Selasa, 29 Oktober 2013

Makam Al-Malik Ash-Shalih

Makam Al-Malik Ash-Shalih atau Malikussaleh terletak di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Lokasi makam ini berada di pemakaman Kesultanan Samudra Pasai Periode I, yang berjarak sekitar 17 Km sebelah timur Kota Lhokseumawe.
Nisan makam ini terbuat dari batu granit yang beraksara Arab. Lewat inskripsi pada nisan makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih, para arkeolog maupun sejarawan bisa mengidentifikasi siapa yang bersemayam di situ. Inskripsi tersebut bila diterjemahkan, isinya kurang lebih seperti ini: “Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, yang bertaqwa lagi pemberi nasihat, yang berasal dari keturunan terhormat dan terkenal lagi pemurah, yang ahli ibadah dan pembebas, yang digelar dengan Sultan Malik Ash-Shalih, yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 696 sejak perpindahan (hijrah) Nabi [SAW]. Semoga Allah melimpahkan rahmat ke atas pusaranya dan menjadikan syurga sebagai tempat kembalinya.”
Catatan otentik yang singkat padat itu mengungkapkan dengan jelas bahwa Sultan memiliki kepribadian yang berimbang, seorang yang baik sekaligus menginginkan kebaikan untuk orang lain.
Begitulah seorang penguasa yang agung dan berpengaruh, dan adalah berkat jasa-jasa para penguasa semisalnya, Islam menyebar dan menerangi kawasan yang luas di Asia Tenggara.



Latar Belakang Sejarah
Legenda menyebutkan tentang Meurah Silu yang setelah memeluk Islam berubah nama menjadi Al-Malik Ash-Shalih atau masyarakat setempat melafalkannya menjadi Malikussaleh, sebuah nama yang biasa digunakan Dinasti Ayyubiyah di Mesir.
Konon, suatu hari Meurah Silu bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia memutuskan untuk masuk Islam. Beliau diangkat menjadi Sultan di Kerajaan Samudra Pasai oleh Laksamana Laut dari Mesir bernama Nazimuddin Al-Kamil.
Sultan Al-Malik Ash-Shalih merupakan pendiri Kerajaan Samudra Pasai, sebuah Kerajaan Islam di Nusantara. Beliau menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Peureulak yang bernama Ganggang Sari, dan memerintah sejak 1270 M hingga 1279 M. Dari perkawinannya, beliau memiliki dua putra yaitu Al-Malik Azh-Zhahir dan Malikul Mansyur.
Pertengahan abad ke-14 M, Ibnu Baththuthah, musafir Islam terkenal asal Maroko, pernah mengunjungi kota kesultanan Samudra Pasai yang disebut dengan Sumuthrah, lantas ia mencatat dalam laporannya: “Sumuthrah adalah sebuah kota besar dan indah, dikelilingi benteng dan menara-menara terbuat dari kayu.” *** [300913]

0 komentar:

Posting Komentar