.
Pulau Kelor biasa disebut sebagai Pulau Kuburan. Di pulau ini, sejumlah tahanan politik Belanda yang dihukum mati di Pulau Cipir dan Onrust, dikuburkan di sini. Di pulau ini juga terdapat  kuburan pemberontak Kapal Tujuh atau Seven Provincien serta awak kapal berbangsa Indonesia yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda yang semakin dikikis habis oleh ombak, sehingga tulang belulang terangkat dan berserakan.
Perjalanan menuju ke Pulau Kelor bisa ditempuh dari sejumlah kawasasn di Jakarta, seperti Marina Ancol, Muara Angke maupun Muara Kamal. Jaraknya yang hanya sekitar 2 kilometer dari Ancol memakan waktu 30 menit.
Pada tahun 1980-an Pulau Kelor memiliki luas sekitar 1,5 hektar namun kini luasnya tidak mencapai 1 hektar. Kendati terus menyempit lahan di Pulau Kelor lantaran abrasi, namun demikian pulau ini menyimpan heritage building yang menawan. Sudah sepantasnyalah bila Pemprov DKI Jakarta memikirkan upaya penyelamatannya dengan langkah-langkah yang nyata dan jelas. ***

0 komentar:

Posting Komentar