Selasa, 04 Desember 2012

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Awalnya, masjid ini dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima. Berdasarkan catatan yang ada di masjd tersebut, masjid ini dibangun pada tahun 1770 Masehi oleh Sultan Abdul Kadim Zillullah Fil. Alam, Sultan Bima ke-8 dengan Wajir Ismail. Pembangunan selanjutnya dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid, yang merubah atap masjid tersebut menjadi bersusun tiga yang mirip dengan Masjid Kudus.
Masjid ini terletak di Kampung Sigi, Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, atau tepatnya berada di tenggara Museum Asi Mbojo.


Konsepsi tata letak bangunan istana, masjid dan alun-alun Serasuba tidak jauh berbeda dengan konsep tata letak kota lainnya di Indonesia. Masing-masing unsur membentuk satu kesatuan yang utuh antara pemerintahan (istana), religi (masjid), dan masyarakat (alun-alun). Alun-alun Serasuba berasal dari kata sera dan suba. Sera berarti tanah lapang, dan suba secara harfiahnya bermakna tombak, yang dikonotasikan dengan perintah atau titah. Jadi, alun-alun Serasuba dulu didirikan sebagai tempat untuk perintah yang dilakukan oleh Sultan Bima kepada rakyatnya.
Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Pemugaran masjid dilakukan kembali oleh Sultan Bima terakhir, Sultan Muhammad Salahuddin, sehingga masjid ini akhirnya diberi nama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin. Di sebelah barat masjid terdapat kuburan sultan dan keluarga Sultan Bima, termasuk kuburan Sultan Abdul Kadim, pendiri masjid tersebut.


Namun, masjid ini kembali dihancurkan oleh bom Sekutu pada masa Perang Dunia II tahun 1943.  Hanya mihrabnya yang tersisa sebagai sebuah kenangan sejarah. Kini masjid tersebut telah direnovasi kembali sesuai bentuk aslinya oleh Puteri Hj. Siti Maryam binti Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima ke-14 pada tahun 1990.
Menelusuri kesejarahan masjid ini, sudah selayaknya bila Masjid Sultan Muhammad Salahuddin dijadikan sebagai salah satu benda cagar budaya di Kota Bima, dan menjadi saksi bisu pasang surut perkembangan dan kemajuan Islam di Bima. Selain itu, masjid ini bisa diajdikan ikon wisata andalan di Bima. ***

6 komentar:

  1. Kalau ke Bima mampirlah untuk shalat di Masjid ini

    BalasHapus
  2. Kalau ke Bima, mampirlah untuk shalat di Masjid bersejarah ini.....

    BalasHapus
  3. Kalau ke Bima, mampirlah untuk shalat di Masjid bersejarah ini.....

    BalasHapus
  4. Kalau ke Bima mampirlah untuk shalat di Masjid ini

    BalasHapus
  5. Bang Khairun, alhmadulillah pada Agustus 2010 saya berkesempatan shalat di masjid ini. Sehabis shalat itulah, saya mendapatkan info mengenai sejarah masjid ini. Waktu sekalian, mampir ke Museum Asi Mbojo

    BalasHapus
  6. Mohon infonya masjid2 bersejarah di Bima, selain masjid di atas.
    trimakasih

    BalasHapus