Selasa, 04 Desember 2012

Candi Singasari

Candi Singasari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, atau sekitar 15 kilometer timur laut Kota Malang. Dari jalan raya Malang – Surabaya sekitar 250 meter. Candi ini berada pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna dengan ketinggian 512 di atas permukaan laut. Candi ini juga dikenal dengan Candi Menara, nama yang menunjukkan bahwa Candi Singasari merupakan candi tertinggi pada masanya.
Candi ini ditemukan pada awal tahun 1900-an dalam keadaan sudah rusak, terutama pada bagian puncak menara.


Candi ini merupakan petilasan Prabu Kertanegara, yang lokasinya tidak jauh dari petilasan tempat mandinya Ken Dedes. Selain itu, tidak begitu jauh dari candi juga ditemukan sepasang arca yang sangat besar, yaitu arca Gupala dan arca Dwarapala. Kedua arca tersebut terbuat dari batu andesit utuh. Kedua arca yang dibangun sangat besar, dan berujud raksasa (buta) itu, oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai Mbah Buta.
Candi Singasari dibangun berdenah empat persegi dengan ukuran 13,84 x 18,34 meter. Struktur candi ini terdiri atas batur (pondasi candi), badan candi, dan atap candi.
Kaki candi ini memiliki keistimewaan bila dibandingkan dengan candi-candi lainnya, yaitu memiliki ruangan, bilik, dan memakai ‘penampil’ di setiap sisinya. Biasanya, keadaan yang demikian terdapat di badan candi. Pintu masuk berada di sebelah barat, diapit oleh relung-rekung kecil. Setiap ‘penampil’ kaki candi ditemukan relung-relung kecil yang berisi arca, serta memiliki atap sendiri-sendiri yang terpisah dengan badan candi, seperti mengitari atap pusat candi yang lebih tinggi. Kepala Kala menjadi hiasan setiap relung pintu.


Atap utama candi terdiri atas tiga tingkatan. Teratas berwujud kubus, wujudnya atap penampil sama dengan atap pusat. Sayangnya, atap tersebut telah ambruk. Pemugaran candi dilakukan pada tahun 1934 dan selesai sampai tahun 1936, sehingga berbentuk sekarang.
Berdasarkan Kitab Negarakertagama dan prasasti Gajah Mada (1351 M) yang terdapat di halaman kompleks candi, Candi Singasari merupakan tempat pendharmaan Raja Kertanegara, yaitu raja terakhir Kerajaan Singasari yang wafat pada tahun 1292 M, akibat penyerangan Jayakatwang. Pembuatan candi ini bersamaan dengan waktu diadakan upacara sraddha (upacara untuk memperingati 12 tahun sesudah Raja Kertanegara wafat) atau tahun 1304 M, masa pemerintahan Raden Wijaya (menantu Kertanegara yang merupakan pendiri Majapahit atau Raja Majapahit I).
Awalnya, Candi Singasari terdiri atas 1 candi induk dan 5 bangunan suci lainnya (candi perwara). Tetapi, 5 bangunan suci tersebut kini tinggal pondasinya saja.
Di ruangan utama kaki Candi Singasari ditemukan yoni. Namun tidak begitu jelas arca apa tadinya berada di ruangan tersebut, lantaran sekarang sudah kosong. Arca Durga berada di relung sebelah utara. Ganesha berada di sebelah timur, Agastya (selatan). Selain arca Agastya, semua arca Candi Singasari sekarang berada di Museum Leiden, Belanda.
Pada tahun 1804, arca diambil dari candi, lalu pada tahun 1819 arca-arca tersebut dibawa ke Negara Belanda. Relung-relung di sebelah kanan kirinya pintu candi yang dulunya berisi arca Mahakala dan Nandiswara, sekarang juga sudah kosong.
Di kaki Candi Singasari juga terdapat saluran di bawah lantai bilik, di mana aliran airnya menuju ke utara. Mungkin, dahulu dipergunakan untuk mengalirkan air pembasuh lingga yoni ke suatu pancuran. Jadi, Candi Singasari seperti “lingga”.
Relung-relung di badan candi tidak ada arcanya. Menurut WF Stutterheim, relung-relung tersebut berisi arca dari ‘Pantehon Buddha’. Pendapat ini ditentang oleh Jessie Blom, dengan alasan arca-arca tadi tidak pernah ditemukan. WF Stutterheim berkeyakinan bahwa Candi Singasari memiliki sifat ‘Siwabudha’.
Menurut JLA Brandes, bila dilihat dari seni pahatannya, candi tersebut tergolong hasil kesenian Singasari. Lebih muda ketimbang Candi Jago. Bernet Kempres berpendapat bahwa Candi Singasari dibangun tahun 1300 Masehi. *** [280112]

Kepustakaan:
  • MEKAR SARI edisi 2 Agustus 1989 hal. 12 – 13.
  • Wiratna Sujarweni, 2012, Jelajah Candi Kuno Nusantara, Jogjakarta: DIVA Press.

0 komentar:

Posting Komentar